Tingkepan (Syukuran Kehamilan) dari Segi Tasawuf dan Pengetahuan Modern

Sumber Ilustrasi: NUkotaTangerang
Tingkepan (syukuran kehamilan) merupakan salah satu adat orang jawa yang dilaksanakan ketika sang istri hamil. Biasanya, mereka mengadakan acara ini ketika sang istri memasuki bulan ke-empat dan tujuh dari kehamilan.

Bagi kalangan nahdliyin, sangat tidak asing dengan acara yang satu ini. Mereka bisa melestarikan adat ini, dikarenakan cara ulama' NU (Wali Songo) dalam mengislamkan Jawa sangat halus dan bijaksana. Wali Songo tidak menghilangkan adat yang ada, tetapi isi dari acara tersebutlah yang mereka jadikan islami. Dalam adat tersebut, umumnya berisikan bacaan Al-Qur'an (biasanya surat yusuf dan maryam), dzikir bersama, shalawat dan do'a.

Menurut Mpu Blog, tingkepan ini ada relasi dengan tasawuf dan pengetahuan modern. Dalam dunia tasawuf, dzikir bagi orang awam sangat dianjurkan, bila tidak dikatakan wajib. Bahkan, dengan mengutip beberap hadits, ulama' tasawuf berpendapat (pengarang kitab minahus saniyah), dzikir adalah pokok untuk menuju Allah dan lebih membekas pengaruhnya dari pada shalat. Begitu juga dzikir bersama, bisa memberikan efek yang lebih banyak dalam menghilangkan hijab (penghalang menuju Tuhan).

Sedangkan dalam memahami tingkepan dari pengetahuan modern, Mpu Blog pernah bertanya kepada salah satu teman anak kesehatan. Apakah otak bayi yang masih dalam kandungan bisa merekam informasi yang ada diluar?, jawabnya ya. Bahkan dia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sang ibu, senang atau susahnya. 

Mpu Blog tidak puas, karena temanya tidak memberikan referensi. Sehingga, sebelum tulisan ini dipublikasikan, mpu blog mencari referensi dari buku. Dan ternyata memang demikian. Dikatakan dalam buku tersebut, otaklah yang paling aktif berkembang ketika spermatozoa 'berpelukan' dengan ovum. Dikatakan juga, kecerdasan otak sangat bergantung pada banyakanya sinaps (pembentukan koneksi antar sel saraf). Pembentukan sinaps ini sangat bergantung kepada informasi apa yang direkam oleh otak sang bayi. 

Dari sini, ketika sang istri hamil, sangat dianjurkan memberi stimulus dan rangsangan yang baik. Baik berupa perkataan yang baik hingga lagu yang bernuansa religi.

Jadi, dzikir bersama yang dilakukan oleh jama'ah ketika tingkepan, akan direkam oleh sang bayi yang nantinya akan masuk otak bawah sadar, yang diharapkan membentuk karakter bayi yang baik. 

Kalau demikian, masihkah Kita menganggap tingkepan itu bid'ah?. 
والله أعلم بالصواب

Sumber:
- Abdul Wahab as-Sya'rony, al-Minahus Saniyah, Surabaya: al-Haromain.
Mustamir Pedak, Dahsyatkan Otak dengan Shalat,Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2011.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »