Sebagai Pendatang, Kenapa Kami Harus Menjadi Imam?

Agustus 2015 adalah waktu yang mungkin tidak akan terlupakan bagi Kami, mahasiswa UNIPDU Jombang, khususnya kelompok 10 yang bertempat di desa Getas Nganjuk. Dengan beranggotakan 24 mahasiswa, Kami mengikuti kegiatan kampus, KPM (Kuliah Pengabdian Masyarakat).
Tak terhitung, berapa pengetahuan dan pengalaman yang kami dapat. Mulai dari makanan kesukaan warga setempat hingga sistem pemerintahan desa. Tak lupa, pengetahuan yang berbau agama juga kami dapatkan. Ternyata, warga desa Getas Nganjuk sangat kental dengan amaliyah NU. Sehingga, tahlilan dan yasinan tidak jarang terdengung ditelinga Kami.
Juga, seperti kebanyakan Nahdhiyin, ketika hendak shalat berjama'ah, Kami dan warga setempat saling mempersilahkan untuk menjadi imam. Bahkan, ditempat yang mengajarkan pelajaran agama (mereka menamakanya dengan TPA), kami juga dipersilahkan untuk menjadi imam.

Didalam hati penulis, terbentuk tanda tanya yang besar, "Sebagai Pendatang, Kenapa Kami Harus Menjadi Imam?". Memang maklum, bila penulis menanyakan demikian, karena dari referensi yang penulis baca dari kitab nihayatuz zain karya ulama' Nusantara, syeikh Nawawi, diterangkan bila disuatu tempat terdapat beberapa orang yang ahli imam (memenuhi syarat untuk menjadi imam), maka yang didahulukan adalah imam rowatib (orang yang diberi wewenang oleh pengurus setempat untuk menjadi imam).
Bila penulis kaitkan dengan kasus diatas, maka yang mungkin untuk Kami (penulis dan teman KPM-nya) untuk menjadi imam adalah tawaran dari TPA. Karena, untuk tempat tersebut makmumnya adalah anak kecil yang sangat mungkin mereka belum fasih dalam membaca al- fatihah dll. Sedangkan untuk tempat lain, mereka (teman KPM) sangat tepat sekali dalam mengambil sikap dengan menolak tawaran dari warga setempat. Mengapa fiqih menganggap sangat tepat sekali? karena dari banyak kasus yang sudah terjadi, pasti berakhir dengan fitnah. Disisi lain, menurut penulis, bila imamnya bukan imam rowatib, ketika shalat akan terjadi perubahan kejiwaan pada makmum setempat.
Nihayatuz Zain, hal: 131.
ثم إذا اجتمع جماعة ممن فيه أهلية الإمامة يقدم منهم الأفقه في الصلاة فالأصح قراءة فالأكثر قرآنا فالأزهد فالأورع فالمهاجر فالأقدم هجرة فالأسن في الإسلام فالأشرف نسبا فالأحسن ذكرا فالأنظف ثوبا فبدنا فصنعة أي كسبا فيقدم الزارع والتاجر على غيرهما فالأحسن صوتا فالأحسن خلقا بفتح الخاء بأن يكون سليم الأعضاء من الآفة مستقيما فالأحسن وجها أي الأجمل صورة فهو غير الأحسن خلقا كما سمعت فالأحسن زوجة فالأبيض ثوبا فيقدم على لابس غير الأبيض ويقدم الأبيض وجها على غيره فإن استويا وتشاحا أقرع بينهما
هذا كله إن لم يكن هناك إمام راتب ولا إمام أعظم ولا نائبه ولا رب منزل وإلا قدم الوالي في محل ولايته على غيره ولو على رب المنزل والإمام الراتب وإن اختص ذلك الغير بصفات مرجحة من فقه وغيره
ويقدم من الولاة الأعلى فالأعلى فيقدم السلطان على غيره والباشا على القاضي ونحو ذلك وبعده الإمام الراتب وهو من ولاه الناظر تولية صحيحة أو كان بشرط الواقف فإن لم يحضر استحب أن يبعث إليه ليحضر فإن خيف فوات الوقت استحب أن يتقدم غيره إلا أن يخاف فتنة فيصلوا فرادى 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »