Memegang Teguh Ajaran Salaf

Sumber Gambar: Muslim Moderat
Oleh: KH. Abdullah Khafabihi Mahrus Lirboyo

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ يُفْتَتَحُ بِحَمْدِهِ كُلُّ رِسَالَةٍ وَمَقَالَةٍ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ نالْمُصْطَفَى صَاحِبِ النُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْهَادِيْنَ مِنَ الضَّلَالَةِ. أَمَّا بَعْدُ…

Pembaca yang Arif….
Dalam kesempatan kali ini, marilah kita telaah lebih dalam lagi ajaran-ajaran Salaf as Shalih. Mereka adalah para Sahabat dan Tabi’in, orang-orang yang hidup pada abad satu dan dua Hijriyah, begitu yang dituturkan al Ghazali dalam Iljam al Awam. Ada satu maqalah:

فَكُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ # وَكُلُّ شَرٍّ فِي اتِّبَاعِ مَنْ خَلَفَ

“Segala kebaikan adalah dengan cara mengikuti orang-orang terdahulu, sedangkan segala kejelekan adalah inovasi atau buatan orang-orang belakangan.

Dari maqalah ini, yang diutarakan oleh Syekh Ibrahim al Bajuri dalam Jauharah al Tauhid, coba kita renungi, mengapa beliau berpendapat begitu? Telah kita ketahui bahwa Nabi Saw. diutus untuk menyampaikan risalah dari Allah kepada umatnya, tidak ada satupun yang disembunyikan. Maka sudah barang tentu orang-orang yang menerima pertama kali adalah yang setia mendampingi Beliau setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Merekalah para sahabat-sahabat Nabi Saw., orang-orang dekatnaya yang menyaksikan langsung turunnya wahyu. Siang dan malam bersama Nabi Saw., tiada lain untuk menerima dan dapat memahami apa yang diwahyukan Allah kepada Nabi Saw. kemudian diamalkan, setelah itu diwariskan kepada generasi sesudahnya. Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasul Saw. diperintah mendengar sabdanya, memahami, menghafal, dan mengajarkannya agar tetap lestari ila yaumi al qiyamah. Rasul Saw. bersabda:

نَضَّرَ اللّٰهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئاً، فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ (رواه أحمد والترمذي وابن حبان)

Allah akan menjadikan baik seseorang yang mendengar sesuatu (hadis) dariku (Nabi Saw.) lalu menyampaikannya sebagaimana ketika ia mendengarnya.

Pembacayang bijak..
Salaf al Shalih adalah cermin dimana Islam masih dalam kemurniannya, tidak ada aliran-aliran baru yang muncul pada saat itu. Mereka masih berpegang teguh kepadauswah dan akidah terdahulunya, karena menerima secara langsung, pewaris pertama ilmu Islam. Mereka juga gigih dalam memperjuangkan Islam agar tetap bersatu tidak terpecah belah, mengahadang segala kemungkinan yang sesat dan menyesatkan umat. Salaf al Shalih adalah generasi emas umat ini, lebih-lebih pada zaman Shahabat. Ini sesuai dengan hadis Rasul Saw.:

خَيْرُ أُمَّتِيْ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ (رواه الترمذي)

Sebaik-baiknya umat adalah (mereka yang hidup) pada masaku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya.”

Pembaca yang setia…
Sedikit kita tengok pandangan Salaf dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabih yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah yang telah mereka terima, seperti ayat:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ (طه 5)

(Tuhan) Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas ‘Arsy.

Dan ayat:
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ (الفتح 10)

Tangan Allah di atas tangan mereka.

Mereka tidak banyak bertanya atau mengerahkan kemampuan untuk mencoba menalar dan menafsirinya dengan akal mereka. Yang mereka lakukan hanyanlah iman dan tashdiq, yakin bahwa apa yang disampaikah Nabi Saw. tentang sifat-sifat Allah adalah benar adanya, dan tiada keraguan sedikitpun di dalamnya. Mengakui akan keterbatasan akalnya memaham ayat tersebut. Mereka pasrah sepenuhnya bahwa Allah dan Rasul-Nya mengerti dan paham maksud dari ayat tersebut tanpa ada perasaan mangganjal di dalam hati. Mereka tidak bertanya, karena mereka mengerti, bertanya tentang hal tersebut adalah bid’ah. Anehnya, ke-bid’ah-an itu sekarang mewabah. Di berbagai forum dan kesempatan, hal tersebut menjadi bahan diskusi yang lagi nge-trend. Mereka asik membahas siapa? Apa? Dan di mana Tuhan? Apakah Tuhan memiliki tangan sebagaimana disebutkan ayat di atas?.

Pembaca yang berbahagia…
Pada suatu ketika, Imam Malik pernah disodori pertanyaan oleh seorang laki-laki tentang ayat di atas. Beliau langsung menundukkan kepalanya sejenak, kemudian berkata:

الْإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَمَا أَظُنُّكَ إِلَّا ضَالًّا

Istiwa’ (menguasai) itu sudah maklum, tapi gambaran tentang itu yang tidak bisa dijangkau akal. Mengimaninya adalah wajib, dan menanyakannya adalah bid’ah. Sungguh saya tidak punya persangkaan padamu kecuali kamu adalah orang yang tersesat.

Dari sini, bisa kita ketahui betapa berhati-hatinya orang Salaf dalam urusan tauhid, apalagi yang berkaitan langsung dengan dzat Allah dan sifat-Nya. Meraka tidak memberi peluang sedikitpun kepada akal membuat model baru karena itu semua akan membuat mereka sesat sekaligus menyesatkan.

Nabi Saw. bersabda:
اتَّبِعُوْا وَلَا تَبْتَدِعُوْا وَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِمَا ابْتَدَعُوْا فِيْ دِيْنِهِمْ وَتَرَكُوْا سُنَنَ أَنْبِيَائِهِمْ وَقَالُوْا بِأَرَائِهِمْ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

Patuhlah kalian semua, jangan membuat model baru. Kerusakan orang-orang sebelum kamu disebabkan mereka membuat bid’ah (model baru) dalam agama mereka dan meninggalkan ajaran-ajaran Nabi mereka. Akhirnya mereka tersesat dan menyesatkan.”

Pembaca yang arif…
Maka dari itu, mari kita kokohkan akidah kita, sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh aliran-aliran baru yang sekarang mewabah di mana-mana. Kita pegang ajaran salaf, kita jadikan beliau-beliau anutan dalam segala hal, baik itu budi luhur, ibadah, dan akidahnya. Insya Allah kita akan selamat dunia dan akhirat, karena mereka adalah generasi terdekat dengan Nabi Saw., pewaris pertama. Mereka sangat berhati-hati semasa hidupnya, kapan dan di mana mereka melangkah, di situlah mereka memegang teguh apa yang telah di wariskan oleh Nabi Saw. Sebab itu semua tidak lain adalah perintah Rasul Saw., seperti dalam sabdanya:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Berpeganglah atas sunnah-ku dan sunnah Khulafa al Rasyidin, gigitlah dengan gigi geraham sunnah-sunnah-nya.”

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Berhati-hatilah kalian terhadap muhdatsah (hal-hal yang baru), karena sesungguhnya semua muhdatsah itu bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.”

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Sumber: Lirboyo

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »