Hanya terhadap Pezina Jugakah, Pezina Harus Menikah?

Setelah beberap bulan setengah 'melupakan', akhirnya penulis menyambangi blognya lagi. Banyak masalah yang menjadikan penulis 'lupa' terhadap blognya. Baik masalah keluarga yang bisa 'memeras' pikiran, maupun tugas kuliah, skripsi dan kerja praktek, yang harus kelar.
Disela-sela waktu santai ini, penulis akan membahas pernikahannya seorang pezina. Pembahasan ini berawal dari teman penulis satu pesantren yang bertanya. Sebenarnya, pertanyaannya membahas tentang penafsiran surat al-Nur ayat 3.

{الزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ ۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ} [النور : 3]
Artinya:
"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu'min"

Namun, penulis lebih tertarik melihatnya dari segi fikih (hukum Islam). Sehingga, pertanyaan teman penulis memunculkan pertanyaan " Hanya terhadap Pezina Jugakah, Pezina Harus Menikah?" begitu juga sebaliknya (bukan pezina).

Tidak berselang lama setelah teman penulis bertanya, penulis langsung mecari kitab tafsir yang ada untuk dijadikan referensi. Teks tafsir yang didapatkan adalah sebagai berikut:

  • dari tafsir Jalalain
الزَّانِي لَا يَنْكِح} يَتَزَوَّج {إلَّا زَانِيَة أَوْ مُشْرِكَة وَالزَّانِيَة لَا يَنْكِحهَا إلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِك} أَيْ الْمُنَاسِب لِكُلٍّ مِنْهُمَا مَا ذُكِرَ {وَحُرِّمَ ذَلِكَ} أَيْ نِكَاح الزَّوَانِي {عَلَى الْمُؤْمِنِينَ} الْأَخْيَار نَزَلَ ذَلِكَ لَمَّا هُمْ فُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ أَنْ يَتَزَوَّجُوا بَغَايَا الْمُشْرِكِينَ وَهُنَّ مُوسِرَات لِيُنْفِقْنَ عَلَيْهِمْ 
فَقِيلَ التَّحْرِيم خَاصّ بِهِمْ وَقِيلَ عَامّ وَنُسِخَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ

  • dari tafsir Ahkam Rowa'iul Bayan 

الحكم الثالث عشر: هل يصح الزواج بالزانية؟
اختلف علماء السَّلف في هذه المسألة على قولين:
الأول: حرمة الزواج بالزانية، وهو منقول عن علي والبراء وعائشة وابن مسعود.
الثاني: جواز الزواج بالزانية وهو منقول عن أبي بكر وعمر وابن عباس وهو مذهب الجمهور. وبه قال الفقهاء الأربعة من الأئمة المجتهدين. --الى ان قال-- د - وتأولوا الآية الكريمة {الزاني لاَ يَنكِحُ إِلاَّزَانِيَةً} بأنها محمولةٌ على الأعم والأغلب ومعناها أن الفاسق الخبيث الذي من شأنه الزنى والفسق لا يرغب في نكاح المؤمنة الصالحة من النساء إنما يرغب في فاسقة خبيثة مثله أو مشركة، والفاسقة الخبيثة لا يرغب في نكاحها الصالح المؤمن من الرجال وإنما يرغب فيها الذي هو من جنسها من الفسقة والمشركين فهذا على الأعم الأغلب.
وقال بعضهم إن الآية منسوخة نسختها الآية في سورة النور {وَأَنْكِحُواْ الأيامى مِنْكُمْ} [النور: ٣٢] والزانية من الأيامى وسيأتي معنى (الأيامى) مفصلاً إن شاء الله فارجع إليه هناك والله يتولاك.

Dengan mendasarkan referensi tafsir diatas, penulis menampilkan beberapa pandangan ulama' mengenai hukum yang bisa dijadikan jawaban pertanyaan diatas:
  • Haram, hanya saja keharaman ini dikhususkan bagi kaum muhajirin yang fakir dan berkeinginan menikahi wanita pezina yang kaya.
  • Haram mutlak (tidak terkhususkan seperti pendapat diatas), hanya saja hukum haram ini sudah dinusakh (diganti) dengan hukum boleh dengan mendasarkan ayat:
{وَأَنْكِحُواْ الأيامى مِنْكُمْ} [النور: ٣٢]  
  • Boleh, ini adalah pendapat mayoritas ulama' (Empat Imam fikih). Mereka berpendapat, ayat tersebut didasarkan pada keadaan umum. Umumnya, orang pezina tidak suka menikah dengan wanita yang sholihah dan wanita pezina tidak suka menikah dengan pria yang sholih.

Dengan mendasarkan keterangan diatas, dapat disimpulkan, bahwa seorang pezina tidak harus menikah dengan pezina juga. Dalam artian, pezina boleh menikah dengan wanita yang sholihah dan orang sholih juga tidak haram menikah dengan wanita pezina.

والله اعلم بالصواب

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »