Bahasa dan Literasi Dakwah Islam Nusantara

Bahasa penting disinggung dalam obrolan tentang dakwah kekinian. Bahasa juga merupakan kunci utama dakwah Islam di Nusantara. Para Da’i itu dengan santun dan lembut menjadikan bahasa sebagai media akulturasi budaya. Saling bertutur kata, bertukar pengalaman dan tradisi, bahasa memunculkan kesepakatan adanya Islamisasi budaya di Nusantara. Tahlilan, selametan, maulidan adalah merupakan beberapa diantara sekian banyak tradisi yang ada. 

Sehingga kini tradisi-tradisi itu mengakar sebagai identitas yang tak lekang oleh masa. Muballigh zaman dahulu menjalankan amanah dakwah itu sesuai dengan wahyu dan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Kata iqra’(baca) merupakan kunci dari segala tradisi, ibadah dan prinsip yang melekat dalam dakwahnya.

Bersama itu istilah literasi menjadi bagian dari eksistensi tradisinya. Tahlilan, manaqiban, talqin, maulidan, adalah beberapa tradisi yang mustahil dilakukan tanpa sumber literasi. Masyarakat membaca banyak sejarah (biografi) kenabian, wali dan ulama. Memasukkannya sebagai bagian dari doa, menjadi jembatan penghubung agar cepat sampai kepada Tuhan. 

Bagi sebagian yang mampu memahami itu digunakan sebagai bahan ceramah kepada umat dan diteladani demi kemashlahatan. Sebagian lain menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal sebagai bacaan masyarakat awam. Tidak jarang juga menggubahnya dalam bentuk syair atau nadham agar mudah diingat dan dihafal. 

Peran santri

Tradisi berliterasi itu sebanarnya tidak bisa dilepaskan dari pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan pertama di Nusantara. Kader-kader dari pondok pesantren (baca : santri) adalah kaki tangan para kiai yang digadang menjadi pelopor kebangkitan kaum urban. Dakwah dan gerakannya mampu menyusup di setiap lapisan.

Itu merujuk pada keteladanan kiai yang mempunyai semangat mengabdikan diri untuk masyarakat sampai pelosok negeri. Para ulama itu memberi petuah dan pendidikan secara tekun dan istiqomah (konsisten). 

Di lingkungan pondok pesantren berbagai jenis sumber literasi diajarkan melalui hubungan (sanad) yang tiada terputus (muttasil). Dalam hal ini sumber literasi utama kaum santri ialah kitab kuning. Sumber literasi yang umumnya memakai aksara arab itu kemudian diterjemahkan, dibacakan, dijelaskan secara gamblang berdasar pengalaman kiai maupun santri. Sebuah literasi wajib yang tidak habis dimakan usia. Relevansi ilmunya terjaga dan dinamis sesuai perkembangan zaman, bahkan sampai sekarang.

Berbagai disiplin ilmu, mulai dari tauhid, tafsir, tata bahasa, akhlak dan pendidikan, fikih sampai dalam tatanan sosial kemasyarakatan diajarkan. Kebiasaan untuk berdiskusi masalah (Bahtsul Masail) santri kian diakrabkan dengan tradisi berliterasi. Maka tak heran jika kedalaman ilmu seorang santri mampu bersaing dengan cendekiawan perguruan tinggi, bahkan di tingkat internasional. Hebat!

Sebagai turunan adanya kitab kuning, literasi juga turut andil dalam akulturasi budaya, yaitu antara Arab dan Nusantara. Akulturasi itu teraktualisasi dalam bentuk aksara yang istilahnya seringkali disebut dengan pegon. Yaitu bahasa asli pribumi yang dituliskan dalam bentuk aksara arab (Hijaiyah). Pegon amat terkenal dikalangan santri. Ia menjadi identitas kedua setelah kitab kuning.

Dengan pegon makna per kosakata mampu dipahami secara terperinci. Penggunaan pegon-jawa dalam memaknai kitab kuning dirasa mendekati sempurna. Demikian itu sebab bahasa jawa mempunyai berbagai tingkatan bahasa dan makna yang berbeda.

Inilah upaya dari dai dan ulama Nusantara dengan menjadikan literasi sebagai jalan akluturasi budaya. Tujuan utamanya tentu menyatukan Islam dengan penduduk Nusantara. Bijaksana bukan?

Tantangan modernitas

Semakin berkembang ke era modern, literasi bisa terus diaktualisasikan dalam hal penulisan buku, jurnal, bahkan media massa. Tradisi dakwah sebagaimana diuraikan diatas kini harus mampu bersaing. Pun demi kontinuitas disertai penyempurnaan pemikiran serta gerakan untuk ikut serta membangun negeri.

Melalui bahasa dan literasi mempertahankan semangat Nusantara menjadi misi penting. Menyiarkan ajaran ulama-ulama Nusantara secara masif  membahana. Berupaya mengimbangi digitalisasi era yang terus membabi buta. Sehingga akulturasi budaya, kedamaian dan kemashlahatan umat tetap terjaga. 

Kita tahu, kini tak peduli siapa pun mampu mengakses berbagai informasi tanpa filter dan dasar yang kuat. Generasi kita perlahan dijejali dengan pengetahuan yang beragam, berikut pula berbagai ideologi, aliran dan paham. Tanpa dasar cinta dan pemikiran moderat siapa saja bisa terjerat. Terbawa arus yang menjadi musuh kita bersama, yaitu radikalisme dan ancaman perpecahan.

Jadi, seberapa siap kita mempertahankan dakwah Islam Nusantara yang damai dan mengutamakan kemashlahatan?

Oleh Muhammad Farid
Penulis pernah Nyantri di Pesantren Miftahul Falah Kudus. Sekarang aktif di Lembaga Pers Mahasiswa “Paradigma” STAIN Kudus. Peneliti di Paradigma Institute Kudus.

Sumber: NU Online

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »