09 February 2012

Hukum Maulid Nabi

tanbihun.com

Maulid Nabi artinya adalah kelahiran Nabi dan dalam perkembangan selanjutnya arti tersebut berubah menjadi nama dari acara peringatan hari kelahiran Nabi. Yang  ini terjadi pada abad ke 6 hijriyah, yang menurut kesepakatan para ahli menyatakan bahwa orang yang perama kali melakukan peringatan ini adalah raja Ibril di irak bernama Al-mudhaffar Abu Said kukuburi Bin Zainudin Ali buktikin (630H/1232M). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya peringatan maulid Nabi di lestarikan kaum muslim indonesia, yang biasanya digelar tepat pada tanggal 12 Robiul awal dengan beraneka ragam acara yang di gelar mulai dari acara pagelaran budaya masing-masing daerah yang bernuansa Islami sampai pada pengajian yang berisi mauidhoh hasanah tentang perjalanan Nabi muhammad SAW sebagai acara puncaknya. Umumnya kaum muslim melakukannya dengan cara do'a bersama diberbagai tempat baik di mushola masjid, maupun di perkantoran baik dari instansi pemerintah maupun tidak. Sekalipun demikian, dari beraneka ragam cara perayaan tersebut muncul persoalan baru yaitu apakah acara- Acara tersebut sebagai suatu kegiatan yang bersifat syar’iah atau tidak ?
                Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan nikmat yang sangat agung yang harus kita syukuri. Bersyukur dapat dilakukan dengan berbagai macam ibadah seperti sujud, puasa, sedekah dan membaca Al-Qur’an, umat muslim  Indonesia mewujudkan syukur atas lahirnya Nabi Muhammad SAW dengan mengadakan acara maulud Nabi, dalam acara tersebut terdapat berbagai macam ibadah berupa, salah satunya, membaca sholawat. Cara pikir yang demikianlah yang digunakan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalany -ahli hadits terkemuka-  dalam menanggapi maulud Nabi, sehingga menurut beliau acara maulud Nabi termasuk syar’iyah (diperbolehkan oleh Islam), beliau menyodorkan dalil berupa hadits yang menerangkan tentang kunjunganya Nabi Muhammad SAW ke Madinah, ketika itu Beliau menjumpai warga Yahudy sedang berpuasa hari Asyura’. Kemudian Beliau menanyainya dan mereka menjawab : “hari ini (bertepatan dengan) hari yang didalamnya Allah menenggelamkan fir’aun dan menyelamatkan Musa. Maka kami mempuasainya, karena bersyukur kepada Allah SWT “  alasan mereka puasa adalah syukur. Oleh mereka perwujudan Syukur diulangi setiap tahun. Hadits ini tersimpan dalam kitabnya Bukhary dan Muslim.
                Imam Syuyuthi berbeda lagi dalam menampilkan Hadits sebagai landasan dilegalkannya maulud Nabi, yaitu hadits ‘aqiqah Nabi SAW bagi dirinya sendiri. Padahal kakenya, Abdul Muthalib, sudah mengaqiqahi tujuh hari setelah kelahiranya. Maka aqiqah Nabi SAW mesti dipahami sebagai rasa syukur atas kelahiranya di dunia ini, karena aqiqah hanya disyari’akan satu kali seumur hidup.
                Juga dalam pengutusan Nabi Muhammad SAW merupakan karunia bagi seluruh alam, sebagaimana yang tergores dalam Al-Qur’an:
“Dan tiadalah Kami mengutus Kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (al-Anbiya’: 107)
Padahal Allah memerintahkan agar bahagia dengan rahmat Allah:
”katakanlah: “dengan karunia Allah SWT dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Yunus: 58)
                Selain dua Ulama yang menganggap maulud Nabi diperbolehkan Islam adalah: Abu Syamah guru Imam Nawawy, as-Sakhawy murid al-Asqalany, Ibn Hajar al-Haitamy, Ahmad Bin Zaini Dahlan. Bahkan al-Mubasyir ath-Tharazy berpendapat maulud Nabi bisa wajib untuk menandingi perayaan-perayaan yang membahayakan, yang populer dimasa kini.

Rujukan: 
  • Ternyata Aku Orang NU,  
  • Menjawab Vonis Bid’ah




Hukum Maulid Nabi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Gubuk Lentera

1 komentar:

  1. السلام عليكم
    terima kasih sudah mampir...ada email kang?
    semangat terus....

    ReplyDelete