Habib Salim Asy-Syathiri: Doa Ibu Lebih Manjur dari Wali Besar Sekalipun


Di Tarim Hadhramaut Yaman, setiap orang yang datang menghadap Habib Salim Asy-Syathiri atau habaib sepuh Tarim yang alim untuk dimintai doa, selalu mendapat pertanyaan yang sama, “Apakah kamu masih memiliki permata (ibu) di rumahmu?”

Jika jawabannya masih, maka beliau dengan halus mengatakan,“Tahukah kamu, bahwa doa ibu untukmu lebih mulia dan makbul daripada doa seorang wali besar sekalipun?”

Ketika Habib Umar Bin Hafidz dan Habib Ali Masyhur Bin Hafidz masih bayi dan sering menangis, ibunda mereka Hubabah Zahra akan memeluk dan membelai anak-anaknya sambil mengusap kepala mereka. Kepada Habib Ali Masyhur, beliau sering berbisik, “Mufti, Mufti”. Dan sekarang menjadi kenyataan Habib Ali Masyhur telah menjadi Mufti Yaman.

Kepada Habib Umar sang ibu selalu berdoa, “Dai, Dai”. Dan terbukti kini Habib Umar Bin Hafidz telah menjadi Dai Islam yang sangat masyhur di jaman ini.

Rasulullah Saw. bersabda: “Orangtua adalah pintu surga yang paling tengah, maka jangan sia-siakan pintu itu atau jagalah ia.” (HR. at-Tirmidzi).

Ingat, ibu adalah pintu surga bagi anak-anaknya, dan ayah adalah jembatan menuju kepadanya. Air susu ibu yang kita minum adalah saripati makanan hasil jerih payah dan keringat ayah yang mencari nafkah untuk keluarga. Karena itu, muliakanlah mereka.

Mau keluar rumah, jangan lupa cium tangan ibu dan ayah. Ingatlah ketika kita masih kecil, kita selalu dipeluk dan diciumnya. Bila kita sudah bekerja atau berkeluarga, atau tak tinggal serumah, sering-seringlah mengunjunginya. Bila tidak memungkinkan, teleponlah agar beliau senang dan ridha atas seluruh jerih payah dan setiap tetesan susu yang telah menjadi darah daging kita. Semoga Allah Swt. meridhai kita dan keluarga tercinta. Amin.

Sumber: Santri Online
Tahun Politik dan Isu PKI

Tahun Politik dan Isu PKI

Mencermati perkembangan beberapa bulan terakhir ini, isu dan praktik kekerasan di negeri ini tengah menjadi perbincangan. Tentunya kita harus pandai, bijak, dan cerdas dalam mencerna segala informasi yang tengah berkembang.

Mengenai isu bangkitnya PKI (Partai Komunis Indonesia), isu semacam ini akan sering berembus pada tahun politik. Tahun politik ini menjadi ajang kontestasi gagasan, kekuatan, sekaligus isu-isu yang saling memengaruhi.

Mengapa? Karena sebagaimana kita tahu, bahwa isu ini sangat sensitif dan mudah menyulut emosi dan perasaan segenap lapisan bangsa ini. Kita semua sepakat bahwa PKI telah menjadi partai terlarang secara hukum dan sampai sekarang masih berlaku. 

Kalau saya ditanya, bagaimana jika PKI hidup kembali? Saya tentu akan dengan tegas menjawabnya, tidak. Namun, akan lain soal jika pertanyaannya adalah, bagaimana mengenai wacana/polemik bangkitnya PKI? Tentu jawabannya akan sangat panjang dan tidak mungkin saya tuangkan dalam renungan pendek ini. Sebuah jawaban yang paling sederhana adalah dulu tentara yang membasmi PKI, kalau sekarang PKI akan bangkit lagi, tentu tentara tidak akan tinggal diam. Kecuali jika tentara sudah tiada semuanya, bolehlah kita sedikit gusar atas isu bangkitnya PKI.

Saya sangat mencermati kejadian-kejadian mutakhir mengenai ancaman teror kepada para pemuka agama, terlebih pada para anutan kita: Kiai. Seringkali saya jumpai bahwa fakta dan isu yang dikembangkan melalui broadcast di sosial media tidaklah sama. Sebaran informasi yang tidak bertanggungjawab itu sudah dibumbui, ditambahi penyedap, supaya menjadi gorengan, murahan.

Kita seringkali terjebak pada sebuah broadcast. Kita terima dan langsung kita share, tanpa terlebih dahulu melakukan ricek, sehingga kita akan menjadi bagian yang tidak bertanggungjawab atas sebaran informasi yang telah secara tidak sengaja ikut kita kembangkan itu. Atas berita yang kita terima, jika kita tidak mampu melakukan ricek, akan lebih baik jika kita diamkan dan menunggu informasi valid dari pihak-pihak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai satu contoh, saya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Pondok Pesantren Al Falah Ploso (Kediri) tempo hari. Begitu mendapati sesuatu yang mencurigakan, langsung diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diproses. Inilah karakter pesantren yang menjadi jati diri kita. Kejadian di Al Falah Ploso hampir saja menjadi isu besar yang tidak bertanggungjawab jika tidak segera diambil langkah antisipatif. 

Kalau bicara soal pembelaan kita terhadap kiai, tentu tidak perlu kita pertanyakan lagi. Semboyan kita adalah, "Bela Kiai Sampai Mati!" Artinya apa, kita tidak akan pernah mundur sejengkal pun ketika para kiai kita diteror, diancam, dan sederet perbuatan tidak pantas lainnya. Dalam membela kiai, kita tentu akan mematuhi aturan hukum yang berlaku. Bukan karakter kita untuk main hakim sendiri.

Disuruh atau tidak, diminta atau tidak, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga para kiai kita. Apakah kita menjaga kiai karena kiai tidak mampu menjaga dirinya? Tidak! Mereka sudah tidak ambil pusing soal keamanan dirinya. Karena bagi mereka yang terpenting adalah bagaimana mengayomi dan menemani umat dan masyarakat dan kehidupan sehari-harinya. Dan soal menjaga kiai adalah bagian dari kewajiban kita sebagai Pagar NU dan Bangsa.

Oleh karenanya, mengapa saya serukan untuk selalu sowan (kunjungan silaturahim) kiai, karena banyak hal yang akan kita terima dari mereka. Tidak hanya menjaga energi, tapi juga sekaligus menjaga para kiai sepanjang waktu.

Kiai kita adalah para kiai yang selalu teduh dalam bersikap, ramah dalam ber-mu'asyarah, dan bijak dalam bertindak. Kiai mengajari kita bagaimana beretika dan bersopan santun. Kita juga belajar apa dan bagaimana arti penting tabayyun dari mereka. Pelajaran banyak dan dahsyat ini akan selalu kita temui dalam keseharian kiai, bukan hanya teori. Dan teror atau ancaman yang kini tengah terjadi adalah bagian kecil dari perjuangan kiai.

Akhirnya, saya mengajak semua pendekar untuk bergandeng tangan menjaga kiai kita dan merapatkan barisan kita. Secara berkala, kita harus berkoordinasi dengan pengurus NU dan aparat yang berwenang. Tujuannya untuk menjaga keamanan juga perlu peran serta masyarakat mewujudkan dan menciptakan rasa aman. Juga untuk menciptakan rasa aman, tidak perlu terlebih dahulu diciptakan rasa tidak aman.

Semoga Allah senantiasa meridlai segala langkah kita.

Oleh Muchamad Nabil Haroen
Ketua Umum PP Pagar Nusa
Sumber: NU Online

Catatan Pagar Nusa Sowan Kiai-kiai Banten

Pimpinan Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa, sebelum dilantik, melakukan sowan kepada kiai-kiai khos NU, di antaranya kepada KH Ratu Bagus Syah Ahmad Syar’i Mertakusuma di Padarincang, Ciomas, Serang, Banten, (16/1).

Mendapatkan kesempatan diterima langsung oleh beliau, Kiai Syar’i, adalah kesempatan yang istimewa. Beliau bertutur dengan bahasa khas beliau sendiri. Ketika saya menghaturkan permohonan beliau menjadi mujiz dan hadir pada agenda Ijazah Kubro, saya tidak menyangka beliau dengan gembira menyatakan berkenan hadir. Sungguh saya sangat terkejut sekejut-kejutnya.

Mendengar saya bercerita dan melaporkan kondisi Pagar Nusa terkini dan salam dari pendekar se-Nusantara, beliau tersenyum. Dan lagi-lagi ini juga kejadian yang langka.

Saya tidak bisa melukiskan bagaimana bahagianya bisa sowan beliau dan mendapatkan pengalaman yang sungguh luar biasa. Yang pasti apa yang saya alami adalah pertanda bahwa beliau merestui langkah-langkah kita. Kehadiran beliau nanti adalah jawaban, bahwa kita semua adalah santri beliau, dan demi NU dan bangsa.

Kiai Syar’i, Kiai Syar’i, Kiai Syar’i....

Ki Kudung dan Kesaktian Shalawat
Selepas sowan kepada Kiai Syar’i, perjalanan berlanjut untuk sowan kepada Dewan Khos, KH Rofiuddin Mufassir. Kiai muda yang akrab juga dipanggil Ki Kudung adalah “potret” ayahandanya, Abuya Mufassir. Arahan dan petunjuk yang saya terima, adalah untuk segera sowan Ki Kudung.

Wajahnya yang teduh, senyumnya yang ramah, serasa menyiram apa pun yang ada di hati ini. Dingin. Sebagai Dewan Khos, beliau memberi kami wejangan dan arahan. Bagaimana Pagar Nusa menempatkan diri, mengambil langkah, dan meneguhkan keyakinan, dikupas tuntas oleh beliau.

Beliau juga menyampaikan ijazah yang akan disampaikan pada saat Ijazah Kubro nanti. Mulai dari kaifiyyah (cara) hingga fadhilah (keutamaan). Sungguh dahsyat, kesaktian shalawat. 

Kiai yang tak pernah sepi dan lelah menjadi pelayan umat ini selalu mejadi tempat mengadu. Dalam sekejap saja, saya sudah belajar banyak hal. Bagaimana bersabar, bagaimana berusaha bersikap arif, dan menepati janji.

Dan di akhir pertemuan, kami mendapatkan pemahaman yang lebih luas bagaimana berkhidmah pada ulama, berkhidmah pada kiai. (Nabil Haroen, Ketua Umum Pagar NU)

Sumber: NU Online

Habib Luthfi Diminta Pimpin Thariqah Seluruh Dunia

Pekalongan - Rais Aam Jami’yyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya merasa bersyukur saat ini thariqah mampu memberikan contoh yang baik dalam menyatukan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

“Alhamdulillah sepanjang ini thariqah di Indonesia menjadi percontohan dalam hal kesatuan ini,” ujar Habib Luthfi bin Yahya dalam penutupan Muktamar XII JATMAN di Pekalongan, Kamis, (18/1).

Menurut Habib Luthfi, di luar negeri kecemburuan sosial sangat mencolok. Tapi yang mulai dirintis Kiai Mushlih Mranggen dan sesepuh terdahulu bisa mempersatukan 41 thariqah al-mu’tabarah. 

“Dan satu thariqah mempunyai banyak cabang. Jika ditotal jumlah thariqah seluruh dunia mencapai 300 cabang thariqah,” ungkapnya dilansir Jatman Event.

Habib Luthfi menyatakan, dirinya diminta untuk mempersatukan jam’iyah thariqah di seluruh dunia. “Maka saya sudah memuwasyarahkan dengan para muktamirin dari luar negeri,” tuturnya.

Hampir setiap kali Habib Luthfi berjumpa dan dikunjungi ulama-ulama thariqah dari luar negeri selalu diminta untuk memimpin thariqah seluruh dunia.

Bahkan dengan tegas di hadapan ratusan ribu hadirin Maulid Akbar Kanzus Sholawat, Syekh Umar Hadhrah dari Sudan menyatakan, “Habib Luthfi bin Yahya adalah Rais Aam thariqah seluruh dunia!”

Sudah dua kali Habib Luthfi mengadakan Konferensi Internasional ulama-ulama sufi, Januari dan Juli 2016, keduanya dilaksanakan di Pekalongan.

Para tamu luar negeri dari 40 negara merasakan hal yang sama bahwa Konferensi Bela Negara yang digagas JATMAN harus dicontoh oleh ulama seluruh dunia. Sudah waktunya ulama sufi menjadi tokoh pemersatu perdamaian dunia.

“Insyaallah bulan Maret akhir akan mengumpulkan thariqah seluruh dunia menjadi Muktamar Aam Thariqah se-Dunia. Rencananya akan diadakan di Jakarta atau Pekalongan, sehingga Indonesia menjadi muara thariqah seluruh dunia yang bersumber di Indonesia,” ucap Habib Luthfi di hadapan muktamirin di Pekalongan. (Red: Fathoni)

Sumber: NU Online
Puluhan Mercon Meledak di Tangan Mbah Tarjo

Puluhan Mercon Meledak di Tangan Mbah Tarjo

Pekalongan - Mbah Tarjo, Banser senior dari Pekalongan Timur unjuk kebolehan lagi. Mbah Tarjo memperagakan keterampilannya dalam memegang rangkaian mercon yang jumlahnya puluhan.

Tak sekadar dipegang. Mercon itu disulut, dan terus menerus meledak di sekitarnya. Tentu saja tak seperti manusia kebanyakan yang mungkin langsung melepuh terkena letusan mercon. Mbah Tarjo tetap tenang memegang rangkaian mercon yang satu per satu meletus di sekitarnya.

Aksi itu Mbah Tarjo lakukan saat pembukaan Diklat Terpadu Dasar (DTD) Banser PAC GP Ansor Pekalongan Timur, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (29/12) lalu.

DTD berlangsung di Madrasah Aliyah Salfiyah Pekalongan selama tiga hari hingga Ahad (31/12). Peserta DTD mencapai 150 orang dengan perincian 13 perempuan dan 137 laki-laki. 

Pada apel pembukaan Wali Kota Pekalongan, Saelany Mahfudz, membuka DTD secara resmi. Dalam sambutannya Wali Kota mengapresiasi PC GP Ansor Pekalongan Timur yang melaksanakan DTD, sehingga kaderisasi dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) berlanjut.

Ia menekankan pentingnya mengabdi di NU dan akan mendapatkan keberkahan karenanya.

”Mengabdi di NU penuh keberkahan, sehingga jangan segan mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh NU, khususnya GP Ansor,” kata Saelany.

Ia mengatakan pelaksanaan DTD diharapkan bisa menjaring kader-kader NU yang militan sehingga mampu menjadi penyangga berjalannya roda organisasi di tubuh GP Ansor, khusunya PAC GP Ansor Pekalongan Timur.

"Kader militan sangat dibutuhkan oleh NU demi berjalannya roda organisasi," tandas Saelany.

Diperlukan Kader Gila
Ribut Achwandi pemateri Keorganisasian juga berharap betul, DTD dapat memunculkan kader-kader yang bisa berbuat banyak untuk regenerasi GP Ansor.

“Butuh kader gila dalam mengurus organisasi, karena mengabdi di GP Ansor tidak ada uangnya, namun dituntut dengan loyalitas,” ujar dia.

Kata gila yang dimaksud Ribut adalah kader yang mempunyai keikhlasan yang kuat dalam menjalankan program-program organisasi.

Pada malam penutupan, peserta juga diberikan ijazah Asmaul Husna 99 oleh Banser Densus. Jika ijazah tersebut diamalkan, akan berguna untuk penjagaan diri saat menghadapi bahaya. (Red: Kendi Setiawan)

Sumber: NU Online

Perkataan Umar Ketika Bebaskan Yerusalem


Jakarta -- Tegak berdiri di bumi Palestina, Masjid al- Aqsa merupakan satu dari tiga situs suci umat Islam. Posisinya di Yerusalem membuat al-Aqsa berada di jantung konflik tiga agama besar. Islam, Kristen, dan Yahudi bersama-sama mengajukan klaim kepemilikan. Situs bersejarah ini telah berulang kali menyaksikan konflik dan perebutan kekuasaan.


Firas Alkhateeb dalam The Al Aq sha Mosque Through The Ages merunut cikal bakal al-Aqsa sudah ada sejak masa nabi-nabi terdahulu. Hadis Rasulullah dari Abu Dzar al- Ghifari menyebutkan, al-Aqsha adalah masjid tertua di dunia setelah al-Haram.

Hadis ini mengisyaratkan, Masjid al-Aqsa sudah ada sejak anak turun pertama Ibrahim. Ibnu Qayyim al-Jauzy menerangkan, Nabi Yaqub dan Dawud diketahui pernah membangun ulang masjid tersebut. Kemudian, Sulaiman merenovasinya pada tahun 960 SM.

Sejak awal, situs ini berstatus masjid, bukan kuil atau sinagog. Ketika Islam diturunkan di jazirah Arab, agama ini melanjutkan ajaran tauhid dari nabi-nabi sebelumnya. Kuil Sulaiman yang dibangun di Yerusalem pada zaman kuno otomatis menjadi bagian dari sejarah Islam.

Masjid al-Aqsa, disebut juga Bait al-Maqdis. Masjid ini berlokasi di sebuah area persegi empat yang disebut al-Haram asy-Syarif. Luas kompleks itu sekitar 133.950 meter persegi. Berbentuk persegi empat, al-Aqsa hanya memiliki satu kubah. Orang sering salah mempersepsikan masjid ini dengan situs di sebelahnya, Dome of The Rock atau Kubah Batu yang memiliki kubah keemasan menjulang.

Masjid al-Aqsha telah bertahan melintasi berbagai masa. Yerusalem Masjid al-Aqsa kembali ketangan Muslim semasa Umar bin Khattab pada 638 M. Sejumlah literatur mencatat peristiwa penak lukkan bersejarah ini. Mulai dari al- Bidayah wa an-Nihayah karya Ibnu Katsir, Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal, Jerusalem: The Biography karya Simon Sebag Montefiore, hingga Karen Armstrong dalam Jerusalem Satu Kota Tiga Iman.

Pada tahun 637 M, pasukan Islam sudah mendekati wilayah Yerusalem. Saat itu Yerusalem dibawah tanggung jawab Pemimpin Kristiani Uskup Sophronius sebagai perwakilan Bizantium dan kepala gereja Kristen Yerusalem. Ketika pasukan Islam dibawah kepemimpinan Khalid bin Walid dan Amr bin Ash mengepung kota suci tersebut Sophronius tetap menolak untuk menyerahkan Yerusalem kepada umat Islam kecuali jika Khalifah Umar bin Khattab yang datang langsung menerima penyerahan darinya.

Mendengar kabar tersebut, Umar langsung berangkat dari Madinah menuju Yerusalem. Sang khalifah berangkat dengan hanya berkendara keledai dengan ditemani satu orang pengawal. Setibanya di Yerusalem, Umar disambut oleh Sophronius yang benar-benar merasa takjub dan kagum dengan sosok pemimpin muslim satu ini. Salah seorang yang paling berkuasa di muka bumi kala itu, hanya menyandang pakaian sederhana yang tidak jauh berbeda dengan pengawalnya.

Umar diajak mengelilingi Yerusalem, termasuk mengunjungi Gereja Makam Suci (menurut keyakinan Kristen, Nabi Isa dimakamkan di gereja ini). Ketika waktu shalat tiba, Sophronius mempersilahkan Umar untuk shalat di gereja namun Umar menolaknya.

Umar khawatir kalau seandainya ia shalat di gereja tersebut, nanti umat Islam akan merubah gereja ini menjadi masjid dengan dalih Umar pernah shalat disitu sehingga menzalimi hak umat Nasrani. Umar shalat di luar gereja, lalu tempat Umar shalat itu dibangun Masjid Umar bin Khattab.

Sebagaimana kebiasaan umat Islam ketika menaklukkan suatu daerah, mereka membuat perjanjian tertulis dengan penduduk setempat yang mengatur hak dan kewajiban antara umat Islam Yerusalem dan penduduk non-Islam. Perjanjian ini ditandatangani oleh Umar bin Khattab, Uskup Sophronius, dan beberapa panglima perang Islam. Teks perjanjian tersebut adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah jaminan keamanan dari hamba Allah, Umar, amirul mukminin, kepada penduduk Yerusalem. Umar memberikan jaminan terhadap jiwa mereka, harta, gereja gereja, salib-salib, orang-orang yang lemah, dan mereka tidak dipakasa meninggalkan agama mereka. Tidak ada seorang pun diantara mereka yang merasa terancam dan diusir dari Yerusalem.

Dan orang-orang Yahudi tidak akan tinggal bersama mereka di Yerusalem. (Ini adalah permintaan penduduk Yerusalem, karena penduduk Yerusalem sangat membenci orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi membunuhi tawanan Nasrani di wilayah Persia. Sampai ada riwayat yang menyebutkan, Umar menjamin tidak ada Yahudi yang lewat dan bermalam di Yerusalem).

Penduduk Yerusalem diwajibkan membayar pajak sebagaimana penduduk kota-kota lainnya, mereka juga harus mengeluarkan orang orang Bizantium, dan para perampok. Orang-orang Yerusalem yang tetap ingin tinggal di wilayah Bizantium, mereka boleh membawa barang-barang dan salib-salib mereka.

Mereka dijamin aman sampai mereka tiba di wilayah Bizantium. Setelah itu mereka pun masih diperbolehkan kembali lagi ke Yerusalem jika ingin berkumpul dengan keluarga mereka, namun mereka wajib membayar pajak sebagaimana penduduk lainnya. Apabila mereka membayar pajak sesuai dengan kewajiban, maka persyaratan yang tercantum dalam surat ini adalah di bawah perjanjian Allah, Rasul-Nya, Khalifah, dan umat Islam. (Tarikh at-Thabari).

Pada waktu itu, apa yang dilakukan Umar bin Khattab adalah langkah yang benar-benar maju dalam masalah perjanjian. Sebagai perbandingan, 23 tahun sebelum Yerusalem ditaklukkan umat Islam, wilayah Bizantium ini pernah ditaklukkan oleh Persia saat itu Persia memerintahkan melakukan pembantaian terhadap masayarakat sipil Yerusalem. Kejadian serupa terjadi ketika Yerusalem yang dikuasai umat Islam ditaklukkan pasukan salib pada tahun 1099 M. 

Sumber: Republika

Muhasabah Kebangsaan 2018, PBNU Soroti Sejumlah Problem Terkini

Jakarta-Memasuki tahun baru 2018, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar muhasabah atau renungan kebangsaan untuk menyoroti sejumlah problem bangsa di bidang demokrasi, politik, dan radikalisme. Persoalan ini tidak terlepas karena 2018 merupakan tahun politik di mana pemilu serentak di berbagai akan berlangsung.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, demokrasi merupakan pilihan terbaik sebagai sistem penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk. Namun demikian, menurutnya, dampak dari praktik berdemokrasi saat justru memunculkan problem sosial seperti politik uang dan isu SARA.

“Jika politik uang merusak legitimasi, maka politik SARA merusak kesatuan sosial melalui sentimen primordial yang mengoyak kehidupan berbangsa yang sudah susah payah dirajut oleh para pendiri bangsa,” ujar Kiai Said, Rabu (3/1) di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini, pergelaran Pilkada DKI 2017 masih menyisakan noktah hitam bahwa perebutan kekuasaan politik dapat menghalalkan segala cara yang merusak demokrasi dan menggerogoti pilar-pilar NKRI.

Pengalaman ini harus menjadi bahan refleksi untuk mawas diri. Demokrasi harus difilter dari ekses-ekses negatif melalui literasi sosial dan penegakan hukum. 

Masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam penyelenggaraan demokrasi yang sehat tanpa politik uang dan sentimen primordial. Aparat penegak hukum harus kredibel dan andal dalam penegakan hukum terkait kejahatan politik uang dan penggunaan sentimen SARA. 

“Ini penting karena pada tahun 2018 dan 2019, Indonesia memasuki tahun-tahun politik,” jelas Kiai Said dalam acara bertajuk Muhasabah Kebangsaan: Doa, Harapan, dan Optimisme di Tahun 2018 ini.

Selain menyoroti problem kebangsaan di bidang demokrasi dan politik, PBNU juga menyotoroti persoalan upaya menangkal radikalisme dan menemukan solusi dari ketimpangan kehidupan rakyat di bidang ekonomi.

Dalam kegiatan yang menghadirkan sejumlah awak media tersebut, Kiai Said didampingi Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Waketum PBNU H Maksum Mahfoedz, Ketua PBNU Robikin Emhas, dan sejumlah pengurus lain.

Dalam kesempatan muhasabah ini, hadir Habib Sayid Umar Hafidz dan sejumlah habaib lain untuk menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Adapun kitab yang akan dikaji adalah Adabul 'Alim wal Muta'alim karangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. (Fathoni)

Sumber: NU Online