Didasari Keagamaan Kuat, Pesantren Miliki Semangat Kebangsaaan

Semarang - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan Lentera Indonesia Institute menyelenggarakan Seminar Nasional tentang Wawasan Kebangsaan dengan mengusung tema "Menyemai Pancasila dan Nasionalisme untuk Memperkokoh Wawasan Kebangsaan Generasi Muda Bangsa".

Hadir sebagai pembicara Wakil Katib Syuriah PWNU Jateng sekaligus Wakil Rektor II UIN Walisongo) KH Imam Taufiq, Kepala Bagian Analisis Direktorat Intelijen dan Keamanan (Dit Intelkam) Polda Jawa Tengah AKBP Bambang Purwadi, dan budayawan dan aktivis sosial-pendidikan Jawa Tengah Harjanto Halim. Seminar ini berlangsung di auditorium I lantai I UIN Walisongo (27/9).

Dekan FUHUM H. Mukhsin Jamil membuka seminar dengan menyatakan bahwa tantangan global gerakan sosial politik yang berakar bermacam-macam dan bertumbuh subur. Francis Fukuyama (1992) dalam buku "The End of History and the Last Man" bahwa manusia terakhir yang ada akan berwatak konsumerisme dan hedonisme. Namun, disisi lain tesis ini gagal karena masih banyak gerakan-gerakan relijius dan transnasional yang berada di Indonesia.

"Berbanggalah menjadi bangsa yang memiliki perekat bangsa berupa Pancasila", tandas Mukhsin.
Sementara Imam Taufiq menjelaskan tentang peran pesantren yang dalam sejarah telah mencetuskan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945. “Resolusi  itu menjadi api semangat untuk menjaga bangsa dan negara dalam melawan penjajah. Berbagai modal sejarah lainnya yang harus kita urai," terang pengasuh pesantren Darul Falah Besongo ini.

H. Imam juga memberikan formula penting bagi Muslim yang tinggal di Indonesia. Bahwa struktur dan sintesa yang perlu dikembangkan adalah dengan menciptakan kesadaran perbedaan kultur. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki kekayaan nilai-nilai luhur menjadi agent penyebar gagasan ini.

Sebab, kata dia, di pesantrenlah tumbuh semangat kebangsaan yang tinggi dengan didasari keagamaan yang kuat. Dari sinilah kita bisa memasukkan nilai-nilai kebangsaan dengan lebih mudah.
Haryanto Halim, pada kesempatan itu, mengenang kebesaran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur memberikan cara beragama di Indonesia dengan cara yang berbeda. Teladan seperti inilah yang perlu diperbanyak dan dimunculkan ke permukaan.

"Gus Dur menjadi pohon beringin yang mengayomi umat manusia dengan ke-NUannya, keislamannya dan kemanusiaannya," papar pengusaha Semarang ini.
Selain itu, dibutuhkan pula formula untuk membangun Indonesia ini. Islam di Indonesia ini merupakan Islam yang ramah dan santun. Dengan cara memperbanyak actor-aktor yang memiliki jiwa nasionalisme terhadap bangsa ini. (Zulfa/Abdullah Alawi)

Sumber: NU Online

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »