Filosofi Memancing Ikan, Sangat Membahayakan Desa Kita

Tak lama lagi desa kita D4 Sumber Sari, akan mengadakan hajatan besar. ya, aroma pemilihan kepala desa yang merupakan klimaksnya (puncaknya) kenikmatan dari pesta demokrasi untuk selevel perdesaan sudah tercium. Sehingga, untuk sementara, pesta ini menjadi trending topik dalam obrolan santai para warga. Tak luput juga, mereka saling menghujat antar lawan. Dalam suhu politik, memang sangat terlihat mana kawan dan mana lawan. Sebenarnya, yang paling penting dalam obrolan tersebut bukanlah saling menghujat. Tetapi bermusyawarah agar kita bisa membuka mata kita. Sehingga kita bisa melihat, yang manakah diantara para calon yang menggunakan filosofi memancing ikan.

Tentunya, kita sudah sangat mengenal dengan pekerjaan memancing ikan. Bahkan, diantara kita pekerjaan tersebut sudah menyatu dengan jiwa kita. Dalam pekerjaan memancing, kita tidak membutuhkan modal banyak. Walaupun demikian, kita berharap mendapatkan hasil yang berlipat-lipat, anehkan!. Bagaimana tidak? dalam memancing ikan, kita hanya membutuhkan segenggam cacing, tetapi kita bisa mendapatkan satu ember ikan, bahkan bisa lebih. Dan yang lebih tragis, dalam memancing tadi, kita tidak bertujuan untuk merawat ikanya, tetapi untuk membunuhnya dan menikmatinya. Kenapa bisa terjadi demikian?. Jawabanya, karena hatinya ikan sudah dikuasai oleh pemancing yang bermodalkan cacing sedikit, sedangkan siikan tidak tahu maksud dari pemancing berupa ingin menguasai dan menikmatinya.

Begitu juga dalam percaturan politik, filosofi memancing ikan tidak luput untuk diterapkan oleh para kandidat kepala desa kita. Semakin mereka ingin mendapatkan apa yang ada dikita, semakin banyaklah mereka memberikan umpan untuk kita. Kenapa mereka rela mengeluarkan umpan yang banyak untuk kita?. Jawabanya, karena nama mereka tidak terdapat dalam hati kita dan masyarakatnya. Sehingga, agar hati kita bisa dikuasai oleh mereka, mereka harus rela mengeluarkan umpannya. Dengan begitu, kita akan dikuasai mereka. Setelah itu, mereka akan menikmati apa yang sebenarnya untuk kita. Bahkan yang lebih tragis, mereka rela 'membunuh' kita. Dan bagaimana dengan kita?. Kita hanya bisa menikmati umpan yang kenikmatanya sementara. Sedangkan kenikmatan yang lebih lama, kita hanya bisa melihatnya saja sambil merasakan kekecawaan dalam diri kita. Semua ini akan terjadi, bila mata kita tidak melihat. Dan mari kita memilih dengan hati nurani untuk masa depan desa kita. Seng luweh penting, awak e dewe iki wong NU, la slogane NU ki "bar gegeran, gergeran" (setelah saling adu pendapat (keyakinan), kita tertawa bersama).

Jadi, bukalah matamu! dan lihatlah ada pancing didepanmu!

Salam dari pencari jiwa tenang yang sedang keruh.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »