Cerita di Balik Pertemuan Jokowi dan Gus Dur 2006 Silam

Cerita di Balik Pertemuan Jokowi dan Gus Dur 2006 Silam

Jakarta - Pertemuan KH Abdurrahman Wahid dan Joko Widodo yang terdokumentasikan lewat sejumlah foto mendadak viral di media sosial. Foto-foto tersebut pertama kali diunggah oleh akun facebook bernama Blontank Poer. Dalam waktu dua jam saja, postingan foto bersejarah tersebut 2.000 kali dibagikan oleh netizen.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo itu mengaku bahwa awalnya dia tidak sengaja bersih-bersih CD koleksi foto lama. “Nemu adegan Pak Jokowi mencium tangan Gus Dur,” ungkap Blontank Poer.

Ia mengungkapkan, peristiwa di Kraton Surakarta itu, menurut catatan digital di kamera Canon EOS D30, 8 Januari 2006. Berarti, itu baru beberapa bulan Pak Jokowi menjabat Wali Kota Surakarta.

Dalam pertemuan tersebut, dua tokoh bangsa itu sama-sama mengenakan baju batik. Jokowi melengkapi baju batik abu-abu mengkilapnya dengan mengenakan peci hitam.

Kisah menarik di balik pertemuan tersebut tidak terelakan. Di antaranya, saat masih menjadi Wali Kota Solo, Jokowi disebut Gus Dur bakal menempati kepemimpinan tertinggi di negara ini, yaitu Presiden RI. Hal itu pertama kali diungkapkan oleh Hussein Syifa, ketua panitia Harlah ke-9 Gus Dur di Kota Solo pada Jumat (22/2/2019) lalu.

Pernyataan Gus Dur menurut Hussein terlontar pada 8 Januari 2006 silam. Kala itu, di Solo ada acara bertema Njejegake Sakaguru Nusantara (Menegakkan Kembali Sokoguru Nusantara) dengan mendatangkan Gus Dur. Saat kedatangannya ke Solo, Gus Dur disinggahkan oleh panitia ke Loji Gandrung, rumah dinas Wali Kota Solo. 

"Saat itu bertemu dengan beberapa orang, termasuk di antaranya Pak Jokowi yang menjadi Wali Kota Solo," kata Hussein Syifa di Solo, Jumat (22/2/2019) lalu seperti diwartakan Sindonews Biro Jateng dan DIY.


Beragam obrolan ringan, hangat, dan santai tercipta dalam pertemuan tersebut. Ketika Gus Dur tengah bercerita tentang kisah wayang Dewaruci, datang KH Moeslim Rifai Imampuro (Mbah Liem) yang kini telah wafat. Sesaat setelah kedatangannya, pendiri Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti itu meminta Gus Dur menjadi presiden lagi.

Menanggapi permintaan itu, Gus Dur menjawab dalam Bahasa Jawa, intinya adalah terpenting tiang Nusantara harus berdiri kokoh dulu. Gus Dur lalu menyebut bahwa Jokowi nanti juga bisa jadi presiden karena kriteria syaratnya telah terpenuhi.

Kala itu, Jokowi yang berada di sisi kiri Gus Dur hanya tersenyum. Tidak ada reaksi berlebihan dari Jokowi selain terlihat tenang dan menyungging senyum atas pernyataan Gus Dur tersebut.

Kini, apa yang dikatakan Gus Dur pada 2006 silam tersebut menjadi kenyataan. Joko Widodo menjadi Presiden ke-7 RI saat memenangkan Pilpres 2014 lalu ketika ia berpasangan dengan Muhammad Jusuf Kalla.


Bahkan merujuk pada Real Count KPU dalam sistem penghitungan suara (situng) di website www.pemilu2019.kpu.go.id, Jokowi yang kini menggandung KH Ma’ruf Amin sebagai Wapres kembali unggul dalam perhelatan Pilpres 2019. (Fathoni)
Sumber: NU Online 

Saat Habib Ali Kwitang Mendeklarasikan Diri Jadi Nahdliyin

Jakarta - Kolektor Arsip Habib Ali Kwitang Anto Jibril mengatakan, Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi atau lebih dikenal Habib Ali Kwitang mendapatkan surat dari ulama-ulama di Jawa ketika Nahdlatul Ulama (NU) lahir pada 1926. Dia ditanya bagaimana sikapnya tentang NU. Habib Ali kemudian mengundang salah seorang muridnya, KH Ahmad Marzuki bin Mirshod, untuk menyelediki seluk-beluk NU. 

Habib Ali Kwitang, kata Anto, kemudian mengutus Kiai Marzuki untuk datang ke tempatnya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari untuk mencatat apapun yang dilihatnya di sana. Ketika sampai di sana, Kiai Marzuki kemudian meminta satu hal kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Yaitu agar jilbab yang dipakai perempuan NU dibenarkan. Jika itu dilakukan, Kiai Marzuki yakin NU akan bisa masuk ke tanah Batavia.

Dia menuturkan, setahun kemudian Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim datang ke Batavia. Mereka ingin agar NU didirikan di sana. Ketika sampai di Batavia, orang yang pertama kali ditemui Hadratussyekh Hasyim Asy’ari adalah Habib Ali Kwitang.

“Setelah itu tahun 1928, NU dibentuk di Batavia. Habib Ali izinkan itu waktu. Lagi-lagi Habib Ali masih pegang fatwanya Habib Utsman bin Yahya. Jadi jangan dimasukkan namanya (Habib Ali Kwitang di jajaran pengurus NU),” kata Kolektor Arsip Habib Ali Kwitang Anto saat mengisi acara Kajian Manuskrip Ulama Nusantara di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (27/4).

Menurut Anto, semula orang-orang di Batavia kurang tertarik masuk NU karena tidak ada nama Habib Ali di sana. Kemudian Kiai Marzuki ‘menegur’ Habib Ali karena dulu dirinya lah yang meminta untuk mendirikan NU di Batavia, namun ternyata setelah berdiri Habib Ali malah tidak bersedia gabung.

“Sampai pada akhirnya Habib Ali memproklamirkan dirinya jadi warga Nahdliyin. Ini jarang yang ungkapkan, padahal ini dipublikasikan di Koran-koran zaman dulu. Salah satu korannya berbahasa Belanda, koran Het Nieuws van den Dag (terbit) tanggal 20 Maret 1933,” jelasnya.

Anto menuturkan, Habib Ali Kwitang mendeklarasikan dirinya menjadi Nahdliyin pada 1933, atau setahun sebelum wafatnya Kiai Marzuki. Kemudian diadakan Kongres NU di daerah Kramat, Batavia. KH Abdul Wahab Chasbullah yang bertugas memimpin jalannya kongres tersebut. Setelah Habib Ali Kwitang mendeklarasikan diri menjadi Nahdliyin, ada sekitar 800 ulama yang saat itu siap masuk NU. 

“Dan kurang lebih seribu, disebutkan di koran itu, siap masuk pula menjadi warga Nahdlatul Ulama. Pertama Habib Salim bin Jindan,” jelasnya.

Di koran Belanda itu, lanjut Anto, pada saat itu Habib Salim bin Jindan mengkritik NU. Namun kemudian, Habib Ali Kwitang menenangkannya. Kemudian Habib Ali Kwitang mendeklarasikan dirinya sebagai Nahdliyin. Setelah mendengar ‘pengakuan Habib Ali Kwitang’, peserta yang hadir berdiri dan bertepuk tangan bersama. KH Abdullah Wahab Chasbullah juga senang dengan sikap yang ditunjukkan Habib Ali Kwitang tersebut. (Red: Muchlishon)
Sumber: NU Online

WHO: Batas Penggunaan Gadget oleh Balita Maksimal 1 Jam

KOMPAS.com - Tak sedikit orangtua masa kini yang menggunakan gadget sebagai salah satu sarana hiburan untuk anak, selain mainan atau televisi. Sedari kecil, mereka sudah asyik menatap layar gadget berlama-lama dengan posisi yang sama.

Kebiasaan ini menimbulkan pertanyaan. Berapa lama anak boleh menatap layar gadget? Dalam penilitian terbaru yang dirilis badan kesehatan dunia ( WHO), lama waktu menatap layar bagi balita tidak boleh lebih dari satu jam.

Alasanya, anak usia balita harus lebih banyak bergerak dan beraktivitas untuk perkembangan fisik dan motoriknya. Apabila anak lebih banyak menonton tayangan video melakui gadget, maka ia tidak akan banyak bergerak dan cenderung berada di posisi yang sama lebih lama.

Misalnya, sambil menonton layar, anak akan duduk lebih lama atau tiduran lebih lama. Perilaku ini, menurut WHO, akan menyebabkan kurang tidur dan kurangnya aktivitas fisik.

"Meningkatkan aktivitas fisik, tidak berlama-lama dalam posisi yang sama dan memastikan kualitas tidur untuk balita, akan meningkatkan fisik, kesehatan mental, dan kesejahteraan mereka," jelas Dr. Fiona Bull, perwakilan dari WHO.

Ia juga menjelaskan, dengan memperbanyak aktivitas fisik, anak-anak akan tercegah dari obesitas dan penyakit yang terkait dengan kegemukan kedepannya.

Belum umur dua tahun, jangan berikan gadget

WHO membagi lama durasi menatap layar gadget ke tiga kategori usia anak, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Cnet, Minggu (27/4/2019).

Pertama, untuk bayi di bawah usia satu tahun, WHO menyarankan untuk tidak menatap layar sama sekali. Bayi dalam usia ini harus lebih banyak aktif bermain di lantai.

Apabila si bayi belum bisa bergerak, dia bisa berlatih tengkurap dan terlentang sepanjang hari untuk melatik kekuatan otot leher, dada, dan lengan. Bayi juga bisa melatih keseimbangan tubuh agar terangsang untuk bisa merangkak.

Kedua, bayi usia satu tahun masih tidak direkomendasikan untuk menonton layar gadget. WHO menyarankan, anak baru boleh menatap layar gadget pada usia 2 tahun. Tapi itupun harus kurang dari satu jam.

Anak usia 1-2 tahun, disarankan untuk beraktivitas fisik selama tiga jam dalam sehari dan tidak terjebak dalam posisi yang sama dalam waktu lebih dari satu jam.

Terakhir adalah anak usia 3-4 tahun yang juga tidak boleh menonton layar gadget lebih dari satu jam. Sama seperti usia 1-2 tahun, anak usia 3-4 tahun masih perlu memperbanyak aktivitas fisik sehari-hari.
Sumber: Kompas

Pemkab Muba dan ITB Resmi Lakukan MoU Terapkan Biohidrocarbon Berbasis Kelapa Sawit


BANDUNG,MNS – Realisasi terobosan energi baru terbarukan yakni biofuel berbasis kelapa sawit yang diinisiasi Bupati Musi Banyuasin (Muba) mulai menemukan titik terang. Setelah menjajaki komunikasi awal dengan pihak Institut Teknologi Bandung (ITB) Februari lalu, Kamis (28/3/2019) Pemkab Muba dipimpin langsung Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin telah resmi melakukan MoU dengan ITB. Usai MoU, Rektor ITB Prof Dr Ir Kadarsah Suryadi DEA menyatakan akan merealisasikan Biohidrocarbon Berbasis Kelapa Sawit di Kabupaten Muba dalam tempo singkat.
Keseriusan Bupati Muba Dodi Reza soal energi terbarukan dibuktikan dengan memboyong Kepala OPD terkait mulai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Muba Zukfakar, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Zainal Arifin, Pelaksana tugas (Plt) Kepala DPMPTSP Erdian Syahri, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Andi Wijaya Busro, Kepala Dinas Perkebunan Iskandar Syahrianto, Kabag Humas Herryandi Sinulingga, dan Plt Kabag Protokol Rangga Perdana Putra.
Tak hanya itu, Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin juga membawa perwakilan petani kelapa sawit Muba yang tergabung dalam Koperasi Unit Desa (KUD) di beberapa wilayah Kabupaten Muba.
“Muba akan menjadi pelopor menghasilkan energi baru terbarukan biofuel berbasis kelapa sawit ini. Kami dari ITB sangat takjub dan kagum atas upaya dan komitmen pak Bupati untuk merealisasikan ini,” ujar Rektor ITB, Prof Dr Ir Kadarsah Suryadi DEA.
Menurutnya, terobosan energi baru terbarukan biofuel berbasis kelapa sawit ini tidak hanya mensejaterahkan petani kelapa sawit tetapi juga akan mengangkat harga diri bangsa Indonesia. “Ini bukan urusan kecil, dengan realisasi biofuel ini nantinya negara Indonesia ini akan sangat terbantu,” tegasnya.
Lanjutnya, kalau 17 juta ton kelapa sawit saja di distribusikan untuk pengelolaan biofuel secara hitungan kasar Indonesia bisa menghemat 9 Milyar USD “Jadi, impor BBM bisa berkurang dengan adanya biofuel dari Muba nantinya,” ulasnya.
Selain itu, atas terobosan biofuel berbasis kelapa sawit ini sudah ada delapan Kementerian yang menyorotinya. “Betapa tidak, avtur dari sawit, titik beku – 7.0 derajat celcius. Dibanding dari fossil yang – 4.0. Kalau berbicara kualitas tentu sangat baik sekali,” bebernya.
Sementara itu, Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan, Pemkab Muba memilih ITB untuk bekerjasama dalam realisasi pengolahan biofuel berbasis kelapa sawit karena dipandang ITB dan Pemkab Muba mempunyai visi yang sama untuk realisasi implementasi biofuel.
“Ini sangat penting dan strategis. ITB punya pengalaman yang sangat baik dan terpandang. Kita, Muba punya strong komitmen untuk pemberdayaan kelapa sawit. Inilah yang jadi titik temu antara Pemkab Muba bersama ITB untuk bekerjasama dalam realisasi biofuel berbasis kelapa sawit,” terang Dodi.
Penerima Penghargaan Kepala Daerah Peduli Pembangunan Berkelanjutan dari Kementerian Pertanian ini menambahkan, jika biofuel berbasis kelapa sawit sudah berjalan, Pemkab Muba akan membangun mini refinery untuk penampungan biofuel berbasis kelapa sawit tersebut. “Seluruh kendaraan dinas Pemkab Muba akan diwajibkan memakai biofuel berbasis kelapa sawit untuk bahan bakar,” tegasnya.
Diketahui, biofuel berbasis kelapa sawit yang diinisiatori Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin juga menjadi sorotan di kancah internasional. Biofuel Muba menjadi isu nasional. Mei 2019 mendatang Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Sumsel ini diminta pihak Konsulat Jenderal RI untuk Houston Amerika Serikat untuk menjadi pembicara Renewable Energy (Energi terbarukan) Indonesia-USA di Houston Amerika Serikat.
Tidak hanya itu, pihak Eksekutif dan legislatif yakni dalam hal ini Kementerian ESDM, BPH Migas, dan Komisi VII DPR RI yang membidangi ESDM juga akan all out mendukung realisasi biofuel berbasis kelapa sawit.
Terpisah, Ketua Program Studi (Prodi) S2 dan S3 Teknik Kimia ITB sekaligus Ketua Tim Katalis, Dr IGBN Makertihartha menjelaskan untuk tahapan proses pengelolaan minyak nabati dari inti kelapa sawit yakni dimulai dari proses perengkahan – LPG – Biogasoline/green gasoline. Secara umum minyak nabati dapat terurai secara biologis dan lebih sempurna (lebih dari 90% dalam waktu 21 hari) daripada bahan bakar minyak bumi (sekitar 20% dalam waktu 21 hari). Di samping itu, pemanfaatan minyak nabati sebagai bahan bakar diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi di bidang pertanian.
“Salah satu minyak nabati yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai bahan bakar alternatif adalah minyak kelapa sawit. Pemilihan minyak kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif sangat tepat dilakukan di Indonesia karena Indonesia merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah negeri Jiran Malaysia,” terangnya.
“Kabupaten Muba sangat cocok untuk nantinya mengolah inti kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati, karena Muba menjadi daerah yang dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan ini akan menjadi pilot project daerah yang mengolah dan menghasilkan bahan bakar nabati atau biofuel dari inti kelapa sawit,” tambahnya.
Lanjutnya, pihak ITB khususnya Prodi Teknik Kimia sangat menyambut baik langkah dan program terobosan yang akan dilakukan Bupati Muba Dodi Reza Alex Noerdin dalam upaya mengembangkan bahan bakar dari inti kelapa sawit. “Kami sangat siap dan mendukung untuk merealisasikan ini, ini akan menjadi kerjasama yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat khususnya petani sawit rakyat,” tuturnya.
Sumber: Mubakab

Wabup Ajak Masyarakat Gelorakan Muba Mengaji

BATANG HARI LEKO,MNS – Wakil Bupati Muba Beni Hernedi mengemukakan, Pemkab Musi Banyuasin mempunyai visi Membangun umat berbasis agama, diharapkan kepada masyarakat Kabupaten Muba agar menyambut baik dan mengapresiasi salah satu program dalam mewujudkan visi tersebut yaitu, “Muba Mengaji”.
Sehingga kedepan diharapkan dengan program ini dapat memberantas buta huruf Al-qur’an mulai anak-anak sampai orang tua, tak terkecuali seluruh aparatur Pemerintah dari tingkat kabupaten sampai ketingkat pemerintahan desa.
“Mari kita gencarkan program ini dengan harapan kedepan seluruhnya umat yang beragama islam yang berdomili di Bumi Searasan Sekate bebas dari buta aksara Al- qur’an,” kata Wakil Bupati Muba Beni Hernedi saat meresmikan Pondok Pesantren Maaun Hayaat Desa Bukit Selabu Kecamatan Batanghari Leko, Senin (8/4/2019)..
Untuk itu, dirinya mengajak masyarakat terkhusus di Kecamatan Batanghari Leko ini agar turut mendukung dan mengapresiasi program Muba Mengaji, sebagai penggerak dan kemajuan pemahaman dan pengamalan keagamaan di Kabupaten Muba.
Wabup juga mengajak agar masyarakat sekitar untuk memanfaatkan Pesantren Maaun Hayaat ini untuk memberikan pendidikan islami bagi anak-anak kita, karena merekalah sebagai generasi penerus bangsa yang lebih baik kedepan.
Maka dari itu anak -anak kita jangan hanya diberi pendidikan yang bersifat duniawi saja, tetapi juga diberi pendidikan pendidikan keagamaan, sehingga program Muba Membagun umat berbasis ahlak sejak dini dapat terwujud dan hal tersebut dapat kita capai tentunya dengan program Muba mengaji.
“Saya bersama Bupati Muba H. Dodi Reza Alex Noerdin, mengajak seluruh masyarakat Muba pada umumnya dan khususnya masyarakat Desa Bukit Selabu untuk selalu bersama sama kita bergotong royong untuk terus bersinergi bersama memakmurkan masjid ,”imbuh Beni.
Sementara itu menurut tokoh agama Desa Bukit Selabu, sekaligus Pengasuh Ponpes, Kyai H Ahmad Sujono mengatakan siap mendukung program Pemkab Muba, salah satu satunya program Muba Mengaji dengan membimbing para santri yang amanah.
Karena untuk saat ini program yang diusung oleh Bupati Muba H Dodi reza Alex bersama Wabup Muba Beni Hernedi, sangat berperan dalam membangun umat berbasis agama.
“Kami berterimakasih kepada Pemkab Muba, disini hadir langsung Pak Beni atas diresmikannya Pondok pesantren, program-program yang dicanangkan Bupati Dodi Reza juga sangat pro rakyat dan mengedepankan kepentingan seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya.
Sumber: Mubakab


Pidato Lengkap KH Hasyim Asy’ari tentang Ideologi Politik Islam

Tulisan di bawah ini merupakan pidato pendiri Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam resepsi Muktamar Masyumi pertama di Solo pada 13 Februari 1946 yang saat itu menjadi Ketua Majelis Syuro Masyumi. Transkrip pidato tersebut kemudian dimuat dengan judul "Ideologi Politik Islam" di pembukaan buku “Kumpulan Anggaran Dasar” yang diterbitkan oleh Usaha Penerbitan “Ansor” yang beralamat di Jalan Menara 2, Kudus, Jawa Tengah, pada Juli 1954. Kemudian ditulis ulang dengan penyesuaian ejaan oleh Ayung Notonegoro.


Ideologi Politik Islam
Oleh Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari

Untuk memahami ideologi politik Islam, kita harus memeriksai riwayat berkembangnya Islam 1378 tahun yang lalu. Sebelum Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari Allah SWT, beliau suka bersunyi diri, berkhalwat ke gua atau gunung.

Di tempat yang sunyi itu, beliau berharap mendapat jalan kebenaran. Sebagai orang besar, yang mempunyai rasa tanggung jawab atas kebaikan atau keburukan umatnya. Beliau memandang masyarakat Quraisy adalah masyarakat yang buruk dan jahat.

Dipandang dari jurusan agama keburukannya jahiliyah itu tidak perlu diterangkan satu persatu.

Dan dari jurusan kemasyarakatan (sosial), masyarakat jahiliyah Quraisy itu jauh daripada baik. Masyarakat hanya teruntuk bagi orang-orang besar dan orang-orang kaya. Orang-orang lemah, terutama para budak sama sekali tidak mempunyai daya apa-apa. Mereka boleh diperlakukan oleh golongan yang kuat dengan sesuka-suka hatinya. Mereka tidak dianggap sebagai manusia, tetapi sebagai hewan sahaja. Perampasan hak orang lemah, dapat dilakukan oleh orang kuat dengan sesuka-sukanya, hingga penumpahan darah, pembunuhan di jalanan terhadap siapa saja yang dikehendaki. Hakim tidak ada lagi, kecuali pedang dan tombak.

Dipandang dari jurusan ekonomi, masyarakat jahiliyah orang Quraisy hanya memberi lapangan berekonomi kepada orang-orang terkemuka dan kaum berbangsa (ningrat) sahaja. Rakyat umum, terutama hamba sahaya hidupnya terlantar.

Di dalam hal politik, pemuka-pemuka orang Quraisy menduduki jabatan-jabatan, mulai yang penting hingga yang tidak penting. Jabatan-jabatan itu, telah ditetapkan bagi golongan-golongan yang khusus turun menurun. Sedang rakyat umum tidak mempunyai hak politik apa-apa, dan tidak dapat memangku jabatan-jabatan pemerintah. Di dalam masyarakat yang pincang demikianlah, junjungan kita Nabi Muhammad SAW menyiarkan keislaman.

Nabi kita menyiarkan keislaman di kalangan masyarakat Quraisy. Islam tidak cuma berarti usaha melepaskan orang dari syirik (bertuhan banyak), dan memasukkannya ke dalam tauhid (bertuhan Allah Yang Satu), akan tetapi Islam berarti juga perbaikan masyarakat jahiliyah, baik dalam hal sosial, politik dan ekonomi.

Yang mula-mula dijalankan Nabi Muhammad SAW ialah penyiaran tauhid. Dan di samping itu, menanam semangat persaudaraan Islam, dengan tidak membeda-bedakan antara keturunan, pangkat, kekayaan, dan kebangsaan. Persaudaraan Islam yang demikian ini, tampaknya sepintas lalu adalah soal kecil yang tidak berarti. Tetapi sebenarnya adalah dasar kerakyatan yang besar artinya, yang ditanam Islam sejak mulai Islam berkembang di atas dunia ini. Dengan menanam persaudaraan Islam ini, maka lenyaplah sifat tidak adil yang ada di dalam masyarakat.

Pihak pemimpin Quraisy yang berpegang teguh pada paham keningratan menentang dan menghalang-halangi penyiaran Islam. Mereka khawatir apabila maju dan tersiar, dan persaudaraan Islam merata di mana-mana, mereka tidak akan dapat berkuasa lagi, dan derajat mereka akan turun. Dan oleh karena itu, mereka terus menguatkan kemusyrikannya, sebab dengan kemusyrikan itu mereka dapat memperkuda-kudakan rakyat jelata dan memborong segala pangkat, kekayaan, kenikmatan dan kekuasaan di tangan mereka sendiri. Islam dipandang mereka sebagai bahaya besar yang akan merusak kehormatan, kekuasaan, pangkat dan kekayaan mereka.

Nabi Muhammad SAW melanjutkan usahanya menyiarkan Islam di Makkah di tengah-tengah masyarakat jahiliyah itu, tiga belas tahun lamanya. Selama itu bukan main hebatnya penderitaan beliau, dihinakan, disakiti, difitnah, diboikot dan pada suatu malam, di mana orang Quraisy sudah bermufakat akan membunuh beliau, berangkatlah beliau berhijrah [pindah] dari tumpah darahnya ke Madinah.

Sebelum Nabi Muhammad SAW sampai ke Madinah, di kota Madinah sudah agak ramai orang memeluk Islam. Sedatang beliau, maka bertambah luaslah tersiarnya agama Islam, dan di samping itu, diaturlah pergaulan hidup mereka menurut ajaran-ajaran Islam. Soal pemerintahan ditetapkan, soal kehakiman, soal kepolisian dijalankan, hingga soal militer pun demikian pula dilakukan oleh beliau, sebab di waktu itu, masyarakat belum teratur dengan sempurna sungguh-sungguh dan orang-orang yang ahli belum cukup banyak.

Jikalau macam-macam hal seperti di atas diputus, ditentukan dan dijalankan oleh beliau, itu tidaklah berarti bahwa beliau memutusi segala hal dengan semau-maunya sendiri dengan tidak mendengarkan pikiran orang lain. Di dalam hal-hal yang penting beliau seringkali bertanya pikiran sahabat-sahabat yang ahli dan berfikiran dalam dan berpemandangan luas.

Sepuluh tahun lamanya beliau menyusun masyarakat Islamiyah, hingga menjadi masyarakat yang sempurna, baik di dalam hal politik, sosial dan ekonomi. Terutama dalam hal agama, sekaliannya itu diusahakan dengan kebijaksanaan beliau, tidak dengan polisi rahasia, yang melanggar hak-hak orang dan tidak pula dengan kekuatan militer.

Sepeninggal beliau, pemerintah diteruskan oleh Sayyidina Abu Bakar RA dua tahun lebih dan kemudian sepeninggal beliau diteruskan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA sepuluh tahun lebih.

Adapun pokok daripada politik pemerintahan Islam selama dipegang oleh beliau bertiga itu, ialah:
1. Menetapkan hak yang sama bagi sekalian Muslimin;
2. Memecahkan kepentingan rakyat dengan jalan musyawarah;
3. Menetapkan keadilan.

Tentang contoh-contoh daripada penetapan hal yang sama bagi sekalian Muslimin, jika diceritakan satu persatu tentu sangat banyaknya, cukuplah satu contoh, yaitu ketika junjungan kita Nabi Muhammad SAW dengan tidak sengaja mengenai perut seorang sahabat dengan kayu pegangan tombak, hingga tergores kulitnya, beliau lalu menyuruh sahabat yang terkena tadi membalas, sebelum datang pembalasan di hari kiamat. Maka lalu dimaafkan oleh sahabat tadi.

Tentang menetapkan keadilan, dapatlah dilihat dari satu contoh lain, yaitu pada waktu pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab RA seorang bernama Ibnul ‘Asham sedang melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah kainnya terinjak seorang lelaki. Seketika itu juga Ibnul ‘Asham memukul hidung lelaki itu, hingga luka hebat. Setelah orang tadi mengadu kepada Sayyidina Umar RA memerintahkan supaya orang tadi membalasnya. Ibnul ‘Asham membantah dan mengatakan bahwa ia adalah seorang berpangkat tinggi, sedang laki-laki tadi orang biasa, apakah boleh dijatuhkan hukuman begitu? Sayyidina Umar RA menjawab bahwa Islam telah menyamaratakan antara mereka berdua. Ibnul ‘Asham tidak suka menerima hukuman dan melarikan diri ke luar negeri.

Satu contoh lain tentang keadilan. Seorang perempuan dari golongan Mahzum melakukan pencurian. Ia adalah masuk golongan berpangkat, maka beberapa orang lalu mengusahakan memintakan maaf dia pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Beliau lalu marah sangat dan bersabda: 

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ ، تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ ، أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Artinya: "... Sesungguhnya yang menjadikan rusak umat sebelum kamu dahulu ialah apabila seorang berpangkat mencuri, mereka biarkan saja, dan apabila ada seorang rendah mencuri, maka mereka lalu menjalankan hukuman baginya. Demi Allah yang menguasai diriku, kalau Fatimah anak Muhammad [saya] itu mencuri, tentu saya potong tangannya...”

Tentang bentuk pemerintahan Islam, tidak ditentukan. Ketika junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW akan pulang ke rahmatullah, beliau tidak meninggalkan pesanan apa-apa tentang cara pemilihan kepala negara. Jikalau sekiranya beliau menetapkan satu cara tentu menjadi aturan yang tetap berlaku selama-lamanya, dengan tidak boleh diubah. Karenanya tidak ditentukan. Lalu Sayyidina Abu Bakar RA dipilih secara umum menjadi kepala negara. Waktu Sayyidina Abu Bakar RA akan berpulang, maka ditunjuknya Sayyidina Umar RA menjadi penggantinya. Dan waktu Sayyidina Umar RA akan berpulang, menyuruh bentuk komisi enam orang untuk memilih pengganti beliau sebagai kepala negara. Jadi tentang pemilihan kepala negara, dan banyak lagi hal-hal kenegaraan, tidak ditentukan, tidak diikat dengan satu cara yang menyempitkan. Semuanya terserah kepada umat Islam di tiap-tiap tempat.

Dari uraian di atas ternyata, bahwa syariat Islam tidak dapat berjalan dengan sempurna, apabila kepentingan umat Islam berjalan sendiri-sendiri lepas dari ikatan yang tentu-tentu. Tentang ini Sayyidina Umar RA berkata:


“...Lâ islâma illâ bi jamâ‘atin wa lâ jamâ‘ta illâ bi imâratin...”

Artinya: "...Islam tidak akan sempurna jalannya, melainkan dengan ikatan persatuan. Dan persatuan tidak berarti, melainkan dengan pemerintahan....”

Sekarang kita umat Islam Indonesia sudah lepas dari penjajahan, maka menjadi kewajiban bagi kita berusaha setindak demi setindak dengan jalan yang teratur, hingga pemerintahan Indonesia menjadi pemerintahan yang menjalankan syariat Islam. Kita umat Islam Indonesia seperti juga di zaman Nabi Muhammad SAW tidak merebut kedudukan dan pangkat, tidak ingin melanggar hak-hak orang. Sebagai ketika junjungan kita ditawari orang Quraisy: kalau beliau ingin menjadi raja, orang Quraisy semua suka menjadikan beliau raja. Kalau beliau ingin menjadi paling kaya, mereka suka mengumpulkan harta bendanya dan menyerahkannya kepada beliau. Kalau beliau ingin putri yang cantik, maka mereka bersedia mencarikannya guna beliau. Beliau lalu menjawab:


“....Wallâhi lau wadla‘û-s-syamsa fî yamînî wal qamara fî yasârî ‘alâ an atruka hâdza-l-amra, mâ taraktuhu au ahlika dûnahu...”

Artinya: “...Demi Allah, kalau sekiranya mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengat syarat supaya saya meninggalkan usaha menyampaikan perintah Allah ini, saya tidak akan meninggalkannya, atau saya dibinasakan, bukannya usaha itu...”

Kita umat Indonesia pun tidak ingin merebut kedudukan atau pimpinan, hanya kita ingin supaya orang yang berkedudukan dan memegang pimpinan menjalankan syariat Islam; sebagaimana perintah Allah SWT. (*)

Sumber: NU Online

Pasukan SAS Inggris Temukan Kepala 50 Perempuan Yazidi Korban ISIS di Tong Sampah

BAGHOUZ — Pasukan elite Inggris SAS dikabarkan menemukan pemandangan mengerikan ketika bertugas dalam operasi menumpas Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS).

Seorang sumber menuturkan, pasukan SAS menemukan kepala para perempuan Yazidi, yang disebut dijadikan budak seks ISIS, di tong sampah.

Diwartakan Daily Mirror, Selasa (26/2/2019), puluhan perempuan itu dieksekusi di dekat benteng terakhir ISIS di Baghouz, Suriah.

Dalam wawancara dengan Mail Sunday, sumber itu mengatakan, anggota ISIS memenggal perempuan Yazidi itu dan membuang kepalanya untuk ditemukan SAS.

"Aksi pembantaian pengecut dan memuakkan ini begitu jauh dari pemahaman manusia pada umumnya," ujar sumber tersebut.

Si sumber melanjutkan, para anggota SAS yang memasuki Baghouz itu tidak bisa melupakan pemandangan yang mereka lihat, dan membandingkannya dengan film Apocalypse Now.

"Saat ini, satu hal yang bisa menghibur mereka (SAS) adalah ketika bisa berkontribusi mengakhiri masa teror ISIS," lanjut sumber itu.

Pasukan elite yang dibentuk pada 1 Juli 1941 itu pada awal Februari ini menembakkan 600 mortar dan puluhan ribu peluru senapan mesin.

Serangan yang dilakukan SAS dilaporkan menewaskan 100 anggota ISIS dalam pertempuran di Baghouz di mana sumber menyatakan, konflik terjadi pada 9 Februari.

Dalam dua hari pertama serangan, sumber itu mengklaim 37 anggota ISIS terbunuh dan 19 fasilitas mereka hancur, termasuk pusat komando di Baghouz.

Dibantu kelompok Pasukan Demokratik Suriah (SDF), SAS mendesak ISIS sehingga kelompok itu terpaksa menggunakan terowongan sebagai jalur melarikan diri.

"Namun, tikus itu tak bakal bisa kabur karena meski terkena asap tebal, drone kami secara efektif bisa mengidentifikasi terowongan," kata sumber tersebut.

Dalam melancarkan operasi, SAS menggunakan teknologi biometrik yang dipakai untuk mengidentifikasi petinggi ISIS.
Sumber: Kompas