Slametan Muncul Pertama Kali di Desa Singkal

Walaupun perjalanan pulang dari adik kandung guru penulis, Nganjuk, ke Jombang tidak lama, hanya satu jam lebih sedikit, ternyata cukup melelahkan. Setelah sampai di Jombang, penulis beristirahat di warung kopinya salah satu kakak kelas ketika di MA AL-Anwar Paculgowang. Tenryata cukup asyik di warung kopi itu. Karena berlayanan wifi gratis. He he he.
Sambil menikmati kopi, penulis membuka situs NU Online. Mata menjadi melebar ketika melihat judul artikel "Slametan Muncul Pertama Kali di Desa Singkal". Ternyata, isinya menerangkan tentang sejarah slametan.

Di artikel tersebut menjelaskan definisi slametan, yaitu orang-orang bersila di atas tikar, duduk melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauknya, serta segala macam minuman. Kemudian bacaan-bacaan tahlil, tahmid, dan tasbih, serta doa-doa dipanjatkan kepada Allah SWT demi keselamatan. Kegiatan slametan yang berasal dari Jawa ini juga disebut kenduren.

Awal mula kegiatan tersebut dimulai dari Desa Singkal, Nganjuk, Jawa Timur, masa Sunan Bonang atau Syekh Maulana Makhdum Ibrahim yang lahir sekitar 1465 M. Kemudian dalam artikel tersebut dijelaskan mengapa slametan diadakan. Menurut sejarawan KH Agus Sunyoto, Sunan Bonang melakukan slametan sebagai perlawanan terhadap bhairawa tantra, orang (laki-laki) yang mengamalkan ajaran Tantrayana. Aliran Tantrayana berasal dari India Selatan. Aliran ini tersebar ke Indonesia dan dianut hanya sebatas beberapa orang saja karena upacara-upacaranya dirahasiakan dan bersifat amat mengerikan. Aliran ini menjalankan “lima keharusan” dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya. Lima keharusan itu disebut pancamakara atau batara lima atau malima, antara lain: harus melakukan mamsa, makan daging mayat dan minum darah. Madya atau menenggak minuman keras, mabuk-mabukan. Matsya, makan ikan gembung beracun, Maithuna, bersetubuh secara berlebihan. Mudra atau samadhi yaitu tarian melelahkan hingga jatuh pingsan. Aliran tersebut bertujuan mencari kesaktian sehingga penganutnya mampu mengalahkan Sunan Bonang ketika ia berada di Kediri. Ia terluka. Kemudian, pulang ke Ampel, Surabaya. “Setelah sembuh kemudian menjadi imam pertama kali di Masjid Agung Demak. Kemudian Sunan Bonang merancang taktik macam-macam dakwah,” kata pengasuh Pesantren Tarbiyatul Arifin Malang ini.

Kemudian Sunan Bonang melanjutkan kembali dakwahnya ke Kediri, tapi tidak sampai masuk ke wilayah itu, melainkan bertahan di perbatasan. Tepatnya di desa Singkal. Sunan Bonang menamakan desa itu dengan “singkal” sebagai simbol yang artinya tanah bajakan. “Simbol beliau memulai membajak untuk menebar benih Islam. Orang dulu kan berpikirnya simbolik begitu,” lanjutnya. Di desa itu, ia memulai dakwah dengan meniru upacara yang dilakukan aliran Tantrayana. Praktiknya sama yaitu orang-orang duduk melingkar. Tapi yang di tengah-tengah mereka bukan korban manusia, melainkan makanan dan minuman halal. Itulah yang kemudian sekarang disebut slametan atau kenduri.

Kemudian, penulis membaca tujuan awal dari Slametan dan kenduri. Ternyata tujuannya, menurut Agus Sunyoto, adalah untuk menyelamatkan penduduk desa-desa di sekitar Kediri dari agar tidak jadi korban pancamakara aliran Tantrayana. “Untuk selamet ya harus slametan. Itu logika yang tak pernah lepas dari masyarakat Jawa. Bentuknya membuat lingkaran seperti yang dilakukan bhairawa tantra,” jelasnya.

Akhirnya penulis mengetahui, bahwa dari desa Singkal itulah slametan menyebar ke seluruh pedalaman. Kemudian ke wilayah pantura dan daerah-daerah lain. Upacara tersebut masih dilakukan sampai sekarang dalam situasi-situasi tertentu. (Abdullah Alawi)
NU Online

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar
26 April, 2016 23:14 delete

Baru tahu saya sejarah selametan,

Reply
avatar
26 April, 2016 23:15 delete

Baru tahu saya sejarah selametan,

Reply
avatar