Ini Rangkaian Kegiatan Sambut Hari Santri 2018

Jakarta - Sambut Hari Santri 2018, Kementerian Agama siapkan sejumlah rangkaian kegiatan. Hari Santri diperingati sejak 2015 setiap 22 Oktober. Tanggal tersebut merujuk pada tercetusnya fatwa Resolusi Jihad yakni perjuangan santri-kiai mempertahankan Kemerdekaan dari Sekutu pada 1945 silam. 

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Ahmad Zayadi mengatakan bahwa Kemenag selama tiga tahun ini selalu konsisten memeriahkan perayaan Hari Santri sebagai bentuk apresiasi pemerintah atas jasa-jasa kalangan pesantren yang eksistensinya terbukti berkomitmen mengawal bangsa Indonesia.

“Untuk tema, logo dan rangkaian kegiatan Hari Santri tahun ini akan di-launching pada 10 Agustus nanti oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kantor Kemenag Pusat,” tuturnya, di Jakarta, Kamis (02/08).

Hari Santri 2018 bertemakan, “Bersama Santri, Damailah Negeri”. Berikut rangkaian kegiatan sambut Hari Santri:

29 Juli - 28 September : Santri Millennial Competitions (Lomba Desain Meme, Video Iklan Masyarakat tentang Moderasi Islam, dan Video Lalaran Nadham Alfiyyah)

1. 11 - 12 Agustus : Kopdar Akbar Santrinet Nusantara dan Car Free Day Bershalawat bersama Nissa Sabyan di Jakarta

2. 29 & 31 Agustus : Pesan Trend (Ngaji kitab Ihya’ ulum al-din bersama Gus Ulil Abshar Abdalla) di Jakarta

3. September-Oktober : Pesantren Business Challenge (ajang pengembangan ekonomi dan bisnis di lingkungan pesantren)

4. 18 – 20 September : Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Yogyakarta

5. 19 September : Ketika Kyai, Nyai, Santri Berpuisi dan Pegon Exhibition di Yogyakarta

6. 1 – 7 Oktober : Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) di Jambi

7. 21 Oktober : Santriversary (Malam puncak Hari Santri) di Bandung

Malam puncak Hari Santri 2018 rencananya akan dihadiri Preside Joko Widodo serta para pejabat pemerintah pusat maupun daerah. Nissa Sabyan dan Musik Orkestra Santri juga akan mengiringi acara yang rencananya ditempatkan di Lapangan Gasibu, Bandung.

Zayadi berharap masyarakat, terutama kalangan pesantren, dapat antusias untuk mengikuti rangkaian kegiatan Hari Santri yang diadakan Kemenag.

“Hari Santri bukan hanya milik pesantren, tapi segenap bangsa Indonesia juga memilikinya,” pungkasnya. (M. Zidni Nafi’)

Sumber: Kemenag


32 Hektare Lahan di Muba Terbakar, BPBD Muba Tetapkan Status Siaga Darurat

Sekayu - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) menetapkan status siaga darurat terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah terjadi satu pekan terakhir.

Hal tersebut mengingat setelah sejumlah kecamatan di Kabupaten Muba antara lain Kecamatan Bayung Lencir dan Kecamatan Sekayu mengalami karhutla.

Kepala BPBD Muba, Haryadi Karim, mengatakan bencana karhutla yang terjadi di Kabupaten Muba sudah cukup mengkhawatirkan.

Dimana, sejak satu pekan terakhir sejumlah lahan gambut atau semak belukar yang ada mengalami kebakaran disebabkan oleh cuaca kemarau membuat vegatasi menjadi kering.

“Saat ini sudah memasuki musim kemarau, jadi lahan gambut yang ada seperti di Kecamatan Bayung Lencir mudah sekali terbakar. Oleh karena itu, dalam mencegah karhutla semakin meluas kita telah menerjunkan 2 tim dan dibantu oleh TNI, Polri, dan Manggala Agni,”kata Haryadi, Senin (30/7/18).

Lanjutnya, upaya pemadaman karhutlah di dua kecamatan yakni Kecamatan Bayung Lencir dan Kecamatan Sekayu berjalan sedikit kesulitan dikarena medan yang sulit, tetapi di bantu Water Bombing pihak perusahaan. Dari data yang ada bencana karhutlah yang terjadi Kecamatan Bayung Lencir telah membakar kurang lebih 30 hektare sedangkan Kecamatan Sekayu 2 Hektare. 

“Lahan yang terbakar sendiri vegitasi semak belukar yang mengalami kekeringan, saat ini tim terus berupaya melakukan pemadaman dibantu TNI, Polri, Manggala Agni, serta perusahaan. Kita juga terus berupaya menghimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan karena dampak yang ditimbulkan sangat berbahaya,”jelasnya.

Sementara, Kapolres Muba AKBP Andes Purwanti SE MM bersama Dandim 0401 Muba Letkol CZI Mulyadi turun langsung memadamkan api di lahan gambut yang berada di Desa Muara Medak Kecamatan Bayung Lencir, Muba, Sabtu (28/7/18).

Dengan menggunakan alat pemadam pompa air Kapolres Muba bersama Dandim beserta anggota Tim Karhutla berjibaku untuk memadamkan api di lahan hutan gambut yang terbakar.

Diketahui lahan sudah terbakar pada saat team patrol terpadu sedang melaksanakan patroli, mendapatkan informasi dari tim patroli Udara PT. RHM bahwa ada kebakaran Lahan Hutan Konservasi gambut di desa muara medak.

“Ya, sampai saat ini Senin (30/7/18) titik api di lahan gambut masih terpantau aktif. Api cepat merambat karena vegetasi yang kering serta udara dan angin yang mengarah ke api yang menyebabkan sulit di padamkan,”kata Kapolres Muba AKBP Andes Purwanti. 

Agar api tidak meluas pihak perusahaan dari PT RHM telah mengerahkan 9 alat berat berjenis Exscavator untuk membuat skat Api agar tidak meluas kelahan yang tidak terbakar.

“Saat ini anggota yang melakukan pemadaman masih di lapangan, semoga bencana karhutla ini cepat berlalu,”tutupnya.

Sumber: Sripoku

Catat! Ini Tiga Narasi yang Dipropagandakan Pengusung Khilafah


Tangerang Selatan - Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC) Robi Sugara menjelaskan, setidaknya ada tiga narasi yang terus dikampanyekan oleh para pengusung khilafah. Pertama, khilafah Islam diyakini sebagai kepemimpinan yang estafet dari khulafaur rasyidin hingga Turki Usmani. Para pengusung khilafah menyakini bahwa perpindahan kekuasaan dari suatu khilafah dengan yang lainnya berjalan mulus.

“Sebetulnya dari satu rezim ke rezim lain itu berdarah-darah,” kata kata Robi dalam sebuah diskusi di Sekretariat Islam Nusantara (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (14/7).

Misalnya, perpindahan kekuasaan Islam dari khilafah Umayyah ke Abbasiyah. Ada banyak yang mengalir dalam perebutan itu. Begitu pun dengan khilafah-khilafah setelahnya. Namun demikian, Robi menegaskan bahwa pada saat itu memang seperti itu mekanisme perebutan kekuasaannya.

“Bukan Islamnya kejam, tapi trennya seperti itu. Itu sesama Muslim, tidak sesederhana itu khilafah,” tegasnya.

Kedua, khilafah adalah produk syariah. Para pengusung khilafah meyakini dan menyebarkan bahwa khilafah adalah produk syariah sehingga seluruh umat Islam wajib mewujudkannya. Mereka menggunakan agama sebagai tameng. Jika ada yang menyerang khilafah, maka pengusung khilafah tidak segan-segan menuduhnya telah menyerang Islam. 

“Ketiga, khilafah akan membawa kejayaan umat Islam di dunia. Apapun persoalannya, khilafah solusinya,” jelas Dosen UIN Jakarta ini.

Robi berpendapat, adalah mustahil mengoordinasikan seluruh umat Islam di seluruh dunia –yang jumlahnya milyaran- dengan satu komando kekuasaan dalam bidang politik. 

“Inilah kira-kira yang menyebabkan Indonesia tidak membutuhkan khilafah,” tukasnya. (Muchlishon)

Sumber: NU Online

Konferensi Internasional Wasathiyyah dan Moderasi Beragama Hasilkan Deklarasi Baghdad

Deklarasi Baghdad
Baghdad - Konferensi Internasional tentang Wasathiyyah dan Moderasi beragama menghasilkan rumusan Deklarasi Baghdad. Ada 10 rumusan yang dihasilkan dalam konferensi yang berlangsung di hotel Royal Tulip Al-Rasheed, Green Zone, Baghdad, Irak,  26-27 Juni 2018.

Konferensi ini diikuti utusan dari 20 negara, termasuk Indonesia. Ada tujuh delegasi dari Indonesia,  yaitu: Muchlis M Hanafi (Ketua Delegasi, mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin), Muhyiddin Junaidi (MUI), Ikhwanul Kiram Masyhuri (Alumni Al Azhar), Saiful Mustafa (UIN Maliki Malang/NU), Fathir H Hambali (Alumni Syam), Auliya Khasanofa (Muhammadiyah/UMT), dan Thobib Al-Asyhar (Kemenag).

Menurut Muchlis Hanafi,  Deklarasi Baghdad dibacakan bersama oleh perwakilan 20 negara pada penutupan konferensi. Pembacaan deklarasi dipimpin oleh Utusan Khusus Grand Syeikh Al Azhar dan Ketua Delegasi Mesir Prof Dr. Hamid Abu Thalib. 

"Deklarasi Baghdad menyuarakan kesepahaman bersama untuk terus mengkampanyekan Islam Wasathiyah. Juga menjadi komitmen bersama dalam sinergi melawan ekstremisme dan terorisme," terang Muchlis Hanafi sekembalinya ke Tanah Air,  Jumat (29/06) 

Menurut Muchlis, Deklarasi Baghdad juga menegaskan kedudukan al-Quds (Yerusalem) sebagai milik bangsa Arab dan selamanya akan menjadi ibu kota perdamaian dan kerukunan umat beragama. 

"Peserta konferensi menolak klaim sepihak dari zionis Israel yang menjadikan Yerusalem sebagai ibu kotanya, dan mengajak ulama Islam untuk menolak keputusan yang nista tersebut," jelasnya. 

Berikut ini 10 rumusan Deklarasi Baghdad:
1. Membentuk koalisi internasional untuk membuat konsep dan strategi operasional tentang Islam yang wasathiyah.
2. Menggalang kerja sama internasional untuk memastikan keberhasilan melawan ekstremisme dan terorisme.
3. Membentuk lembaga pemikiran (kajian) untuk mengkaji kembali dan meluruskan sejarah yang telah memicu perselisihan dan perpecahan di masa lalu, tanpa mengabaikan hal-hal yang prinsip dalam kehidupan umat.
4. Mencarikan solusi terhadap gap permasalahan antara modernitas dan Islam secara obyektif sesuai dengan konteks kekinian.
5. Meluruskan pemahaman yang salah tentang Islam sebagai agama ekstrem/radikal dan teroris dengan menegaskan bahwa teorisme tidak terkait dengan etnis, agama, maupun aliran tertentu.
6. Membuat situs-situs keislaman yang menekankan pada prinsip wasathiyah dan moderat yang jauh dari ekstrem.
7. Membuat majalah/jurnal pemikiran Islam moderat. 
8. Membentuk komite tinggi ulama yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan luas, yang menginduk kepada kementerian wakaf/agama dan tersebar di kota-kota negara Islam, untuk memantau isu yang tersebar dan apa yang disampaikan para penceramah, serta meresponnya sebelum viral sesuai prinsip ajaran Islam.
9. Menegaskan kedudukan al-Quds (Yerusalem) sebagai milik bangsa Arab dan selamanya akan menjadi ibu kota perdamaian dan kerukunan umat beragama.
10. Peserta konferensi menolak klaim sepihak dari zionis Israel yang menjadikan Yerusalem sebagai ibu kotanya, dan mengajak ulama Islam untuk menolak keputusan yang nista tersebut.
(Thobib) 

Sumber: Kemenag

Permohonan Maaf Langsung Mamah Dedeh soal Islam Nusantara

Mamah Dedeh
Jakarta - Akhir-akhir ini jejak digital pernyataan Mamah Dedeh tentang Islam Nusantara kembali viral di media sosial. Pernyataan dalam video yang disampaikannya pada salah satu acara di stasiun TV swasta nasional tersebut merekam pernyataan Mamah Dedeh yang menyebut Islam Nusantara perlu dicoret.

Menyikapi hal ini, Mamah Dedeh mengaku salah paham terhadap konsep Islam Nusantara dan menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Permohonan maaf tersebut disampaikannya pada Acara Mamah dan AA Beraksi secara live (langsung) baru-baru ini di stasiun TV yang sama.

"Kepada yang terhormat PBNU dan seluruh warga Nahdliyin di negara kita tercinta ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahpahaman dan pernyataan saya tentang Islam Nusantara. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya semoga kita mendapatkan rahmat keberkahan dari Allah SWT," ucapnya.

Sebelumnya juga pada Selasa (3/7), perwakilan anggota keluarga Mamah Dedeh juga telah meminta maaf atas ceramah Mamah Dedeh yang cenderung tergesa-gesa dan berlebihan menafsirkan tentang konsep Islam Nusantara.

KH Thobary Syadzily yang mewakili keluarga menyampaikan permohonan maaf atas pernyataan Mamah Dedeh yang menurutnya masih termasuk salah satu pengurus Muslimat NU Depok. 

Kiai Thobary menjelaskan bahwa dalam menyikapi suatu persoalan, orang bijak mesti mengedepankan akhlak mulia. Dan jika menilai seseorang bukan dari kesalahan atau kejelekan yang diperbuatnya, tapi dari amal kebajikan yang telah dia lakukan. 

Oleh karenanya, masalah kesalahan dakwah yang telah dilakukan Mamah Dedeh tentang amaliah NU dan Islam Nusantara tidak perlu diperpanjang apalagi sampai timbul perpecahan dan permusuhan.

"Saya sebagai wakil keluarga dari beliau, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang telah dilakukan di dalam dakwahnya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Mungkin itu karena ketidaktahuannya atau ada potongan setting sehingga terjadi misunderstanding alias salah paham," katanya. (Red: Muhammad Faizin)

Sumber:  NU Online

Jombang Cabang NU Pertama Hasil Eksperimen Mbah Hasyim

Jombang dapat dikatakan sebagai daerah yang menjadi rahim dari lahirnya Nahdlatul Ulama. Meski secara de facto, NU didirikan dalam sebuah pertemuan para kiai di Surabaya, tapi founding fathers-nya berasal dari Jombang. Sebut saja Rais Akbar Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Ia lah aktor utama yang menentukan berdiri tidaknya NU. 

Ada pula Kiai Abdul Wahab Hasbullah. Meski setelah menikah, ia tinggal di Surabaya, sejatinya ia berasal dari Jombang. Dengan kegigihan Kiai Wahab lah, organisasi yang menjadi wadah ulama Ahlussunnah wal Jama'ah itu bisa terwujud. 

Tak ketinggalan juga Kiai Bisri Syansuri dari Denanyar Jombang. Kelak, kontribusinya dalam mengembangkan NU tak bisa dianggap enteng. Ketiganya adalah triumat NU asal Jombang yang secara bergantian menduduki posisi puncak kepemimpinan NU secara bergantian. 

Posisi Jombang yang demikian penting itu, tak ayal jika daerah tersebut dijadikan sebagai cabang NU yang pertama. Klaim pertama ini, tentu bukan tanpa alasan dan bukti. 

Berdasarkan data-data yang ada, NU mulai mendirikan cabang di daerah baru memasuki tahun ketiga. Pada muktamar pertama (1926) sampai muktamar kedua (1927) catatan tamu yang hadir bukanlah utusan cabang sebagaimana yang dikenal saat ini. Tapi, tertulis berdasarkan nama yang hadir. 

Baru pada muktamar ketiga lah, daftar tamu sebagai utusan cabang mulai ditemukan. Dalam muktamar yang dilaksanakan di Surabaya, 23 - 25 Rabiuts Tsani 1347 H/ 28 - 30 September 1928 itu, tercatat ada 35 Cabang NU yang hadir (Choirul Anam: 1984).

Jika demikian, lantas daerah manakah yang pertama kali mendirikan Cabang NU? Jombang jawabannya. Setidaknya hal ini merujuk pada pemberitaan di Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) Nomor 9 Tahun I Ramadan 1346 H. Berita di media resmi Hoofd Bestuur NU itu, menuliskan tentang keinginan Mbah Hasyim Asy'ari untuk mendirikan cabang di daerah. 

"Ing sak lebete sasi Dzulqaidah hadihis sanah, panjenenganipun Kiai Hasyim Tebuireng sanget hanggenipun haringka daya kados pundi wagedipun jam'iyah Nahdlatul Ulama hanggadai cabang nang pundi-pundi panggenan," tulis SNO dalam bahasa Jawa dan aksara Pegon. (Di dalam bulan Dzulqaidah tahun ini, Kiai Hasyim Tebuireng mengupayakan segala tenaga agar bagaimana jam'iyah Nahdlatul Ulama memiliki cabang di berbagai tempat)

Keinginan tersebut, tak berhenti hanya pada tataran ide. Kiai Hasyim lantas bereksperimen untuk mewujudkan. Masih dari sumber yang sama, pada Kamis malam, 14 Dzulqaidah 1346 H/ 4 Mei 1928, Kiai Hasyim menggelar open baar (rapat umum) di Masjid Jami' Kauman, Jombang. Ada sekitar 600 hadirin yang datang dari berbagai elemen masyarakat. Tidak hanya kiai Jawa, tapi juga habaib dari seantero Jombang. 

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Hasyim memaparkan tentang kondisi terkini. Di mana saat itu, mulai munculnya sekelompok orang yang mengusik keberadaan Islam. Mereka mengaku Islam, akan tetapi membid'ahkan, bahkan mengkafirkan saudaranya sesama muslim. Tak hanya itu, mereka kerap kali menghina kalangan habaib. 

Menurut Kiai Hasyim, kejadian tersebut perlu disikapi dengan menjaga persatuan semua elemen ahlussunnah wal jamaah untuk menghadapinya. Persatuan itu sendiri adalah dengan menggabungkan diri pada organisasi NU. 

Lantas, diuraikanlah apa maksud dan tujuan didirikannya NU oleh Kiai Bisri Syansuri yang menjadi panitia pertemuan tersebut. Dari sanalah, kemudian disepakati untuk mendirikan Cabang NU pertama, yakni Cabang NU Jombang. 

Setelah mendapatkan kemufakatan dari jumhur ulama Jombang, malam itu juga diadakan musyawarah di kediaman Habib Muhsin bin Hasan yang tak jauh dari masjid. Ada 150 tokoh yang hadir pada rapat susulan tersebut. Tujuannya tak lain adalah melanjutkan hasil pertemuan di masjid. Yakni, rapat pemilihan kepengurusan Cabang NU Jombang. 

Dari pertemuan tersebut, lantas terpilihlah susunan kepengurusan sebagai berikut:

Mustasyar: 
KH Hasyim Asy'ari
Habib Muhsin bin Hasan ats-Tsaqaf

Rais : Kiai Anwar Pacul Gowang
Wakil Rais : Kiai Abdullah Maksum
Katib : Kiai Maksum Kuaran
Wakil Katib : Kiai Bisri Syansuri Denanyar

A'wan: 
Kiai Ya'qub Sambung, Kiai Abu Ahmad Anjalak, Kiai Abdul Rouf Jagalan, Kiai Mah, Kiai Umar Suud, Kiai Shodiq dan Kiai Hasbullah Denanyar. 

Sedangkan di jajaran tanfidziyah sebagai berikut:

Ketua : Haji Asy'ari
Wakil Ketua : Haji Sofwan
Sekretaris : Mas Surataman Kauman
Wakil Sekretaris : Mas Mashudi Kauman
Bendahara : Haji Yusuf Kauman
Wakil Bendahara: Haji Syukron Kauman

Pembantu:
H Abdul Aziz Denanyar, H Nur Ali Denanyar, H Hasyim Kauman, H Maksum Jagalan, H Abdul Latif Kauman, H Bahri Kauman dan Mas Ruh Kauman. 

Semenjak pendirian Cabang Jombang itu, NU ngebut untuk mendirikan cabang di daerah lain. Dalam kurun waktu empat bulan, NU telah mendirikan sedikitnya 35 cabang di Jawa dan Madura. 

Setelah disepakati berdirinya defisi propaganda yang bernama "Lajnatun Nashihin" pada muktamar ketiga, pendirian cabang-cabang pun semakin gencar. Setahun kemudian, tercatat sudah terdapat 63 cabang. Hingga saat ini, Cabang NU telah berdiri di seantero negeri dan puluhan cabang istimewa di luar negeri. Semuanya bermula dari eksperimen Mbah Hasyim. 

Ayung Notonegoro, penggiat sejarah NU dan pesantren. Kini aktif sebagai kerani di Komunitas Pegon

Sumber: NU Online

Poin Utama Silaturahim Grand Syekh Al-Azhar dengan PBNU

Jakarta - Grand Syekh Al-Azhar, Mesir, Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyeb berkunjung ke Kantor PBNU, Rabu (2/5). Kunjungan ini merupakan rangkaian agenda High Level Consultation of World Moslem Scholars on Wasatiyyah Islam di Bogor, Jawa Barat, 1-4 Mei 2018.

Grand Syekh tiba di Kantor PBNU tepat pukul 18.00 WIB ditemani mantan Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Indonesia yang juga Pakar Tafsir Muhammad Quraish Shihab.

Setibanya di halaman gedung PBNU, Mufti Besar Mesir ini langsung disambut oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, dan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud.

Grand Syekh beserta rombongan lantas diterima di ruang Ketua Umum PBNU di lantai 3 Gedung PBNU. Sekitar 15 menit Ketua Umum PBNU memberikan pengantar dan ucapan selamat datang.

Acara resmi pukul 18.15 WIB di gelar di Aula PBNU di lantai 8. Di ruang berkapasitas 500 orang ini, Grand Syekh disambut dengan sholawat badar. Acara silaturahim Grand Syekh Al-Azhar dengan kiai dan warga NU kemudian diawali dengan pembacaan Al-Fatihah, dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon.

Mengawali dialog bertajuk Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia ini, Kiai Said Aqil Siroj sedikit memberikan pengantar dengan menceritakan kronologis sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Kiai Said juga memaparkan keberadaan badan otonom dan lembaga yang bernaung dibawah NU.

Sementara itu, Grand Syekh Al-Azhar menyampaikan beberapa poin utama sebagai berikut:

1. Ucapan terima kasih atas undangan Nahdlatul Ulama dalam rangka memperkuat silaturahim tokoh-tokoh agama.

2. Grand Syekh memaparkan pandangan moderat Al-Azhar di dalam pemikiran agama dan konsep-konsep bernegara.

3. Grand Syekh menegaskan bahwa adanya perbedaan-perbedaan hendaknya menjadi perekat umat Islam. Kita umat Islam, menurut Grand Syekh sudah diajarkan oleh Rasulullah bahwa perbedaan itu akan menjadi rahmat ketika direspon dan disikapi dengan bijak dan tepat.

4. Al-Azhar akan mendorong penguatan Islam moderat yang dilakukan NU. Dan akan bersama-sama dalam memberikan penguatan dan mengampanyekan Islam moderat di dunia. 

5. Grand Syekh menyambut baik rencana kegiatan bersama NU dan Al-Azhar serta siap memberikan beasiswa kepada santri berprestasi untuk studi di Al-Azhar khususnya di jurusan umum bagi perempuan. Termasuk di dalamnya terkait rencana pelaksanaan konferensi internasional bersama.

Selanjutnya, Grand Syekh Al-Azhar berkesempatan berdialog dengan peserta. Berikut beberapa pertanyaan dari peserta dan jawaban Grand Syekh Al-Azhar:

1. Bagaimana Grand Syekh menilai tentang politisasi agama?

Jawaban Grand Syekh: "Politisisasi agama jika tidak dipahami dengan benar akan menimbulkan dua kerugian. Pertama kerugian agama yang menjadi jelek. Kedua, juga politik yang menjadi buruk".

2. Bagaimana pandangan Grand Syekh tentang kelompok yang ingin mendirikan khilafah di dunia?

Jawaban Grand Syekh: "Tentang khilafah Islamiyah bahwa dunia sepakat menolak khilafah Islamiyah. Maka itu sangat sulit untuk terjadi. Hal ini karena masing-masing banyak perbedaan yang sudah tertanam. Adanya perbedaan bagi Grand Syekh justru menjadi keindahan agama Islam".

3. Apakah yang terjadi saat ini ketika ada kelompok Islam yang menuduh kafir diluar kelompoknya?

Jawaban Grand Syekh: "Gerakan radikalisasi dan takfirisasi, mengkafir-kafirkan orang lain itu merupakan kebodohan terhadap memahami ruh dan substansi agama. Grand Syekh dengan tegas mengaku menolak pemahaman agama yang memonopoli kebenaran".

4. Bagaimana menyikapi perkembangan media sosial yang dijadikan benih perpecahan?

Jawaban Grand Syekh: "Kita harus bersama-sama memberikan penguatan moderat Islam melalui media sosial. Karena jika tidak dikelola dengan baik, media sosial akan menjadi penghancur bagi kedamaian". (Red: Fathoni)
Sumber: NU Online