Shalat Jum'at Dilaksanakan di Rumah Sakit, Bagaimanakah Fiqih Memandangnya...?

Bisa disebut berliburkah, bila selama 2 minggu di rumah sakit...? Tapi kalau tidak disebut berlibur kenyataannya saya tidak mengikuti perkuliahan dan aktifitas pondok sehari-hari. Entahlah, agak bingung menjawabannya. Dengan tawakal, ini saya lakukan karena adik saya terkena musibah kecelakaan, bertabrakan dengan mobil pada tanggal 25 september 2015, satu hari setelah tragedi Mina.

Selama hidup di rumah sakit itulah menjadi penyebab blog ini saya coret-coret lagi. Karena, ketika saya ingin melaksanakan shalat jum'at di rumah sakit Kustati Solo, timbul pilihan dalam benak ku. Shalat jum'at didalam rumah sakit atau diluar. Kebetulan, tidak jauh dari rumah sakit ada masjid besar. Kalau dari gerbang RS, kurang lebih 50 M. Setelah berpikir sambil berjalan, akhirnya pilihanku jatuh pada masjid di luar RS, yang kata penjual disitu, masjidnya Habib Syeikh.

Setelah adik ku diperboehkan pulang, saya penasaran untuk mencari referensi mengenai kebimbanganku tadi. Dari kitab fiqih yang saya baca, antara lain Nihayatuz zain, I'anathut Tholibin, dan Busyro Karim, menerangkan bahwa, shalat jum'at dihukumi tidak sah bila dilaksanakan di tempat yang bukan tempat tinggal asli sedang jumlah jamaah sebanyak 40 juga bukan penduduk asli. Bila jamaahnya ada 40 dan bertempat tinggal tetap di tempat shalat jum'at dilaksanakan (penduduk asli setempat) maka sah semua shalat jum'atnya¹.

Bila keterangan diatas diterapkan pada masalah shalat jum'at di RS, maka perlu menganalisa jamaahnya. Apakah mereka berjumlah 40 orang dan berstatus penduduk asli desa dimana RS berada atau mereka tidak diketahui jumlah dan statusnya?.


Bila kenyataan memang tidak mencapai 40 orang yang berpenduduk asli, maka sudah bisa dipastikan shalat jum'at di RS tidak sah. Tetapi, walaupun jamaahnya ada 40 orang yang berpenduduk asli, tetap harus melihat kondisi di desa tersebut. Apakah di desa dimana RS berada ada yang melaksanakan shalat jum'at selain di RS atau tidak, atau memang ada, tapi ada udzur yang memperbolehkan melaksanakan shalat jum'at lebih dari satu, seperti tempatnya tidak muat?. Kalau di desa dimana RS berada ada yang melaksanakan shalat jum'at selain di RS, dan tempatnya bisa menampung semua jamaah yang ada di RS dan luar RS, maka shalat jum'at yang ada di RS kemungkinan besar batal. 

Dikatakan kemungkinan besar batal, karena bila dalam satu desa melaksanakan shalat jum'at di dua tempat atau lebih yang sebenarnya satu tempat saja cukup, maka shalat yang sah adalah yang pertama. Sedangkan yang lain harus mengulangi shalat dzuhur². Shalat jum'at di RS dianggap sah hanya bila mereka yakin (tidak ragu) melaksanakan takbir ihromnya lebih dulu dari yang lainnya. Bila mereka ragu, apakah ada 40 orang yang berpenduduk asli dan melakukan takbir shalat jum'at lebih dulu atau tidak?, bisa dipastikan shalat jum'atnya belum dianggap³. Jadi, menurut saya, kita jangan melaksanakan shalat jum'at di RS, karena sudah umum, kalau kita tidak memperhatikan tentang takbirnya imam, apakah takbirnya imam didahului oleh takbirnya imam yang lain atau tidak?.
Kesimpulan:
Shalat jum'at di RS dianggap sah jika memenuhi:
1. Dilaksanakan oleh 40 orang laki-laki berstatus penduduk asli dan sudah baligh.
2. Tidak ada pelaksanaan shalat jum'at selain di RS terkecuali ada udzur atau takbir shalat jum'at yang di RS lebih dulu dilaksanakan.

والله اعلم بالصواب.....

1. * Muhammad Nawawy bin Umar, Nihayah al-Zain, h. 136

وَقسم تلْزمهُ وَتَصِح مِنْهُ وَلَا تَنْعَقِد بِهِ وَهُوَ الْمُقِيم غير المتوطن والمتوطن بِمحل يسمع مِنْهُ النداء وَلم يبلغ أَهله أَرْبَعِينَ فَإِنَّهُ يجب عَلَيْهِ السَّعْي إِلَى بلد الْجُمُعَة وَلَا يحْسب من عَددهَا لِأَنَّهُ لَيْسَ من المتوطنين ببلدها فَإِن بلغُوا أَرْبَعِينَ لَزِمَهُم إِقَامَتهَا فِي محلهم

*
  Abu Bakr bin Muhammad Syata al-Dimyaty, I'anah al-Tholibin, Vol II (Cet. 1; Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M/1418 H), h. 67-68
(قوله: تنعقد بهم الجمعة) أي حال كون الأربعين ممن تنعقد بهم الجمعة، بأن كانوا مكلفين ذكورا أحرارا مستوطنين.

*
 Abu Zakaria Muhyidin Yahya bin Syarof an-Nawawy, al-Majmu'  Syarh al-Muhadzab, Vol IV, Beirut: Dar al-Fikr, h. 487
أَمَّا إذَا نَقَصُوا عَنْ أَرْبَعِينَ مِنْ أَهْلِ الْكَمَالِ فَلَهُمْ حَالَانِ (أَحَدُهُمَا) أَنْ لَا يَبْلُغَهُمْ النِّدَاءُ مِنْ قَرْيَةٍ تُقَامُ فِيهَا جُمُعَةٌ فَلَا جُمُعَةَ عَلَيْهِمْ حَتَّى لَوْ كَانَتْ قَرْيَتَانِ أَوْ قُرًى مُتَقَارِبَةٌ يَبْلُغُ بَعْضَهَا النِّدَاءُ مِنْ بَعْضِهَا وَكُلُّ وَاحِدَةٍ يَنْقُصُ أَهْلُهَا عَنْ أَرْبَعِينَ لَمْ تَصِحَّ الْجُمُعَةُ بِاجْتِمَاعِهِمْ فِي بَعْضِهَا بِلَا خِلَافٍ لِأَنَّهُمْ غَيْرُ مُتَوَطِّنِينَ فِي مَحَلِّ الْجُمُعَةِ 


2. *Abu Bakr bin Muhammad Syata al-Dimyaty, I'anah al-Tholibin, Vol II (Cet. 1; Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M/1418 H), h. 73
(قوله: ومن شروطها) أي صحة الجمعة. وهذا هو الشرط السادس كما مر التنبيه عليه. (وقوله: أن لا يسبقها بتحرم ولا يقارنها) الفعلان تنازعا قوله جمعة. والعبرة بتمام التحرم وهو الراء من أكبر. فلو سبقها به جمعة.
صحت الجمعة السابقة لاجتماع شرائطها، واللاحقة باطلة، فيجب أن تصلى ظهرا. أو قارنها جمعة أخرى يقينا أو شكا بطلت الجمعتان، لأن إبطال إحداهما ليس بأولى من الأخرى، فوجب إبطالهما.

3. * Abu Bakr bin Muhammad Syata al-Dimyaty, I'anah al-Tholibin, Vol II (Cet. 1; Beirut: Dar al-Fikr, 1997 M/1418 H), h. 73
ولأن الأصل في صورة الشك عدم جمعة مجزئة.

* Abu Zakaria Muhyidin Yahya bin Syarof an-Nawawy, al-Majmu'  Syarh al-Muhadzab, Vol IV, Beirut: Dar al-Fikr, h. 588
لِأَنَّ الْأَصْلَ عَدَمُ جُمُعَةٍ مُجْزِئَةٍ هَكَذَا جَزَمَ بِهِ الْأَصْحَابُ فِي الطَّرِيقَتَيْنِ

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »