Sering Terpecah karena Politik, Ulama dan Habaib Serukan Perdamaian

Demak,
Ulama dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti acara silaturahmi “ Majelis al-Muwasholah Baina Ulama al-Muslimin” di Pondok Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak, Selasa (23/8). Silaturahmi yang digelar di aula pesantren ini dipimpin Habib Muhammad Al Juneid al Hadromi sebagai utusan Habib Umar bin Hafidz dari Tarim, Yaman.



Pengasuh Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak, KH. Muhammad Hanif Muslih mengungkapkan rasa terima kasih atas kehadiran para ulama dan masyayikh. Ia juga menjelaskan bahwa tugas para alim ulama semakin berat karena selain menghadapai paham baru yang diimpor dari luar, juga menghadapi persoalan bangsa seperti terorisme dan merebaknya kemaksiatan dalam bentuk narkoba, pergaulan bebas, perilaku menyimpang seperti LGBT dan lain-lain. “Melalui silaturahmi ini diharapkan persoalan bangsa dapat diselesaikan,” katanya.

Pimpinan Majlis al Muwasholah Jateng, Habib Sholeh Al Jufri menjelaskan, organisasi ini sudah dibentuk sejak tahun 2007. “Kegiatan silaturahmi ini yang kedua di PP. Futuhiyyah. Kali pertama diadakan pada tahun 2008. Delapan tahun kemudian tepatnya Agustus 2016 ini baru kembali ke Mranggen,” kata Habib Sholeh.

Tujuan silaturahmi hanya satu, yaitu mengembalikan marwah para alim ulama, kiai dan habaib sebagai uswah hasanah, panutan umat sekaligus memperkuat amaliah ahlussunah wal jamaah khususnya di Indonesia. “Sempat muncul keprihatinan dan kebingungan umat ketika para alim ulama terkotak-kotak dalam partai politik dan terhanyut dengan paham ajaran tertentu. Alhamdulillah melalui silaturahmi bisa disatukan kembali,” lanjutya.

Menurut Habib Muhammad Al Juneid dari Tarim Yaman, Majelis al Muwasholah tidak hanya di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Para kiai, alim ulama, dan hababib dituntut untuk berpikir global merumuskan berbagai solusi persoalan umat dan perdamaian dunia.

Habib Muhammad juga mengingatkan bahwa pertikaian di Timur Tengah yang tidak kunjung reda bukan karena persoalan agama atau paham tertentu, tetapi semua karena ambisi kekuasaan dan nafsu ingin berkuasa. “Sayangnya, ambisi kekuasaan itu menggunakan label agama, sehingga yang tidak paham melihatnya sebagai pertikaian agama. Padahal sesungguhnya tidak,” katanya.

Majelis Muwasholah didirikan bukan untuk menjadi organisasi baru yang menyaingi ormas Islam yang sudah ada di banyak negara. “Semata bertugas mendorong dan memotivasi agar para alim ulama, kiai, habib tetap pada garis perjungan dakwah Rasulullah SAW,” ungkapnya.

Beberapa tokoh yang hadir diantaranya pimpinan Majelis al Muwasholah Bainal Ulama al Muslimin Indonesia, Habib Jindan bin Novel (Jakarta), Habib Sholeh al Jufri (Solo), Habib Muhsin Al Hamid BSA, Habib Hamid Al Qodri, Habib Quraisy Baharun, KH. Ahmad Rofi’i (Pamekasan Madura), KH. Muhyiddin Abdul Qodir (Subang Jawa Barat), Syeikh Yusuf Fauzi (Malang), KH. Munir Abdullah Ngroto Gubug dan Rois Syuriah PWNU Jateng KH. Ubaidulloh Shodaqoh. (Ben Zabidy/Zunus)

Sumber: NU Online

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »