Slank: Pesantren Ternyata Canggih

Pada tanggal 21 Oktober, grup band Slank, melalui akun @slankdotcom mengucapkan selamat Hari Santri yang diperingati 22 Oktober. “Selamat memperingati #HariSantriNasional Khidmahkan diri untuk perjuangan, demi bangsa dan negara #DoaSlank.”

Pada tanggal 28 Oktober, melalui akun yang sama, mengatakan, “Malam ini di Jogja, Slank dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional oleh RMI-NU #ngeSlankRameRame.”

Sebetulnya bagaimana Slank memandang dunia santri dan pesantren? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai vokalisnya, Kaka, selepas konsferensi pers di sela final Liga Santri Nusantara di stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta, Ahad (30/10).

Bagaimana pernyataan Slank dengan dilibatkan pada Hari Santri?

Kita dari Slank sangat bangga dan bahagia bisa ikutan di Hari Santri Nasional 2016. Apalagi ada Liga Santri Nasional, yang notabene adik-adik kita yang main. Saya nonton separuh babak main. Wah, ini sebetulnya future-nya sepak bola Indonesia; datangnya dari Liga Santri, liga yang bawah-bawah, grassroot itu justru kita tidak boleh menutup mata pada liga-liga yang ada di kampung-kampung di desa-desa karena bagaimana kita mencari pemain baik kalau cuma itu-itu aja. Kita Indonesia ini talentannya banyak sekali.

Slank kemarin juga udah dijadiin duta santri. Itu sekaligus membanggakan sekaligus beban. Tapi aku pikir begini, sebagai Slank akhirnya, alhamdulillah dititipkan santri-santri, kiai-kiai kita jadi simbolnya anak muda, khususnya santri. Santri-santri dengan bersilaturahmi dengan kita, jadi open mainded, open heart, bergaul dengan Slank. Slank juga ilmunya menjadi banyak. Jadi win win solution saya melihatnya.

Sebelum mengenal pesantren bagaimana pandangan Slank melihat santri?

Dulu kita pernah turun tour religi bersama sama Mas Sastro (mantan Ketua Lesbumi PBNU, red.) tahun 2012. Itu cikal-bakal kita bersinggungan dengan pondok, sama pesantren. Itu tour sukses.

Bagaimana melihat pesantren?

Dulu kebayangnya pesantren itu kayak sekolah asrama saja, ternyata canggih. Banyak pesantren yang aku masukin tahun 2012 itu yang fasilitasnya selengkap sekolah biasa saja, ada fasilitas internet, ada fasilitas olah raganya, banyak yang bagus-bagus.

Bagaimana dengan pesantren yang dikesankan kalangan terrtentu sebagai kolot?

Hilang seketika. Kadang-kadang di pesantren itu saya melihatnya bisa fokus karena isinya sehari-hari belajar dan belajar dan mungkin apa, dengan adanya kenal sama Slank bisa lebih luwes aja sih. Orang yang terus belajar itu konotasinya yang biasanya kehidupan belajar, begah juga, ini dikasih hiburanlah, main sama Slank.

Sumber: NU Online

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »