Pidato Lengkap KH Hasyim Asy’ari tentang Ideologi Politik Islam

Tulisan di bawah ini merupakan pidato pendiri Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam resepsi Muktamar Masyumi pertama di Solo pada 13 Februari 1946 yang saat itu menjadi Ketua Majelis Syuro Masyumi. Transkrip pidato tersebut kemudian dimuat dengan judul "Ideologi Politik Islam" di pembukaan buku “Kumpulan Anggaran Dasar” yang diterbitkan oleh Usaha Penerbitan “Ansor” yang beralamat di Jalan Menara 2, Kudus, Jawa Tengah, pada Juli 1954. Kemudian ditulis ulang dengan penyesuaian ejaan oleh Ayung Notonegoro.


Ideologi Politik Islam
Oleh Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari

Untuk memahami ideologi politik Islam, kita harus memeriksai riwayat berkembangnya Islam 1378 tahun yang lalu. Sebelum Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari Allah SWT, beliau suka bersunyi diri, berkhalwat ke gua atau gunung.

Di tempat yang sunyi itu, beliau berharap mendapat jalan kebenaran. Sebagai orang besar, yang mempunyai rasa tanggung jawab atas kebaikan atau keburukan umatnya. Beliau memandang masyarakat Quraisy adalah masyarakat yang buruk dan jahat.

Dipandang dari jurusan agama keburukannya jahiliyah itu tidak perlu diterangkan satu persatu.

Dan dari jurusan kemasyarakatan (sosial), masyarakat jahiliyah Quraisy itu jauh daripada baik. Masyarakat hanya teruntuk bagi orang-orang besar dan orang-orang kaya. Orang-orang lemah, terutama para budak sama sekali tidak mempunyai daya apa-apa. Mereka boleh diperlakukan oleh golongan yang kuat dengan sesuka-suka hatinya. Mereka tidak dianggap sebagai manusia, tetapi sebagai hewan sahaja. Perampasan hak orang lemah, dapat dilakukan oleh orang kuat dengan sesuka-sukanya, hingga penumpahan darah, pembunuhan di jalanan terhadap siapa saja yang dikehendaki. Hakim tidak ada lagi, kecuali pedang dan tombak.

Dipandang dari jurusan ekonomi, masyarakat jahiliyah orang Quraisy hanya memberi lapangan berekonomi kepada orang-orang terkemuka dan kaum berbangsa (ningrat) sahaja. Rakyat umum, terutama hamba sahaya hidupnya terlantar.

Di dalam hal politik, pemuka-pemuka orang Quraisy menduduki jabatan-jabatan, mulai yang penting hingga yang tidak penting. Jabatan-jabatan itu, telah ditetapkan bagi golongan-golongan yang khusus turun menurun. Sedang rakyat umum tidak mempunyai hak politik apa-apa, dan tidak dapat memangku jabatan-jabatan pemerintah. Di dalam masyarakat yang pincang demikianlah, junjungan kita Nabi Muhammad SAW menyiarkan keislaman.

Nabi kita menyiarkan keislaman di kalangan masyarakat Quraisy. Islam tidak cuma berarti usaha melepaskan orang dari syirik (bertuhan banyak), dan memasukkannya ke dalam tauhid (bertuhan Allah Yang Satu), akan tetapi Islam berarti juga perbaikan masyarakat jahiliyah, baik dalam hal sosial, politik dan ekonomi.

Yang mula-mula dijalankan Nabi Muhammad SAW ialah penyiaran tauhid. Dan di samping itu, menanam semangat persaudaraan Islam, dengan tidak membeda-bedakan antara keturunan, pangkat, kekayaan, dan kebangsaan. Persaudaraan Islam yang demikian ini, tampaknya sepintas lalu adalah soal kecil yang tidak berarti. Tetapi sebenarnya adalah dasar kerakyatan yang besar artinya, yang ditanam Islam sejak mulai Islam berkembang di atas dunia ini. Dengan menanam persaudaraan Islam ini, maka lenyaplah sifat tidak adil yang ada di dalam masyarakat.

Pihak pemimpin Quraisy yang berpegang teguh pada paham keningratan menentang dan menghalang-halangi penyiaran Islam. Mereka khawatir apabila maju dan tersiar, dan persaudaraan Islam merata di mana-mana, mereka tidak akan dapat berkuasa lagi, dan derajat mereka akan turun. Dan oleh karena itu, mereka terus menguatkan kemusyrikannya, sebab dengan kemusyrikan itu mereka dapat memperkuda-kudakan rakyat jelata dan memborong segala pangkat, kekayaan, kenikmatan dan kekuasaan di tangan mereka sendiri. Islam dipandang mereka sebagai bahaya besar yang akan merusak kehormatan, kekuasaan, pangkat dan kekayaan mereka.

Nabi Muhammad SAW melanjutkan usahanya menyiarkan Islam di Makkah di tengah-tengah masyarakat jahiliyah itu, tiga belas tahun lamanya. Selama itu bukan main hebatnya penderitaan beliau, dihinakan, disakiti, difitnah, diboikot dan pada suatu malam, di mana orang Quraisy sudah bermufakat akan membunuh beliau, berangkatlah beliau berhijrah [pindah] dari tumpah darahnya ke Madinah.

Sebelum Nabi Muhammad SAW sampai ke Madinah, di kota Madinah sudah agak ramai orang memeluk Islam. Sedatang beliau, maka bertambah luaslah tersiarnya agama Islam, dan di samping itu, diaturlah pergaulan hidup mereka menurut ajaran-ajaran Islam. Soal pemerintahan ditetapkan, soal kehakiman, soal kepolisian dijalankan, hingga soal militer pun demikian pula dilakukan oleh beliau, sebab di waktu itu, masyarakat belum teratur dengan sempurna sungguh-sungguh dan orang-orang yang ahli belum cukup banyak.

Jikalau macam-macam hal seperti di atas diputus, ditentukan dan dijalankan oleh beliau, itu tidaklah berarti bahwa beliau memutusi segala hal dengan semau-maunya sendiri dengan tidak mendengarkan pikiran orang lain. Di dalam hal-hal yang penting beliau seringkali bertanya pikiran sahabat-sahabat yang ahli dan berfikiran dalam dan berpemandangan luas.

Sepuluh tahun lamanya beliau menyusun masyarakat Islamiyah, hingga menjadi masyarakat yang sempurna, baik di dalam hal politik, sosial dan ekonomi. Terutama dalam hal agama, sekaliannya itu diusahakan dengan kebijaksanaan beliau, tidak dengan polisi rahasia, yang melanggar hak-hak orang dan tidak pula dengan kekuatan militer.

Sepeninggal beliau, pemerintah diteruskan oleh Sayyidina Abu Bakar RA dua tahun lebih dan kemudian sepeninggal beliau diteruskan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA sepuluh tahun lebih.

Adapun pokok daripada politik pemerintahan Islam selama dipegang oleh beliau bertiga itu, ialah:
1. Menetapkan hak yang sama bagi sekalian Muslimin;
2. Memecahkan kepentingan rakyat dengan jalan musyawarah;
3. Menetapkan keadilan.

Tentang contoh-contoh daripada penetapan hal yang sama bagi sekalian Muslimin, jika diceritakan satu persatu tentu sangat banyaknya, cukuplah satu contoh, yaitu ketika junjungan kita Nabi Muhammad SAW dengan tidak sengaja mengenai perut seorang sahabat dengan kayu pegangan tombak, hingga tergores kulitnya, beliau lalu menyuruh sahabat yang terkena tadi membalas, sebelum datang pembalasan di hari kiamat. Maka lalu dimaafkan oleh sahabat tadi.

Tentang menetapkan keadilan, dapatlah dilihat dari satu contoh lain, yaitu pada waktu pemerintahan Sayyidina Umar bin Khattab RA seorang bernama Ibnul ‘Asham sedang melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah kainnya terinjak seorang lelaki. Seketika itu juga Ibnul ‘Asham memukul hidung lelaki itu, hingga luka hebat. Setelah orang tadi mengadu kepada Sayyidina Umar RA memerintahkan supaya orang tadi membalasnya. Ibnul ‘Asham membantah dan mengatakan bahwa ia adalah seorang berpangkat tinggi, sedang laki-laki tadi orang biasa, apakah boleh dijatuhkan hukuman begitu? Sayyidina Umar RA menjawab bahwa Islam telah menyamaratakan antara mereka berdua. Ibnul ‘Asham tidak suka menerima hukuman dan melarikan diri ke luar negeri.

Satu contoh lain tentang keadilan. Seorang perempuan dari golongan Mahzum melakukan pencurian. Ia adalah masuk golongan berpangkat, maka beberapa orang lalu mengusahakan memintakan maaf dia pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Beliau lalu marah sangat dan bersabda: 

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ ، تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ ، أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ ، لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Artinya: "... Sesungguhnya yang menjadikan rusak umat sebelum kamu dahulu ialah apabila seorang berpangkat mencuri, mereka biarkan saja, dan apabila ada seorang rendah mencuri, maka mereka lalu menjalankan hukuman baginya. Demi Allah yang menguasai diriku, kalau Fatimah anak Muhammad [saya] itu mencuri, tentu saya potong tangannya...”

Tentang bentuk pemerintahan Islam, tidak ditentukan. Ketika junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW akan pulang ke rahmatullah, beliau tidak meninggalkan pesanan apa-apa tentang cara pemilihan kepala negara. Jikalau sekiranya beliau menetapkan satu cara tentu menjadi aturan yang tetap berlaku selama-lamanya, dengan tidak boleh diubah. Karenanya tidak ditentukan. Lalu Sayyidina Abu Bakar RA dipilih secara umum menjadi kepala negara. Waktu Sayyidina Abu Bakar RA akan berpulang, maka ditunjuknya Sayyidina Umar RA menjadi penggantinya. Dan waktu Sayyidina Umar RA akan berpulang, menyuruh bentuk komisi enam orang untuk memilih pengganti beliau sebagai kepala negara. Jadi tentang pemilihan kepala negara, dan banyak lagi hal-hal kenegaraan, tidak ditentukan, tidak diikat dengan satu cara yang menyempitkan. Semuanya terserah kepada umat Islam di tiap-tiap tempat.

Dari uraian di atas ternyata, bahwa syariat Islam tidak dapat berjalan dengan sempurna, apabila kepentingan umat Islam berjalan sendiri-sendiri lepas dari ikatan yang tentu-tentu. Tentang ini Sayyidina Umar RA berkata:


“...Lâ islâma illâ bi jamâ‘atin wa lâ jamâ‘ta illâ bi imâratin...”

Artinya: "...Islam tidak akan sempurna jalannya, melainkan dengan ikatan persatuan. Dan persatuan tidak berarti, melainkan dengan pemerintahan....”

Sekarang kita umat Islam Indonesia sudah lepas dari penjajahan, maka menjadi kewajiban bagi kita berusaha setindak demi setindak dengan jalan yang teratur, hingga pemerintahan Indonesia menjadi pemerintahan yang menjalankan syariat Islam. Kita umat Islam Indonesia seperti juga di zaman Nabi Muhammad SAW tidak merebut kedudukan dan pangkat, tidak ingin melanggar hak-hak orang. Sebagai ketika junjungan kita ditawari orang Quraisy: kalau beliau ingin menjadi raja, orang Quraisy semua suka menjadikan beliau raja. Kalau beliau ingin menjadi paling kaya, mereka suka mengumpulkan harta bendanya dan menyerahkannya kepada beliau. Kalau beliau ingin putri yang cantik, maka mereka bersedia mencarikannya guna beliau. Beliau lalu menjawab:


“....Wallâhi lau wadla‘û-s-syamsa fî yamînî wal qamara fî yasârî ‘alâ an atruka hâdza-l-amra, mâ taraktuhu au ahlika dûnahu...”

Artinya: “...Demi Allah, kalau sekiranya mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengat syarat supaya saya meninggalkan usaha menyampaikan perintah Allah ini, saya tidak akan meninggalkannya, atau saya dibinasakan, bukannya usaha itu...”

Kita umat Indonesia pun tidak ingin merebut kedudukan atau pimpinan, hanya kita ingin supaya orang yang berkedudukan dan memegang pimpinan menjalankan syariat Islam; sebagaimana perintah Allah SWT. (*)

Sumber: NU Online

Pasukan SAS Inggris Temukan Kepala 50 Perempuan Yazidi Korban ISIS di Tong Sampah

BAGHOUZ — Pasukan elite Inggris SAS dikabarkan menemukan pemandangan mengerikan ketika bertugas dalam operasi menumpas Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS).

Seorang sumber menuturkan, pasukan SAS menemukan kepala para perempuan Yazidi, yang disebut dijadikan budak seks ISIS, di tong sampah.

Diwartakan Daily Mirror, Selasa (26/2/2019), puluhan perempuan itu dieksekusi di dekat benteng terakhir ISIS di Baghouz, Suriah.

Dalam wawancara dengan Mail Sunday, sumber itu mengatakan, anggota ISIS memenggal perempuan Yazidi itu dan membuang kepalanya untuk ditemukan SAS.

"Aksi pembantaian pengecut dan memuakkan ini begitu jauh dari pemahaman manusia pada umumnya," ujar sumber tersebut.

Si sumber melanjutkan, para anggota SAS yang memasuki Baghouz itu tidak bisa melupakan pemandangan yang mereka lihat, dan membandingkannya dengan film Apocalypse Now.

"Saat ini, satu hal yang bisa menghibur mereka (SAS) adalah ketika bisa berkontribusi mengakhiri masa teror ISIS," lanjut sumber itu.

Pasukan elite yang dibentuk pada 1 Juli 1941 itu pada awal Februari ini menembakkan 600 mortar dan puluhan ribu peluru senapan mesin.

Serangan yang dilakukan SAS dilaporkan menewaskan 100 anggota ISIS dalam pertempuran di Baghouz di mana sumber menyatakan, konflik terjadi pada 9 Februari.

Dalam dua hari pertama serangan, sumber itu mengklaim 37 anggota ISIS terbunuh dan 19 fasilitas mereka hancur, termasuk pusat komando di Baghouz.

Dibantu kelompok Pasukan Demokratik Suriah (SDF), SAS mendesak ISIS sehingga kelompok itu terpaksa menggunakan terowongan sebagai jalur melarikan diri.

"Namun, tikus itu tak bakal bisa kabur karena meski terkena asap tebal, drone kami secara efektif bisa mengidentifikasi terowongan," kata sumber tersebut.

Dalam melancarkan operasi, SAS menggunakan teknologi biometrik yang dipakai untuk mengidentifikasi petinggi ISIS.
Sumber: Kompas

Gus Mus: Islam Kita Bukan 'Islam Saudi Arabia'

Yogyakarta - Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A Mustofa Bisri kembali menegaskan perbedaan antara muslimin Indonesia dan Arab Saudi. Meski keduanya menganut agama yang sama tapi masing-masing memiliki kekhasan budaya.

“Islam kita itu ya Islam Indonesia bukan Islam Saudi Arabia, bukan berarti kalau tidak pakai jubah dan sorban Islam kita tidak diterima,” katanya saat membuka Pameran Seni Rupa Nasirun di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa (2/10).

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini berpesan kepada umat Islam di Indonesia untuk meneladani Nabi Muhammad SAW secara tepat. Menurut dia, Nabi termasuk pribadi yang menghargai tradisi setempat dan berperangai menyenangkan.

“Rasulallah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian yang sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum) karena menghargai tradisi setempat. Nah, kalau Abu Jahal wajahnya  (pemarah). Silakan mau pilih yang mana?” katanya disambut gelak tawa hadirin.

Gus Mus membuka pameran yang hadir dalam bentuk tabligh seni Rubuh Rubuh Gedhang itu dengan menabuh beduk. Ia menilai, acara sejenis seharusnya diadakan bukan hanya di Yogyakarta namun juga di seluruh penjuru Nusantara. Hal ini sebagai wujud kecintaan masyarakat pribumi terhadap tradisi dan budaya di Tanah Air.

Turut mengisi pada acara ini dalang Wayang Suket Slamet Gundono, Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) Tegalrejo, Romo Sindunata, Kirun, Marwoto, Den baguse Ngarso, Djadug dan lainya. (Muyassaroh Hafidzoh/Mahbib)
Sumber: NU Online

Doa Terakhir (Part 1)


Oleh: Zulfa Ilmiah

Mana mungkin aku melupakan hari itu, hari terakhir kau mendoakan aku. Pada malam itu, sunyi senyap dan dingin, di balik bilik itu kau masih terjaga. Aku duduk di samping ranjang dan tersenyum perih, menatapmu lekat-lekat. Wajah yang selama ini mengisi hari-hariku, kini terbaring tak berdaya.


Kuraih tanganmu, dan kugenggam erat tangan keriput yang selama ini menengadah untuk mendoakanku, terasa hangat dan nyaman. Oh Tuhan!, betapa pilu hati ini, seakan seperti hujan di pagi buta. Tiba-tiba pipi ini basah oleh titik-titik bening. 

Dia menatapku lalu mulai berbicara dengan suara parau dan sedikit terbatuk, dia tetap melanjutkannya.  ''...............''

Aku tertunduk dan tak sanggup berkata apapun. Pesan-pesan dan doa-doanya tak pernah kulupakan. Kan selalu kudekap dalam rengkuhan ingatan ku.


Banser itu Bisa Galak, Bisa Lucu!


Oleh Rijal Mumazziq Z

Banyak anggota Banser yang dalam DNA-nya mengalir genetika pengawal ulama. Artinya, jika ditelusuri, leluhur mereka ini dulunya anggota laskar Diponegoro yang berdiaspora di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jika tidak, bisa dipastikan bapak maupun simbah mereka dulu pernah nderek (menyertai) kiainya bertempur dalam perang kemerdekaan. Ada jiwa keperwiraan yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, meski Banser diolok-olok dan difitnah, sampai kapan pun tetap ada peminatnya karena memang punya suplier tetap.

Meski terkadang lebih galak dibanding tentara betulan, tapi saya lebih sering menjumpainya bertingkah laku lucu tapi loyal, suka guyon tapi ikhlas mengabdi, sering membantu acara-acara keagamaan, dan kecintaannya terhadap para ulama.

Lagi pula, saya melihat, sahabat-sahabat saya yang menuduh Banser sering membubarkan pengajian memang bukan dari kalangan penikmat pengajian ala NU. Yaitu, jenis pengajian yang dikemas kolosal, mengundang penceramah yang punya selera humor, jamaahnya duduk lesehan, dan diakhiri tengah malam. Di dalam arena pengajian inilah Banser menjadi bintangnya. Bertanggung jawab atas keamanan, kondisivitas massa, hingga bagian penyalur logistik. Sifatnya kerja bakti, mengabdi, tanpa bayaran. Bahkan, sering ikut iuran dan tekor.

Jangan heran jika banyak kisah Banser yang unik, aneh-aneh, bahkan mengundang tawa. 

Misalnya, ketika warga Nahdliyyin hadir membludak dalam acara Istighosah Akbar II, 31 Mei 1998, kaum Muslimat NU tak mau ketinggalan. Mereka datang berombongan. 

Ketika ada Banser ganteng dan gagah ikut mengatur tertib parkir, ibu-ibu nyelutuk, "Wuih, Cak Bangser gagah yo, koyok tentara...."

Giliran menjumpai tentara yang agak tambun sedang mengatur lalu lintas, ganti mereka nyelutuk, "Walah, tentara kok kayak Bangser..."

*
Kalau tentara lagi apel akbar, biasanya akan ada inspeksi pasukan dari seorang jenderal sambil naik jip bak terbuka. Gagah berwibawa pokoknya.

Nah, tampaknya para Banser nggak mau kalah sama tentara. Dalam sebuah apel akbar, Ketua Umum GP Ansor, saat itu H. Slamet Efendi Yusuf, didaulat melakukan inspeksi pasukan menggunakan jip.

Jadilah saat itu Pak Slamet berdiri gagah di atas jip melakukan inspeksi ribuan Banser yang corak doreng-nya berbeda-beda itu. Wuih kerrreeeen! Aksi gaya para TNU alias Tentara Nahdlatul Ulama itu berjalan dengan lancar.

Jip merangkak pelan dan pasti. Pak Slamet menatap pasukannya dengan meyakinkan.

Sayang sekali, di tengah atraksi, tiba-tiba jipnya mogok.

Lhah! Pak Ketum GP Ansor tetap di atas jip, dengan posisi siaga, sembari menunggu si sopir menyalakan mesin.

Sayang, meski dicoba berkali-kali mesinnya nggak mau nyala.

Para Banser sudah mulai mesam-mesem.

Akhirnya Pak Slamet turun dari jip, dan memilih inspeksi jalan kaki sambil senyum-senyum.

"Mangkane tah, nggak usah gaya-gaya," kata Gus Dur terbahak-bahak saat mendengar cerita ini.

*
Selain Gus Dur, Kiai Hasyim Muzadi adalah Sohibul Hikayah mengenai polah tingkah Banser yang unik dan lucu-lucu. Ketika keduanya meledek para Banser, objek candaan hanya bisa menyambut dengan tawa.

Para kiai lain, silakan ditanya, pasti punya cerita soal Banser yang manusiawi. Banser bukan pekerjaan, sebagaimana digambarkan dalam film "Tanda Tanya", melainkan pengabdian. Mereka percaya, dalam khidmah kepada ulam, umat, dan bangsa, ada barakah yang mengalir untuk dirinya dan keluarganya. Inilah yang mereka harapkan. Karena itu, ketika membersamai dan mengawal ulama, biasanya mereka juga ikhlas diledek.

"Banser itu gayanya meyakinkan, sayang, rokoknya eceran," demikian Kiai Hasyim Muzadi meledek. Adapun yang diledek malah terbahak-bahak. 

"Besok, Banser itu masuk surga terlebih dulu daripada kiainya," kata Gus Muwafiq, dalam sebuah pengajiannya.

"Kok bisa Gus?"

"Jelas bisa, wong mereka bagian cek lokasi, kok!"

Wallahu A'lam Bisshawab.

* Penulis adalah Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyyah

Sumber: NU Online

Hubungan Erat Habib Umar bin Hafidz dengan NU

Jakarta - NU memiliki hubungan erat dengan para dzuriyah (keturunan) Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam atau habib. Dari waktu ke waktu, sejak NU didirikan selalu ada habib duduk di kepengurusan NU baik di tingkat cabang hingga di tingkat pusat. 

Hal itu diakui kalangan habib sendiri. Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus Bandung misalnya, pada pengantar buku Panggilan Selamat menyatakan, NU memiliki watak yang sangat menghormati dzuriyah (keturunan) Rasulullah atau para habib. 

Hingga hari ini hubungan semacam itu terus berlangsung. Misalnya NU memiliki kedekatan tersendiri dengan Habib Umar bin Hafidz, seorang ulama besar dari Yaman. Hubungan itu ditunjukkan dalam nuansa keilmuaan yaitu pengajian rutin tiap bulan melalui live streaming.

Sementara kitab yang dikaji adalah karya pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, yaitu kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim

“Penghormatan beliau terhadap ulama Indonesia dibuktikan dengan komitmen beliau secara terus-menerus untuk membacakan kitab karya Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari dalam forum live streaming bulanan dengan PBNU,” ungkap Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Hery Haryanto Azumi, Selasa (16/10). 

Menurut Sekretaris Jenderal Majelis Dzikir Hubbul Wathon ini, hal itu adalah suatu bukti nyata bahwa Indonesia menempati posisi yang sangat spesial di hati Habib Umar bin Hafidz.

Habib Umar, lanjut Hery, meyakini bahwa kebangkitan Islam akan datang dari Indonesia. Ia ingin memastikan bahwa kebangkitan itu bermakna positif dan memberikan kontribusi besar terhadap perbaikan dunia dan peradaban umat manusia. 

Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) 2005-2008 ini menambahkan, Habib Umar bin Hafidz adalah seorang ulama yang selalu mendorong agar kaum Muslimin di seluruh dunia bangkit dan berperan serta dalam memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat bangsa dan negaranya. 

“Dalam berbagai forum selama perjalanan beliau di Indonesia, para ulama, kiai, masyarakat umum bahkan tokoh-tokoh lintas agama berdatangan untuk mendengarkan nasihat-nasihatnya dan berdiskusi tentang berbagai permasalahan,” jelasnya. (Abdullah Alawi)
Sumber: NU Online

Habib Umar bin Hafidz Dijadwalkan Kaji Kitab Hadratussyekh Hasyim Asy’ari di Jakarta

Jakarta - Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dijadwalkan akan mengkaji Kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim dan Bahjatul Mahafil di Hotel Aryaduta, Jakarta pada Sabtu, (13/10) pukul 15.00 -17.30 Wib.

Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama antara Pengurus Syuriah PBNU, Majelis Muwasholah dan Majelis Dzikir Hubbul Wathon. Wasekjen PBNU Hery Haryanto Azumi mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang digelar sebulan sekali yang biasanya diselenggarakan melalui teleconference dari kediaman Habib Umar bin Hafidz di Yaman.

“Ini adalah kali kesepuluh penyelenggaraan kegiatan ini. Sebelumnya biasanya teleconfrence tapi sekarang alhmadulillah Habib Umar bin Hafidz bisa langsung rawuh di Jakarta,” kata Hery H Azumi kepada NU Online, di Jakarta, Jumat (12/10).

Dalam rangkaiannya, acara akan dimulai dengan Shalat Ashar berjamaah. Kemudian acara dilanjut dengan istighotsah yang akan dipimpin oleh PJ Rais ‘Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar yang akan dilanjutkan pembacaan Tahlil dan Maulid oleh Habib Ahmad Alhabsyi Pasuruan. 

Habib Umar bin Hafidz dijadwalkan akan mengkaji kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan Bahjatul Mahafil karya Imam Yahya bin Abu Bakar Al-Amiri.

Hery menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari keinginan untuk mengetengahkan pemikiran ulama Nusantara kepada umat Islam di seluruh dunia. Pemikiran ulama Indonesia dianggap dapat menjadi alternatif bagi pemikiran Islam di dunia saat ini. 

“Menjelang seabad NU kami berpikir bahwa sumbangan pemikiran ulama NU yang universal dapat dipromosikan ke ulama-ulama Internasional. Dan Alhamdulillah yang terdepan dalam upaya mempromosikan adalah Habib Umar bin Hafidz selama ini,” ujarnya. 

Dari itu semenjak bulan Maulid 1439 H atau sekitar sepuluh bulan lalu, pengajian rutin ini digelar setiap bulannya melalui teleconference

Dalam kunjungannya ke Indonesia saat ini, Habib Umar bin Hafidz dijadwalkan mengunjungi beberapa kota untuk memberikan ceramah dan pengajian seperti Ciledug, Cidodol dan Jakarta, Sumedang, Bandung dan Cirebon Jawa Barat, serta Samarinda Kalimantan Timur. Seluruh rangkaian ini kegiatan ini ditempuh selama 10 hari mulai 5 hingga 15 Oktober 2018. (Ahmad Rozali)
Sumber: NU Online