Hewan Hinggap Dipakaian sedang Kakinya Terkena Najis, Bagaimana Sikap Fiqih?

Sumber Gambar: Walpaper Bang Samin
Lelah, mungkin itulah yang sedang dirasakan santri penghuni blog ini. Selepas menunaikan ibadah shalat Jum'at, dia langsung membentangkan badannya diatas karpet tanpa kasur.

Dalam menuju tidurnya, dia tidak bisa tenang. Karena, teringat pertanyaan dari temannya. Sebenarnya, pertanyaannya sudah terjawab. Cuman, dia merasa rugi saja bila tidak dibagi melalui blognya.

Pertanyaan temannya berupa permasalah fikih najasah (tentang najis). "Iku kang nak ono kewan suci trus keno banyu ne uyuh, trus kewan iku mau menclok nang pakean, tp posisi ne pakean seng d encloki kewan iku mau ora ono bekas e najis, opo iku iso d hukumi najis" tanya temannya dalam bahasa Jawa.

Bila pertanyaan temannya diungkapkan dalam bahasa Indonesia, berintikan bila ada hewan yang kakinya terkena najis kemudian hinggap dipakaian bagaimanakah hukumnya?

Dalam menjawab pertanyaan temannya, dia mendasarkan pada kitab al-Busyro al-Karim. Berikut kutipan dari kitab tersebut:

(ولا ينجَّس غبار السرجين) أو ما هو بمقدار الذر منه (أعضاءه) وثيابه (الرطبة) ولا ما وقع فيه؛ لمشقة الاحتراز عن جميع ذلك.
ويعفى أيضاً عن منفذ غير آدمي إذا وقع في مائع، بل قال جمع: المنفذ ليس قيداً، بل مثله ما على نحو رجله وفمه، وعما يحمله نحو الذباب، وعن ونيمه وإن رؤي، وعن بعر محلوب ورجله المتنجسة إذا وقعا في اللبن حال حلبه، وعما يبقى على نحو الكرش بعد المبالغة في تنقيتها، 

Kutipan tersebut menerangkan, bahwa najis yang terdapat dikaki hewan seperti lalat, dihukumi ma'fu (dima'afkan). Karenanya, bila ada pakaian yang terkena najis seperti demikian, boleh dipakai shalat.
والله اعلم بالصواب

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »