Catat! Ini Tiga Narasi yang Dipropagandakan Pengusung Khilafah


Tangerang Selatan - Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara menjelaskan, setidaknya ada tiga narasi yang terus dikampanyekan oleh para pengusung khilafah. Pertama, khilafah Islam diyakini sebagai kepemimpinan yang estafet dari khulafaur rasyidin hingga Turki Usmani. Para pengusung khilafah menyakini bahwa perpindahan kekuasaan dari suatu khilafah dengan yang lainnya berjalan mulus.

“Sebetulnya dari satu rezim ke rezim lain itu berdarah-darah,” kata kata Robi dalam sebuah diskusi di Sekretariat Islam Nusantara (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (14/7).

Misalnya, perpindahan kekuasaan Islam dari khilafah Umayyah ke Abbasiyah. Ada banyak yang mengalir dalam perebutan itu. Begitu pun dengan khilafah-khilafah setelahnya. Namun demikian, Robi menegaskan bahwa pada saat itu memang seperti itu mekanisme perebutan kekuasaannya.

“Bukan Islamnya kejam, tapi trennya seperti itu. Itu sesama Muslim, tidak sesederhana itu khilafah,” tegasnya.

Kedua, khilafah adalah produk syariah. Para pengusung khilafah meyakini dan menyebarkan bahwa khilafah adalah produk syariah sehingga seluruh umat Islam wajib mewujudkannya. Mereka menggunakan agama sebagai tameng. Jika ada yang menyerang khilafah, maka pengusung khilafah tidak segan-segan menuduhnya telah menyerang Islam. 

“Ketiga, khilafah akan membawa kejayaan umat Islam di dunia. Apapun persoalannya, khilafah solusinya,” jelas Dosen UIN Jakarta ini.

Robi berpendapat, adalah mustahil mengoordinasikan seluruh umat Islam di seluruh dunia –yang jumlahnya milyaran- dengan satu komando kekuasaan dalam bidang politik. 

“Inilah kira-kira yang menyebabkan Indonesia tidak membutuhkan khilafah,” tukasnya. (Muchlishon)

Sumber: NU Online

Konferensi Internasional Wasathiyyah dan Moderasi Beragama Hasilkan Deklarasi Baghdad

Deklarasi Baghdad
Baghdad - Konferensi Internasional tentang Wasathiyyah dan Moderasi beragama menghasilkan rumusan Deklarasi Baghdad. Ada 10 rumusan yang dihasilkan dalam konferensi yang berlangsung di hotel Royal Tulip Al-Rasheed, Green Zone, Baghdad, Irak,  26-27 Juni 2018.

Konferensi ini diikuti utusan dari 20 negara, termasuk Indonesia. Ada tujuh delegasi dari Indonesia,  yaitu: Muchlis M Hanafi (Ketua Delegasi, mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin), Muhyiddin Junaidi (MUI), Ikhwanul Kiram Masyhuri (Alumni Al Azhar), Saiful Mustafa (UIN Maliki Malang/NU), Fathir H Hambali (Alumni Syam), Auliya Khasanofa (Muhammadiyah/UMT), dan Thobib Al-Asyhar (Kemenag).

Menurut Muchlis Hanafi,  Deklarasi Baghdad dibacakan bersama oleh perwakilan 20 negara pada penutupan konferensi. Pembacaan deklarasi dipimpin oleh Utusan Khusus Grand Syeikh Al Azhar dan Ketua Delegasi Mesir Prof Dr. Hamid Abu Thalib. 

"Deklarasi Baghdad menyuarakan kesepahaman bersama untuk terus mengkampanyekan Islam Wasathiyah. Juga menjadi komitmen bersama dalam sinergi melawan ekstremisme dan terorisme," terang Muchlis Hanafi sekembalinya ke Tanah Air,  Jumat (29/06) 

Menurut Muchlis, Deklarasi Baghdad juga menegaskan kedudukan al-Quds (Yerusalem) sebagai milik bangsa Arab dan selamanya akan menjadi ibu kota perdamaian dan kerukunan umat beragama. 

"Peserta konferensi menolak klaim sepihak dari zionis Israel yang menjadikan Yerusalem sebagai ibu kotanya, dan mengajak ulama Islam untuk menolak keputusan yang nista tersebut," jelasnya. 

Berikut ini 10 rumusan Deklarasi Baghdad:
1. Membentuk koalisi internasional untuk membuat konsep dan strategi operasional tentang Islam yang wasathiyah.
2. Menggalang kerja sama internasional untuk memastikan keberhasilan melawan ekstremisme dan terorisme.
3. Membentuk lembaga pemikiran (kajian) untuk mengkaji kembali dan meluruskan sejarah yang telah memicu perselisihan dan perpecahan di masa lalu, tanpa mengabaikan hal-hal yang prinsip dalam kehidupan umat.
4. Mencarikan solusi terhadap gap permasalahan antara modernitas dan Islam secara obyektif sesuai dengan konteks kekinian.
5. Meluruskan pemahaman yang salah tentang Islam sebagai agama ekstrem/radikal dan teroris dengan menegaskan bahwa teorisme tidak terkait dengan etnis, agama, maupun aliran tertentu.
6. Membuat situs-situs keislaman yang menekankan pada prinsip wasathiyah dan moderat yang jauh dari ekstrem.
7. Membuat majalah/jurnal pemikiran Islam moderat. 
8. Membentuk komite tinggi ulama yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan luas, yang menginduk kepada kementerian wakaf/agama dan tersebar di kota-kota negara Islam, untuk memantau isu yang tersebar dan apa yang disampaikan para penceramah, serta meresponnya sebelum viral sesuai prinsip ajaran Islam.
9. Menegaskan kedudukan al-Quds (Yerusalem) sebagai milik bangsa Arab dan selamanya akan menjadi ibu kota perdamaian dan kerukunan umat beragama.
10. Peserta konferensi menolak klaim sepihak dari zionis Israel yang menjadikan Yerusalem sebagai ibu kotanya, dan mengajak ulama Islam untuk menolak keputusan yang nista tersebut.
(Thobib) 

Sumber: Kemenag

Permohonan Maaf Langsung Mamah Dedeh soal Islam Nusantara

Mamah Dedeh
Jakarta - Akhir-akhir ini jejak digital pernyataan Mamah Dedeh tentang Islam Nusantara kembali viral di media sosial. Pernyataan dalam video yang disampaikannya pada salah satu acara di stasiun TV swasta nasional tersebut merekam pernyataan Mamah Dedeh yang menyebut Islam Nusantara perlu dicoret.

Menyikapi hal ini, Mamah Dedeh mengaku salah paham terhadap konsep Islam Nusantara dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Permohonan maaf tersebut disampaikannya pada Acara Mamah dan AA Beraksi secara live (langsung) baru-baru ini di stasiun TV yang sama.

"Kepada yang terhormat PBNU dan seluruh warga Nahdliyin di negara kita tercinta ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahpahaman dan pernyataan saya tentang Islam Nusantara. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya semoga kita mendapatkan rahmat keberkahan dari Allah SWT," ucapnya.

Sebelumnya juga pada Selasa (3/7), perwakilan anggota keluarga Mamah Dedeh juga telah meminta maaf atas ceramah Mamah Dedeh yang cenderung tergesa-gesa dan berlebihan menafsirkan tentang konsep Islam Nusantara.

KH Thobary Syadzily yang mewakili keluarga menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan Mamah Dedeh yang menurutnya masih termasuk salah satu pengurus Muslimat NU Depok. 

Kiai Thobary menjelaskan bahwa dalam menyikapi suatu persoalan, orang bijak mesti mengedepankan akhlak mulia. Dan jika menilai seseorang bukan dari kesalahan atau kejelekan yang diperbuatnya, tapi dari amal kebajikan yang telah dia lakukan. 

Oleh karenanya, masalah kesalahan dakwah yang telah dilakukan Mamah Dedeh tentang amaliah NU dan Islam Nusantara tidak perlu diperpanjang apalagi sampai timbul perpecahan dan permusuhan.

"Saya sebagai wakil keluarga dari beliau, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang telah dilakukan di dalam dakwahnya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Mungkin itu karena ketidaktahuannya atau ada potongan setting sehingga terjadi misunderstanding alias salah paham," katanya. (Red: Muhammad Faizin)

Sumber:  NU Online

Jombang Cabang NU Pertama Hasil Eksperimen Mbah Hasyim

Jombang dapat dikatakan sebagai daerah yang menjadi rahim dari lahirnya Nahdlatul Ulama. Meski secara de facto, NU didirikan dalam sebuah pertemuan para kiai di Surabaya, tapi founding fathers-nya berasal dari Jombang. Sebut saja Rais Akbar Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Ia lah aktor utama yang menentukan berdiri tidaknya NU. 

Ada pula Kiai Abdul Wahab Hasbullah. Meski setelah menikah, ia tinggal di Surabaya, sejatinya ia berasal dari Jombang. Dengan kegigihan Kiai Wahab lah, organisasi yang menjadi wadah ulama Ahlussunnah wal Jama'ah itu bisa terwujud. 

Tak ketinggalan juga Kiai Bisri Syansuri dari Denanyar Jombang. Kelak, kontribusinya dalam mengembangkan NU tak bisa dianggap enteng. Ketiganya adalah triumat NU asal Jombang yang secara bergantian menduduki posisi puncak kepemimpinan NU secara bergantian. 

Posisi Jombang yang demikian penting itu, tak ayal jika daerah tersebut dijadikan sebagai cabang NU yang pertama. Klaim pertama ini, tentu bukan tanpa alasan dan bukti. 

Berdasarkan data-data yang ada, NU mulai mendirikan cabang di daerah baru memasuki tahun ketiga. Pada muktamar pertama (1926) sampai muktamar kedua (1927) catatan tamu yang hadir bukanlah utusan cabang sebagaimana yang dikenal saat ini. Tapi, tertulis berdasarkan nama yang hadir. 

Baru pada muktamar ketiga lah, daftar tamu sebagai utusan cabang mulai ditemukan. Dalam muktamar yang dilaksanakan di Surabaya, 23 - 25 Rabiuts Tsani 1347 H/ 28 - 30 September 1928 itu, tercatat ada 35 Cabang NU yang hadir (Choirul Anam: 1984).

Jika demikian, lantas daerah manakah yang pertama kali mendirikan Cabang NU? Jombang jawabannya. Setidaknya hal ini merujuk pada pemberitaan di Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) Nomor 9 Tahun I Ramadan 1346 H. Berita di media resmi Hoofd Bestuur NU itu, menuliskan tentang keinginan Mbah Hasyim Asy'ari untuk mendirikan cabang di daerah. 

"Ing sak lebete sasi Dzulqaidah hadihis sanah, panjenenganipun Kiai Hasyim Tebuireng sanget hanggenipun haringka daya kados pundi wagedipun jam'iyah Nahdlatul Ulama hanggadai cabang nang pundi-pundi panggenan," tulis SNO dalam bahasa Jawa dan aksara Pegon. (Di dalam bulan Dzulqaidah tahun ini, Kiai Hasyim Tebuireng mengupayakan segala tenaga agar bagaimana jam'iyah Nahdlatul Ulama memiliki cabang di berbagai tempat)

Keinginan tersebut, tak berhenti hanya pada tataran ide. Kiai Hasyim lantas bereksperimen untuk mewujudkan. Masih dari sumber yang sama, pada Kamis malam, 14 Dzulqaidah 1346 H/ 4 Mei 1928, Kiai Hasyim menggelar open baar (rapat umum) di Masjid Jami' Kauman, Jombang. Ada sekitar 600 hadirin yang datang dari berbagai elemen masyarakat. Tidak hanya kiai Jawa, tapi juga habaib dari seantero Jombang. 

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Hasyim memaparkan tentang kondisi terkini. Di mana saat itu, mulai munculnya sekelompok orang yang mengusik keberadaan Islam. Mereka mengaku Islam, akan tetapi membid'ahkan, bahkan mengkafirkan saudaranya sesama muslim. Tak hanya itu, mereka kerap kali menghina kalangan habaib. 

Menurut Kiai Hasyim, kejadian tersebut perlu disikapi dengan menjaga persatuan semua elemen ahlussunnah wal jamaah untuk menghadapinya. Persatuan itu sendiri adalah dengan menggabungkan diri pada organisasi NU. 

Lantas, diuraikanlah apa maksud dan tujuan didirikannya NU oleh Kiai Bisri Syansuri yang menjadi panitia pertemuan tersebut. Dari sanalah, kemudian disepakati untuk mendirikan Cabang NU pertama, yakni Cabang NU Jombang. 

Setelah mendapatkan kemufakatan dari jumhur ulama Jombang, malam itu juga diadakan musyawarah di kediaman Habib Muhsin bin Hasan yang tak jauh dari masjid. Ada 150 tokoh yang hadir pada rapat susulan tersebut. Tujuannya tak lain adalah melanjutkan hasil pertemuan di masjid. Yakni, rapat pemilihan kepengurusan Cabang NU Jombang. 

Dari pertemuan tersebut, lantas terpilihlah susunan kepengurusan sebagai berikut:

Mustasyar: 
KH Hasyim Asy'ari
Habib Muhsin bin Hasan ats-Tsaqaf

Rais : Kiai Anwar Pacul Gowang
Wakil Rais : Kiai Abdullah Maksum
Katib : Kiai Maksum Kuaran
Wakil Katib : Kiai Bisri Syansuri Denanyar

A'wan: 
Kiai Ya'qub Sambung, Kiai Abu Ahmad Anjalak, Kiai Abdul Rouf Jagalan, Kiai Mah, Kiai Umar Suud, Kiai Shodiq dan Kiai Hasbullah Denanyar. 

Sedangkan di jajaran tanfidziyah sebagai berikut:

Ketua : Haji Asy'ari
Wakil Ketua : Haji Sofwan
Sekretaris : Mas Surataman Kauman
Wakil Sekretaris : Mas Mashudi Kauman
Bendahara : Haji Yusuf Kauman
Wakil Bendahara: Haji Syukron Kauman

Pembantu:
H Abdul Aziz Denanyar, H Nur Ali Denanyar, H Hasyim Kauman, H Maksum Jagalan, H Abdul Latif Kauman, H Bahri Kauman dan Mas Ruh Kauman. 

Semenjak pendirian Cabang Jombang itu, NU ngebut untuk mendirikan cabang di daerah lain. Dalam kurun waktu empat bulan, NU telah mendirikan sedikitnya 35 cabang di Jawa dan Madura. 

Setelah disepakati berdirinya defisi propaganda yang bernama "Lajnatun Nashihin" pada muktamar ketiga, pendirian cabang-cabang pun semakin gencar. Setahun kemudian, tercatat sudah terdapat 63 cabang. Hingga saat ini, Cabang NU telah berdiri di seantero negeri dan puluhan cabang istimewa di luar negeri. Semuanya bermula dari eksperimen Mbah Hasyim. 

Ayung Notonegoro, penggiat sejarah NU dan pesantren. Kini aktif sebagai kerani di Komunitas Pegon

Sumber: NU Online

Poin Utama Silaturahim Grand Syekh Al-Azhar dengan PBNU

Jakarta - Grand Syekh Al-Azhar, Mesir, Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyeb berkunjung ke Kantor PBNU, Rabu (2/5). Kunjungan ini merupakan rangkaian agenda High Level Consultation of World Moslem Scholars on Wasatiyyah Islam di Bogor, Jawa Barat, 1-4 Mei 2018.

Grand Syekh tiba di Kantor PBNU tepat pukul 18.00 WIB ditemani mantan Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Indonesia yang juga Pakar Tafsir Muhammad Quraish Shihab.

Setibanya di halaman gedung PBNU, Mufti Besar Mesir ini langsung disambut oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, dan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud.

Grand Syekh beserta rombongan lantas diterima di ruang Ketua Umum PBNU di lantai 3 Gedung PBNU. Sekitar 15 menit Ketua Umum PBNU memberikan pengantar dan ucapan selamat datang.

Acara resmi pukul 18.15 WIB di gelar di Aula PBNU di lantai 8. Di ruang berkapasitas 500 orang ini, Grand Syekh disambut dengan sholawat badar. Acara silaturahim Grand Syekh Al-Azhar dengan kiai dan warga NU kemudian diawali dengan pembacaan Al-Fatihah, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon.

Mengawali dialog bertajuk Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia ini, Kiai Said Aqil Siroj sedikit memberikan pengantar dengan menceritakan kronologis sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Kiai Said juga memaparkan keberadaan badan otonom dan lembaga yang bernaung dibawah NU.

Sementara itu, Grand Syekh Al-Azhar menyampaikan beberapa poin utama sebagai berikut:

1. Ucapan terima kasih atas undangan Nahdlatul Ulama dalam rangka memperkuat silaturahim tokoh-tokoh agama.

2. Grand Syekh memaparkan pandangan moderat Al-Azhar di dalam pemikiran agama dan konsep-konsep bernegara.

3. Grand Syekh menegaskan bahwa adanya perbedaan-perbedaan hendaknya menjadi perekat umat Islam. Kita umat Islam, menurut Grand Syekh sudah diajarkan oleh Rasulullah bahwa perbedaan itu akan menjadi rahmat ketika direspon dan disikapi dengan bijak dan tepat.

4. Al-Azhar akan mendorong penguatan Islam moderat yang dilakukan NU. Dan akan bersama-sama dalam memberikan penguatan dan mengampanyekan Islam moderat di dunia. 

5. Grand Syekh menyambut baik rencana kegiatan bersama NU dan Al-Azhar serta siap memberikan beasiswa kepada santri berprestasi untuk studi di Al-Azhar khususnya di jurusan umum bagi perempuan. Termasuk di dalamnya terkait rencana pelaksanaan konferensi internasional bersama.

Selanjutnya, Grand Syekh Al-Azhar berkesempatan berdialog dengan peserta. Berikut beberapa pertanyaan dari peserta dan jawaban Grand Syekh Al-Azhar:

1. Bagaimana Grand Syekh menilai tentang politisasi agama?

Jawaban Grand Syekh: "Politisisasi agama jika tidak dipahami dengan benar akan menimbulkan dua kerugian. Pertama kerugian agama yang menjadi jelek. Kedua, juga politik yang menjadi buruk".

2. Bagaimana pandangan Grand Syekh tentang kelompok yang ingin mendirikan khilafah di dunia?

Jawaban Grand Syekh: "Tentang khilafah Islamiyah bahwa dunia sepakat menolak khilafah Islamiyah. Maka itu sangat sulit untuk terjadi. Hal ini karena masing-masing banyak perbedaan yang sudah tertanam. Adanya perbedaan bagi Grand Syekh justru menjadi keindahan agama Islam".

3. Apakah yang terjadi saat ini ketika ada kelompok Islam yang menuduh kafir diluar kelompoknya?

Jawaban Grand Syekh: "Gerakan radikalisasi dan takfirisasi, mengkafir-kafirkan orang lain itu merupakan kebodohan terhadap memahami ruh dan substansi agama. Grand Syekh dengan tegas mengaku menolak pemahaman agama yang memonopoli kebenaran".

4. Bagaimana menyikapi perkembangan media sosial yang dijadikan benih perpecahan?

Jawaban Grand Syekh: "Kita harus bersama-sama memberikan penguatan moderat Islam melalui media sosial. Karena jika tidak dikelola dengan baik, media sosial akan menjadi penghancur bagi kedamaian". (Red: Fathoni)
Sumber: NU Online

Kunjungan Antar Tokoh Agama dalam Ranah Fiqih

Sumber Gambar: Daily Beast

Hasil Keputusan Bahtsul Masa'il XX

FORUM MUSYAWARAH PONDOK PESANTREN
SE - JAWA - MADURA
PP. Tarbiyatunnasyi'in Paculgowang Jombang, 4-5 Shafar 1431 H./20-21 Januari 2010 M. 

Kerangka Analisis Masalah

Pada Sabtu 9 Mei 2009 tahun lalu Paus Benedictus XVI berkunjung ke Masjid Raya Hussein bin Tala, masjid terbesar di Jordania. Disaat memasuki masjid tersebut, sang Paus tidak melepaskan sepatunya. Bukan karena tak mau, tapi karena dilarang oleh imam masjid lantaran takmirnya sudah menyediakan karpet dan jalur khusus sehingga tidak merusak kesucian masjid. Dalam kunjungannya, pemimpin Katolik tersebut juga meminta agar para pemimpin Kristen Islam dan Yahudi bisa memainkan peran lebih banyak untuk mencapai perdamaian.

Pertanyaan
a. Bagaimana pandangan Islam tentang kunjungan yang sering dilakukan para pemimpin agama sebagaimana dalam deskripsi masalah termasuk kunjungan tokoh umat Islam ke gereja ?
b. Bagaimana hukumnya seorang muslim lebih spesifik takmir masjid memberikan sambutan kepada Paus dengan memasang karpet dan memberikan jalur khusus seperti di atas ?
c. Bagaimana Islam memandang tentang perdamaian antar umat beragama ?
LPI Al-Hamidy Banyuanyar Pamekasan


Jawaban:
a. Diperinci, mengenai kunjungan tokoh kristen ke masjid hukumnya demikian :
Mengacu pada pendapat jumhur syafi’iyyah kunjungan tokoh kristen pada dasarnya tidak diperbolehkan kecuali dengan syarat :
1. Tokoh kristen tersebut bukan kafir harbi (kafir yang memusuhi Islam), seperti kafir dzimmi, musta’man, mu’ahad dan harbi fi dzimmatitta’min.
2. Mendapat izin orang muslim
3. Ada maslahat atau hajat yang menguntungkan bagi ummat Islam

Catatan: Yang berhak memberikan izin bagi tokoh non muslim untuk berkunjung ke masjid-masjid di indonesia adalah pemerintah atau ta’mir masjid.

Sedangkan kunjungan tokoh muslim ke gereja hukumnya demikian:

Tidak diperbolehkan kecuali dengan syarat :
1. Ada izin dari orang kristen
2. Tidak menimbulkan kerugian atau mafsadah bagi umat Islam seperti memberi kesan pada orang awam kebenaran agama mereka, menambah jumlah pemeluk agama mereka, dll
3. Di dalam gereja tidak ada gambar yang dimulyakan

Catatan : Untuk poin syarat ketiga ada sebagian ulama yang menafikan (meniadakan) ketentuan ini sehingga menurut mereka boleh masuk gereja yang ada gambar yang dimuliakan.

b. Boleh selama tindakan tersebut bertujuan untuk menunjukan bahwa agama Islam adalah agama yang beradab dan penuh dengan toleransi.

c. Perdamaian menurut pandangan Islam adalah sesuatu yang sangat dikedepankan sebagai landasan dasar hubungan antar umat beragama selama tidak ada hal-hal yang mendorong pertikaian antar umat beragama dan menghalangi dakwah islamiyyah.
Referensi a:

Referensi :
1.      Fath al-Bari, vol.3, hlm. 279
2.      Raudlah at-Thalibin, vol. 10, hlm 310
3.      Takmilah al-Majmu’, vol. 19, hlm. 437

4.      Syarwany, vol. 12, hlm. 157
5.      Tuhfah al-Muhtaj, vol. 1, hlm. 272
6.      Al-Mawahib al-Madaniyyah bihamisy at-Turmusi, vol. 2, hlm.398

1.      فتح الباري لابن رجب الجزء الثالث  صحـ: 279
"باب دخول المشرك المسجد" وقد اختلف أهل العلم منهم في دخول الكافر المسجد وهو قول أبي حنيفة والشافعي وحكي رواية عن أحمد رجحها طائفة من أصحابنا.قال أصحاب الشافعي : وليس له أن يدخل المسجد إلا بإذن المسلم . ووافقهم طائفة من أصحابنا على ذلك .وقال بعضهم : لا يجوز للمسلم أن يأذن فيه إلا لمصلحة من سماع قرآن ، أو رجاء إسلام ، أو إصلاح شيء ونحو ذلك ، فأما لمجرد الأكل واللبث والاستراحة فلا .ومن أصحابنا : من أطلق الجواز ، ولم يقيده بإذن المسلم .
2.      روضة الطالبين الجزء العاشر  صحـ 310
ولكل كافر دخوله بالأمان وإذا استأذن كافر في الدخول لم يؤذن له إلا لحاجة لأنه لا يؤمن أن يجس أو يطلع على عورة ويتولد من اطلاعه فساد أو يفتك بمسلم ويؤذن له إذا كان في دخوله مصلحة للمسلمين كرسالة وعقد ذمة أو هدنة وإن كان يدخل لتجارة فللإمام أن يأذن له إذا رأى ذلك ويأخذ من تجارته شيئا كما سيأتي إن شاء الله تعالى وإذا دخل لبعض هذه الأغراض فليكن مكثه بقدر الحاجة وليس لكافر أن يدخل مساجد هذه البلاد بغير إذن ولا يؤذن له في دخولها لأكل ولا نوم لكن يؤذن لسماع القرآن أو الحديث والعلم قال الروياني وكذا لحاجته إلى مسلم أو حاجة مسلم إليه وإذا دخل بلا إذن إن كان جاهلا فمعذور ويعرف وإن كان عالما عزر وقيل لا يعزر إلا أن يشرط عليه أن لا يدخل بلا إذن وجلوس القاضي في المسجد إذن للكافر في الدخول وإذا كان له خصومة وهل يفرق بين كونه جنبا وغيره وجهان سبقا في كتاب الصلاة والصحيح الأشهر أنه يكفي إذن آحاد المسلمين في دخول كل المساجد وقال الروياني لا يكفي في الجامع إلا إذن السلطان وفي مساجد القبائل والمحال وجهان أحدهما يشترط إذن من له أهلية الجهاد وأصحهما يكفي إذن من يصح أمانه وإذا قدم وفد من الكفار فالأولى أن ينزلهم الإمام في دار مهيأة لذلك أو في فضول مساكن المسلمين فإن لم يتيسر فله انزالهم في المسجد ويجوز تعليمهم القرآن إذا رجي إسلامهم ولا يجوز إذا خيف استخفافهم وكذا القول في تعليم أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم والفقه والكلام ولا يمنعون من الشعر والنحو قال الروياني ومنعه بعض الفقهاء لئلا يتطاولوا به على مسلم لا يحسنه قلت قال أصحابنا لا يمنع الكافر من سماع القرآن ويمنع من مس المصحف ولا يجوز تعليمه القرآن إن لم يرج إسلامه ويمنعه التعليم على الأصح وإن رجي جاز تعليمه على الأصح  والله أعلم
3.      المجموع الجزء التاسع عشر صحـ 437
(وأما دخول ما سوى المسجد) قلت ويجوز دخول الكافر المسجد بإذن المسلم لقول عطية بن شعبان قدم وفد ثقيف على رسول الله r في رمضان فضرب لهم قبة في المسجد، فلما اسلموا صاموا معه أخرجه الطبراني، ولحديث أبى هريرة الذى أسروا فيه ثمامة بن أثال، ولهذا قالت الشافعية يجوز دخول الكافر ولو غير كتابي المسجد بإذن المسلم إلا مسجد مكة وحرمها.قال النووي في المجموع، قال أصحابنا لا يكن كافر من دخول حرم مكة، وأما غيره فيجوز أن يدخل كل مسجد ويبيت فيه بإذن المسلمين ويمنع منه بغير إذن ولو كان الكافر جنبا فهل يمكن من اللبث في المسجد فيه وجهان أصحهما يمكن اهـ وقالت الحنفية ومجاهد يجوز دخول الكتابى دون غيره لحديث جابر أن النبي r قال (لايدخل مسجدنا هذا بعد عامنا هذا مشرك إلا أهل العهد وخدمهم أخرجه أحمد بسند جيد، وهذا هو الظاهروقالت المالكية (لا يجوز للكافر دخول مسجد الحل والحرم إلا لحاجة) قال العلامة الصاوى يمنع دخول الكافر المسجد وإن أذن له مسلم إلا لضرورة عمل ومنها قلة أجرته عن المسلم على الظاهر.اهـ وقالت الحنبلية (لا يجوز لكافر دخول الحرم مطلقا ولا مسجد الحل إلا لحاجة) قال في كشاف القناع (ولا يجوز لكافر دخول مسجد الحل ولو بإذن مسلم لقوله تعالى (إنما يعمر مساجد الله..) ويجوز دخول مساجد الحل للذمي والمعاهد والمستأمن إذا استؤجر لعمارتها لانه لمصلحتها اهـ وقال عمر بن عبد العزيز وقتادة والمزنى (لا يجوز دخوله مطلقا)
4.      تحفة المحتاج في شرح المنهاج  الجزء الأول صحـ 272
( والقرآن ) من مسلم أيضا ولو صبيا كما مر ولو حرفا منه أي قراءته –إلى أن قال- وخرج بالقرآن نحو التوراة وما نسخت تلاوته والحديث القدسي وبالمسلم الكافر فلا يمنع من القراءة إن رجي إسلامه ولم يكن معاندا ولا من المكث ; لأنه لا يعتقد حرمتهما وإنما منع من مس المصحف لأن حرمته آكد نعم الذمية الحائض أو النفساء تمنع منهما بلا خلاف كما في المجموع وبه يعلم شذوذ مشيهما على مقابله في موضع آخر , وذلك لغلظ حدثهما وليس له ولو غير جنب دخول مسجد إلا لحاجة  مع إذن مسلم مكلف أو جلوس قاض للحكم به ويظهر أن جلوس مفت به للإفتاء كذلك
( قوله فلا يمنع من القراءة إلخ ) تعبيرهم في الكافر بلا يمنع دون لا يحرم قد يشعر بعدم انتفاء الحرمة وهو الموافق لتكليف الكافر بالفروع لكن قضية كون ذلك محترز الحرمة على المسلم هو انتفاء الحرمة وهو الموافق لمقتضى تمكينه عليه الصلاة والسلام للكافر من المسجد مع غلبة جنابته ولإطلاقهم جواز دخول الكافر المسجد لحاجة بإذن المسلم إذ لو كان دخوله حراما ما جاز الإذن فيه فليراجع ( قوله ولا من المكث ) لم يشرط فيه ما قبله ( قوله تمنع منهما ) قال في شرح الإرشاد وهو المعتمد الذي صرح به الشيخان في باب الصلاة بل في المجموع في الحيض لا خلاف فيه فما وقع لهما في اللعان من أنها كالجنب الكافر ضعيف ا هـ وفي شرح م ر وفي منعها من المسجد اختلاف في كلام الشيخين والأقرب حمل المنع على عدم حاجتها الشرعية وعدمه على وجود حاجتها الشرعية والكلام فيمن أمنت التلويث
5.      المواهب المدنية بهامش الترمسي الجزء الثاني صحـ: 398-399
(قوله الكنيسة) قال في التحفة بفتح الكاف متعبد اليهود وقيل النصارى والبيعة بكسر الباء متعبد النصارى وقيل اليهود انتهى قال في شرح العباب إن دخلها بإذنهم وإلا حرمت صلاته فيها لأن لهم منعنا من دخولها إن كانوا يقرونان عليها وإلا فلا قال ابن العماد ككنائس مصر وفي إطلاقه نظر قال يحرم دخولها إن كان فيها تصاوير ولا يقدر على إزالتها انتهى وصرح غيره بحل دخولها وإن كان فيها صور ويمكن حمله على صور غير مرفوعة معظمة أو صور منصوبة بغير محل الجلوس قال وشرط الحل أيضا أن لا تحصل مفسدة من تكثير سوادهم وإظهار شعارهم وإيهام صحة عبادتهم وتعظيم متعبداتهم وهو ظاهر انتهى كلام شرح العباب بحروفه وذكر نحوه في الإمداد مختصرا وفي النهاية يمتنع علينا دخولها عند منعهم لنا منه وكذا إن كان فيها صورة معظمة كما سيأتى
6.      الشرواني الجزء الثاني عشر ص: 157
ولا يجوز دخول كنائسهم المستحقة الإبقاء إلا بإذنهم ما لم يكن فيها صورة معظمة (قوله : ولا يجوز إلخ) عبارة المغني فائدة قال الشيخ عز الدين ولا يجوز للمسلم دخول كنائس أهل الذمة إلا بإذنهم ومقتضى ذلك الجواز بالإذن وهو محمول على ما إذا لم تكن فيها صورة فإن كانت وهي لا تنفك عن ذلك حرم هذا إذا كانت مما يقرون عليها وإلا جاز دخولها بغير إذنهم لأنها واجبة الإزالة وغالب كنائسهم الآن بهذه الصفة اهـ

Referensi b:

Referensi :
a. Ruh al-Ma’ani, vol. 3, hlm. 120
b.Rod al-Muhtar, vol.4, hlm. 209

c.       Buraiqah Mahmudiyyah, vol. 2, hlm. 51

1.      روح المعاني الجزء الثالث صحـ 120
ومن الناس من استدل بالآية على أنه لا يجوز جعلهم عمالا ولا استخدامهم فى أمور الديوان وغيره وكذا أدخلوا فى الموالاة المنهى عنها السلام والتعظيم والدعاء بالكنية والتوفير بالمجالس وفى فتاوى العلامة ابن حجر جواز القيام فى المجلس لأهل الذمة وعد ذلك من باب البر والاحسان المأذون به فى قوله تعالى لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم فى الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا اليهم إن الله يحب المقسطين ولعل الصحيح أن كل ما عده العرف تعظيما وحسبه المسلمون موالاة فهو منهى عنه ولو مع أهل الذمة لا سيما إذا أوقع شيئا فى قلوب ضعفاء المومنين ولا ارى القيام لأهل الذمة فى المجلس إلا من الامور المحظورة لان دلالته على التعظيم قوية وجعله من الاحسان لااراه من الاحسان

2.      رد المختار الجزء الرابع صحـ: 209
وفي الحاوي : وينبغي أن يلازم الصغار فيما يكون بينه وبين المسلم في كل شيء وعليه فيمنع من القعود حال قيام المسلم عنده بحر . ويحرم تعظيمه , وتكره مصافحته , ولا يبدأ بسلام إلا لحاجة ولا يزاد في الجواب علي وعليك ويضيق عليه في المرور ويجعل على داره علامة وتمامه في الأشباه من أحكام الذمي . وفي شرح الوهبانية للشرنبلالي : ويمنعون من استيطان مكة والمدينة لأنهما من أرض العرب قال عليه الصلاة والسلام { لا يجتمع في أرض العرب دينان } ولو دخل لتجارة جاز ولا يطيل . وأما دخوله المسجد الحرام فذكر في السير الكبير المنع , وفي الجامع الصغير عدمه والسير الكبير آخر تصنيف محمد رحمه الله تعالى -  فالظاهر أنه أورد فيه ما استقر عليه الحال انتهى . وفي الخانية تميز نساؤهم لا عبيدهم بالكستيج .( قوله وينبغي أن يلازم الصغار ) أي الذل والهوان والظاهر أن ينبغي هنا بمعنى يجب قال في البحر : وإذا وجب عليهم إظهار الذل والصغار مع المسلمين وجب على المسلمين عدم تعظيمهم لكن قال في الذخيرة : إذا دخل يهودي الحمام إن خدمه المسلم طمعا في فلوسه فلا بأس به , وإن تعظيما له فإن كان ليميل قلبه إلى الإسلام فكذلك وإن لم ينو شيئا مما ذكرنا كره وكذا لو دخل ذمي على مسلم فقام له ليميل قلبه إلى الإسلام فلا بأس وإن لم ينو شيئا أو عظمه لغناه كره ا هـ قال الطرسوسي : وإن قام تعظيما لذاته وما هو عليه كفر لأن الرضا بالكفر كفر فكيف بتعظيم الكفر . ا هـ . قلت : وبه علم أنه لو قام له خوفا من شره فلا بأس أيضا بل إذا تحقق الضرر فقد يجب وقد يستحب على حسب حال ما يتوقعه
3.      بريقة محمودية الجزء الثاني صحـ: 51
وعن شرح الكرماني عن النووي أن هذه القطعة مشتملة على جمل من القواعد منها استحباب تصدير الكتب بالبسملة وإن كان المبعوث إليه كافرا ومنها سنية الابتداء في المكتوب باسم الكاتب أولا ولذا كان عادة الأصحاب أن يبدءوا بأسمائهم ورخص جماعة الابتداء بالمكتوب إليه كما كتب زيد بن ثابت إلى معاوية مبتدئا باسم معاوية وأنا أقول فيه أيضا استحباب تعظيم المعظم عند الناس ولو كافرا إن تضمن مصلحة وفيه أيضا إيماء إلى طريق الرفق والمداراة لأجل المصلحة وفيه أيضا جواز السلام على الكافر عند الاحتياج كما نقل عن التجنيس من جوازه حينئذ لأنه إذا ليس للتوقير بل للمصلحة ولإشعارمحاسن الإسلام من التودد والائتلاف وفيه أيضا أنه لا يخص بالخطاب في السلام على الكافر ولو لمصلحة بل يذكر على وجه العموم

Referensi c:

Referensi :
1.      Takmilah al-Majmu’, vol. 24, hlm. 159
2.      al-Majalis as-Suniyyah, hlm. 105

3.      Ahkam al-Qur’an lil Jassas, hlm. 311


1.      تكملة المجموع الجزء الرابع والعشرون صحـ : 159
لقد اختلف العلماء في سبب مشروعية الجهاد فقال بعضهم إنه مشروع على أنه طريق من طرق الدعوة إلى الإسلام وعلى هذا فغير المسلمين لا بد وأن يدينوا بالإسلام طوعا بالحكمة والموعظة الحسنة أو كرها بالغرو والجهاد .بناء على ذلك فهم يؤسسون السياسة الخارجية للدولة الإسلامية على القواعد التالية :1. الجهاد لايحل تركه بأمان أوموادعة إلا أن يكون الغرض من الترك الاستعداد حين يكون بالمسلمين ضعف وبخالفيهم في الدين قوة . فإن اعتدى على المسلمين كان فرض عين على كل مسلم أهل للجهاد وإلا فهو فرض كفاية إذا قام به فريق من الأمة سقط عن الباقين وإذا لم يقم به فريق من الأمة كانت الأمة كلها اثمة 2.   أساس العلاقة بين المسلمين ومخالفيهم في الدين الحرب مالم يطرأ ما يوجب السلم من إيمان أو أمان دار الإسلام هي الدار التي تجري عليها أحكام الإسلام ويأمن من فيها بأمان المسلمين سواء كانوا مسلمين أوذميين  -إلى أن قال - وقال الاخرون وهم الجمهور إن الجهاد مشروع لحماية الدعوة الإسلامية ودفع العدوان عن المسلمين فمن لم يجب الدعوة ولم يقاومها ولم يبدأ المسلمين باعتداء لا يحل قتاله ولا تبديل أمنه خوفا .وبناء على هذا فهم يقيمون السياسة الخارجية للدولة الإسلامية على الأسس والقواعد التالية : 1.    دعوة غير المسلمين إلى الإسلام فرض كفاية على الأمة الإسلامية إذا قام به فريق منها سقط عن الباقين وإذا لم يقم به فريق منها كانت كلها اثمة -إلى أن قال ـ 2.  السلم هو أساس العلاقة بين المسلمين ومخالفيهم في الدين مالم يطرأ ما يوجب الحراب من اعتداء على المسلمين أو مقاومة لدعوتهم بمنع الدعاة من بثها ووضع العقبات في سبيلها وفنتة من اهتدى إلى إجابتها
2.      المجالس السنية صحـ105
(قوله لا يظلمه) أى لايدخل عليه ضررا لايجوز الشرع لحرمة ذلك ومنفاته الأخوة ولأن الظلم للكافر حرام فللمسلم أولى الظلم يكون في النفس والمال وكل ذلك منهي عنه بدليل أخر الحديث قال النبي - صلى الله عليه وسلم -: الظلم ظلمات يوم القيامة والأحاديث الواردة في ذم الظلم كثيرة شهيرة
3.      أحكام القرآن والسنة ص : 311 - 312
أغراض الحرب فى الإسلام. الإسلام يرى أن الحرب سيئة فى نفسها لأن فيها هلاك خلق الله وتخريب ما تحتاج اليه الناس فى معاشيهم من نعم الله فهى شر كبير ولكن هذا الشر يتحمل للغاية الحميدة التى تبتغى من ورائه وهى إعلاء كلمة الله والقضاء على فساد المشركين وبغيهم وعدوانهم ومن أنعم النظر فى مومضوعات التى ورد فيها ذكر القتال فى القرآن الكريم يجد ان القتال لم يشرع الا لمقاصد شريفة ونمايات نبيلة المقصد الأول: قتال من حاربوا الدعوة الإسلامية وقاوموا بوسائل العنف والقوة نشرها ووضعوا العقبات فى سبيلها لإحباطها وإطفاء نورها المقصد الثانى قتال من اعتدوا على المسلمين فى أنفسهم وأموالهم وأوطانهم أو أى حق لهم المقصد الثالث: قتال من ارتدوا عن الاسلام وانحازوا إلى مكان انفردوا به وتحصنوا فيه المقصد الرابع: قتال فئة بغت من المسلمين وخرجت على جماعتهم وامتنعت عن طاعة إمامهم وعن تنفيذ أحكامهم وعن أداء ما عليهم من حقوق وهذه المقاصد الأربعة ترجع الى القتال دفاعا عن الدعوة الإسلامية أو عن حقوق المسلمين وكيانهم وقد قاتل رسول الله وأصحابه دفاعا عن الدعوة وعن المسلمين وقاتل أبو بكر أهل الردة حفظا للدين وقاتل علي بن أبى طالب بعض الفئات التى بغت وتركت جماع المسلمين محافظة على كيان الأمة فالقتال المشروع فى الإسلام الذى يعتبر جهادا فى سبيل الله هو القتال لغرض من الأغراض السابقة وعلى هذا فكل ما سوى هذه الأعراض الإنسانية النبيلة من القاصد المادية والشخصية او النفعية او النفسية كالقتال للمغانم والإظهار القوة والشجاعة أو للفخراوللمبة والعصبية أو للإنتقام والعدوان أو للرياء -إلى أن قال- قد حرم الإسلام الحرب من أجلها لإنها لا يقصد بها إعلاء كلمة الله ولا طلب مرضاته وذلك واضح من إضافة القتال أو الجهاد دائما الى سبيل الله إهـ

Inilah Kiai-kiai yang Mendirikan NU

Gerakan para kiai Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) mendirikan organisasi merupakan lanjutan dari gerakan-gerakan para kiai sebelumnya. Kelanjutan dari gerakan Wali Songo dan ulama penyebar Islam lainnya. Selama ratusan tahun, sambung-menyambung, para ulama bergerak mempertahankan Islam di Nusantara. 

Karena keadaan terus berubah, tantangannya pun berbeda, cara para kiai Aswaja bergerak dalam mempertahankan dan menyebarkan Islam pun berubah juga. Jika sebelumnya hanya melalui pesantren dan tidak bergerak sendiri-sendiri, para kiai mencoba dengan mendirikan organisasi. Ini hanyalah persoalan cara, tapi intinya adalah mempertahankan Islam itu sendiri. Buktinya, pesantren dipertahankan, organisasi dijalankan. 

Tantangan baru itu adalah penjajahan bangsa Eropa. Mereka tidak hanya mengeruk kekayaan alam di Nusantara, tetapi menyebarkan agama dan budaya mereka dengan begitu masif karena terorganisir dengan baik. Dengan demikian, motif mendirikan organisasi adalah untuk menahan persebaran agama yang dibawa penjajah. Pada saat yang sama, berusaha lepas dari belenggu penjajahan (nasionalisme).

Motif mempertahankan agama, adalah Islam Ahlussunah wal Jamaah dengan mazhab empat. Sebab pada saat itu, di Timur Tengah muncul paham baru yang menggagas pembaruan dalam Islam dengan slogan kembali pada Al-Qur’an dan hadits dan antitaqlid kepada mazhab empat. Di Arab Saudi muncul pula paham Wahabi. 

Paham tersebut semakin kuat dan masif ketika disokong kekuasaan. Sejak Ibnu Saud, Raja Najed menaklukkan Hijaz (Mekkah dan Madinah) tahun 1924-1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram. Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh. 

Paham tersebut juga mendapat pengikut kuat di Nusantara yang mengampanyekan antibidah dimana-mana. Taqlid adalah penyebab kemunduran, melarang tahlilan, dan tradisi-tradisi keagamaan lain yang jelas-jelas memiliki dasar dari ajaran Islam sendiri, yang selama ini dilakukan paham Ahlussunah wal Jamaah. 

Para ulama Ahlussunah wal Jamaah di Nusantara, risau dengan kebijakan Arab Saudi tersebut. Mereka kemudian merencanakan untuk mengirimkan utusan ke Tanah Suci Makkah, menemui penguasa saat itu untuk meminta menghentikan kebijakan itu. Rencana untuk mengirim utusan dilaksanakan di kediaman KH Wahab Hasbullah di Kertopaten, Surabaya pada16 Rajab 1344 H bertepatan dengan 31 Januari 1926, untuk membentuk Komite Hijaz.

Pada pertemuan itu, mereka memikirkan utusan yang akan dikirimkan itu atas nama apa. Karena belum ada wadah kelompok tersebut, mereka sepakat membentuk organisasi bernama Nahdlatul Ulama, kebangkitan ulama berdasarkan usulan KH Mas Alwi Abdul Aziz. 

Setelah menyepakati mendirikan organisasi, mereka kemudian menyepakati mengirimkan utusan ke Tanah Suci Mekkah untuk menyampaikan lima permohonan. Pertama, memohon diberlakukan kemerdekaan bermazhab di negeri Hijaz. Kedua, memohon untuk tetap diramaikan tempat-tempat bersejarah . Ketiga, memohon agar disebarluaskan ke seluruh dunia, setiap tahun sebelum datangnya musim haji menganai tarif yang harus diserahkan jamaah haji. Keempat, memohon agar semua hukum yang berlaku di negeri Hijaz, ditulis dalam bentuk undang-undang agar tidak terjadi pelanggaran terhadap undang-undang tersebut. Kelima, memohon balasan surat kepada kedua delegasi tersebut. 

Berdasarakan buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam, para kiai yang hadir dalam pertemuan Kertopaten, Surabaya itu adalah KH Hasyim Asy’ari Tebuireng (Jombang, Jawa Timur) KH Bishri Syansuri (Jombang, Jawa Timur), KH Asnawi (Kudus, Jawa Tengah) KH Nawawi (Pasuruan, Jawa Timur) KH Ridwan (Semarang, Jawa Tengah) KH Maksum (Lasem, Jawa Tengah) KH Nahrawi (Malang, Jawa Tengah) H. Ndoro Munthaha (Menantu KH Khalil) (Bangkalan, Madura), KH Abdul Hamid Faqih (Sedayu, Gresik, Jawa Timur) KH Abdul Halim Leuwimunding (Cirebon, Jawa Barat) KH Ridwan Abdullah (Jawa Timur), KH Mas Alwi (Jawa Timur), dan KH Abdullah Ubaid dari (Surabaya, Jawa Timur) Syekh Ahmad Ghana’im Al Misri (Mesir), dan beberapa ulama lainnya yang tak sempat tercatat namanya. (Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online