Transaksi Via Alat Elektronik

Sumber Gambar: DW Gator
KEPUTUSAN
KOMISI BAHSUL MASAIL DINIYAH WAQI’IY YAH
MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA XXXII  2010
23 SAMPAI 27 MARET 2010

Deskripsi Masalah
Kemajuan  teknologi  dan  Informasi  telah  mengantarkan  pada  pola  kehidupan umat manusia lebih mudah sehingga merubah pola sinteraksi antar anggota ma-syarakat. Pada era teknologi dan nformasi ini, khususnya internet, seseorang dapat melakukan perubahan pola transaksi bisnis, baik berskala kecil mapun besar, yaitu perubahan  dari  paradigma  bisnis  konvensional  menjadi  paradigma bisnis elek-tronikal. Paradigma baru tersebut dikenal dengan istilah Electronic Commerce, umumnya disingkat E-Commerce.

Kontrak  elektronik  adalah  sebagai  perjanjian  para  pihak  yang  dibuat  melalui sistem elektronik. Maka jelas bahwa kontrak elektronikal tidak hanya dilakukan melalui  internet  semata,  tetapi  juga  dapat  dilakukan  melalui  medium  faksimili, telegram,  telex,  internet,  dan  telepon.  Kontrak  elektronikal  yang  menggunakan media informasi dan komunikasi terkadang mengabaikan rukun jual-beli (ba’i), seperti shighat, ijab-qabul, dan syarat pembeli dan penjual yang harus cakap hu-kum.

Bahkan  dalam  hal  transaksi  elektronikal  ini  belum  diketahui  tingkat  ke-amanan  proses transaksi,  identifikasi  pihak  yang  berkontrak,  pembayaran  dan ganti rugi akibat dari kerusakan.  Bahkan akad nikah pun sekarang telah ada yang menggunakan fasilitas telepon atau Cybernet, seperti yang terjadi di Arab Saudi.

Pertanyaan:

  1. Bagaimana hukum transaksi via elektronik, seperti media telepon, e-mail atau Cybernet dalam akad jual beli dan akad nikah?
  2. Sahkah pelaksanaan akad jual-beli dan akad nikah yang berada di majlis ter-pisah?
  3. Bagaimana hukum melakukan transaksi dengan cara pengiriman SMS dari calon  pengantin pria  berisi  catatan  pemberian  kuasa  hukum  (wakalah)  ke-pada seseorang yang hadir di majlis tersebut?

Jawaban:
  1. Hukum akad jual beli melalui alat elektronik sah apabila sebelum transaksi kedua  belah  pihak sudah  melihat  memenuhi  mabi’  (barang  yang  diperjual-belikan)  atau  telah  dijelaskan baik sifat  maupun  jenisnya,  serta  memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun jual beli lainnya. Sedangkan hukum pelaksanaan akad nikah melalui alat elektronik tidak sah, karena: (a) kedua saksi tidak melihat dan mendengar secara langsung pelak-sanaan  akad;  (b)  saksi  tidak  hadir di  majlis  akad;  (c)  di  dalam  akad  nikah disyaratkan  lafal  yang  sharih  (jelas)  sedangkan akad  melalui  alat  elektronik tergolong kinayah (samar).
  2. Pelaksanaan akad jual-beli meskipun di majlis terpisah tetap sah, sedangkan pelaksanaan akad nikah pelaksanaan akad jual-beli dan akad nikah yang be-rada di majlis terpisah di majlis terpisah tidak sah.
  3. Hukum melakukan akad/transaksi dengan cara pengiriman SMS dari calon pengantin pria berisi catatan wakalah (pemberian kuasa hukum) kepada ses-eorang yang hadir di majlis tersebut hukumnya sah dengan syarat aman dan sesuai dengan nafs al-amri (sesuai dengan kenyataan).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »