Puasa

Puasa ditinjau dari segi etimologi berma’na “Menahan/meninggalkan (Imsaak)”, dari segi teminologi (Syara’) berma’na : “Meninggalkan segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa (Mufthir) mulai terbitnya fajar shodiq hingga terbenamnya matahari dengan niat yang ditentukan- seperti niat puasa Ramadhan, kafarat, atau nadzar- pada hari yang diperbolehkan puasa bagi orang orang Islam, berakal, suci dari haid dan nifas.

            Ibadah puasa Ramadhan itu lebih utama dari pada hajim namun ada qiil (Pendapat lain) bahwasanya haji itu lebih utama dari pada puasa dikarenakan haji itu wadzifatul ‘umur (Tujuan hidup) dan bisa melebur dosa kecil dan besar. Puasa Ramadhan adalah kekhususan umat Nabi Muhammad S.A.W.

            Puasa Ramadhan difardhukan (diwajibkan) bagi orang Islam ketika bulan Sya’ban tahun dua Hijriah, jadi Nabi Muhammad S.A.W berpuasa sembilan Ramadhan semasa hidupnya karena Nabi Muhammad S.A.W hidup dimadinah selama sepuluh tahun, dari sembilan Ramadhan tersebut hanya satu yang genap tiga puluh hari ini menurut pendapat yang Mu’tamad (Bisa dijadikan pegangan).

            Apakah ada pendapat yang mengatakan  puasa Ramadhan juga diwajibkan bagi nasrani dan yahudi? Ada, InsyaAlloh pada postingan berikutnya saya utarakan.



Sumber:

            Ibrohim Al-Baijuri. Al-Baijuri. Surabaya: Al-Haromain. Jild: 1. Hlm: 286.

            Abu Bakar. I’anah At-Tholibin. Beirut: Darul Fikr. Cet ke-1. Jild: 2 Hlm: 242.


Lihat juga:

Syarat Wajib Puasa


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »