Donald Trump Presiden AS, Ini yang Ditakutkan Dunia

Jakarta - Donald John Trump menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-45. Dalam perhitungan suara, Trump mengungguli pesaingnya, Hillary Diane Rodham Clinton, Kandidat dari Partai Demokrat, dalam pengumpulan electoral college, sebanyak 289 berbanding 218.

Dunia pun bereaksi atas pilihan mayoritas masyarakat AS tersebut. Meskipun pimpinan pemerintah beberapa negara mengeluarkan pernyataan publik yang bersifat netral, para pakar dan analis, serta suara masyarakat di media sosial cenderung khawatir atas terpilihnya Trump.

Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika ditanyai wartawan menyatakan bahwa banyak orang yang berharap Hillary Clinton yang menang. Kemenangan Clinton itu diperlukan untuk menjamin perdamaian dunia.

"Indonesia dan dunia tentu berharap perdamaian, ingin sesuatu yang damai, dan perekonomian tetap berjalan. Ya, kalau Trump (yang menang), wah kelihatannya susah itu, dunia nanti juga jadi susah," kata Kalla, Selasa, 8 November 2016, menjelang hari pemungutan suara di AS.

Yang pasti, salah satu kesusahan itu akan dialami negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, sepeti Indonesia. Hal itu lantaran Trump bakal melarang masuknya warga Muslim ke AS. Mereka tidak bisa lagi berlibur atau mengunjungi kerabat dan sahabat yang tinggal di AS. Menurut CBSNews, saat ini ada sekitar 100 rbu warga Indonesia yang tinggal di AS.

Soal pelarangan warga negara asing ke AS, juga menjadi isu besar bagi Meksiko. Berdasarkan janji kampanyenya, Trump akan membangun tembok tinggi di sepanjang perbatasan AS-Meksiko untuk mencegah masukknya imigran ilegal. Komentar Trump yang menyakitkan bangsa Meksiko adalah, "negara itu mengirimkan pemerkosa, penjahat, dan narkoba melewati perbatasan."

Kaum imigran yang sudah berada di AS pun mulai tidak tenang hidupnya. Trump sudah berancang-ancang menerapkan aturan catatan kriminal--semacam surat tilang--bagi pendatang haram. Mereka yang mendapatkan catatan kriminal itu akan dideportasi ke negara asalnya.

Tidak mengherankan jika arus migrasi keluar AS seperti ke Kanada melonjak drastis. Situs web imigrasi Kanada bahkan dilaporkan lumpuh sejak malam setelah pencobloasan karena diserbu warga AS yang mengajukan permohonan pindah warga negara.

Kuba, termasuk negara yang berada dalam kebimbangan menyusul kemenangan milyuner real estate itu. Trump berjanji akan membatalkan normalisasi hubungan AS-Kuba yang diupayakan Presiden Barack Obama melalui dua tahun negosiasi itu. Seperti dikutip CBSNews dari jaringan Telesur, juru bicara pimpinan Kuba yang juga anggota Partai Komunis serta pakar politik dan ekonom Esteban Morales mengungkapkan rasa pesimistisnya. "Mereka pasti khawatir karena saya pikir ini merepresentasikan sebuah bab baru."

Kemenangan Trump juga dinilai bisa meningkatkan tensi keamanan di kawasan Asia-Pasifik. Kawasan ini sudah dipanaskan dengan ketegangan antar-sesama Korea, Korea Selatan-Jepang versus Korea Utara-Cina, serta konflik Laut Cina Selatan.

"Jangan lupa, ketika kampanyenya, Trump mengatakan sekarang waktunya sekutu Amerika harus membayar," kata pakar politik internasional Dewi Fortuna Anwar saat dihubungi, Jakarta, Rabu, 9 November 2016.

Pasalnya, kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI ini, setidaknya ada dua negara di kawasan ini yang keamananya tergantung pada AS, yaitu Korea Selatan dan Jepang.

"Jika tidak lagi 'dilindungi' Jepang tentu ingin membangun kekuatan persenjataan sendiri, hal tersebut tentu akan mengganggu stabilitas di kawasan jika melihat ketegangan yang selama ini terjadi di Asia-Pasifik," tutur Dewi.

Kemenangan Trump ini, kata Dewi membuat komunitas global harap-harap cemas, pasalnya pemerintahan Trump dinilai tidak bisa diprediksi, terlebih Kongres juga dikuasai oleh Partai Republik.

"Harapan kita semua tentu, Trump akan lebih rasional, dengan mengedepankan diplomasi dalam menyelesaikan setiap perselisihan yang terjadi, seperti yang diinginkan negara-negara secara umum."
Sumber: TEMPO

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »