Puasa bagi Sopir, Kondektur Bus atau yang Selalu Perjalanan

Sumber Ilustrasi: FanPage Muslim
Peramu web ini sadar, mulai dari masa pendidikan SD sampai selesai kuliyah, karakternya selalu berubah. Dari pendiam sampai turah cangkem, dari sok alim sampai berpenampilan dugal (anak nakal), pernah dialaminya. Dikatakan labil tapi beberapa orang menganggap pikirannya sudah dewasa, dikatakan dewasa tapi tingkah lakunya tidak menentu. Mbuhlah...

Coretan kali ini ada karena sifat turah cangkemnya (banyak omong). Diakui, karena sifatnya ini, dia mudah bergaul dengan orang. Hehe tapi baru pria, kalau dengan perempuan belum bisa mudah akrab, bingungi. Terkahir, dia banyak bincang dengan sopir dan kondektur bus.

Ketika hendak menyusul sepupu ke Jateng yang mau pulang ke Sumatera lewat bandara Juanda, dia ngobrol banyak dengan kondektur bus. Dari sistem gaji pegawai bus sampai bab fiqih puasa. Terbenak rasa salut kepada kondektur ini ketika bahas bab puasa.

"Puasa terus mas, kalau nuruti (mengikuti) anggapan menjadi musafir, saya musafir terus. Bisa-bisa satu tahun tidak puasa sama sekali. Terus, kapan puasanya?" Jawab kondektur bus ketika peramu web bertanya, "apakah berpuasa ketika bekerja ini?".

Peramu web tidak sharing pemahaman tentang bagaimana puasanya orang yang perjalanan terus. Karena, selama perjalanan, peramu web tidak berpenampilan santri tapi berpenampilan seperti anak jalanan. Tiwas ngekei pemahaman tapi ora digugu haha.

Tapi, secara fiqih memanglah benar prinsip yang dipakai kondektur bus. Orang yang selalu perjalanan, seperti pegawai bus, diharuskan berpuasa terkecuali dia menyengaja bakal mengqodho' dihari lain dalam perjalanannya atau punya harapan bakal mengqodho' ketika bermukim (tidak perjalanan). Bila ada tekad atau harapan tersebut, boleh untuk tidak berpuasa. Tentu, asal perjalanannya memenuhi syarat untuk melakukan qoshr shalat.

Akhirnya, karena sudah akrab dengan karyawan bus, ketika sampai tujuan mereka berpesan, "besok kalau bepergian naik ini lagi ya!". Pokok'e gratis, ok wae haha.

Referensi:
Abu Bakr bin Muhammad Syattha al-Dimyathi, I'anah al-Tholibin, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Vol: II, hal: 394.
ويستثنى من جواز الفطر بالسفر: مديم السفر، فلا يباح له الفطر، لأنه يؤدي إلى إسقاط الوجوب بالكلية، إلا أن يقصد قضاء في أيام أخر في سفره، ومثله من علم موته عقب العيد، فيجب عليه الصوم إن كان قادرا، فجواز الفطر للمسافر - إنما هو فيمن يرجو إقامة يقضي فيها، وهذا هو ما جرى عليه السبكي، واستظهره في النهاية. والذي استوجهه في التحفة: خلافه، وهو أنه يباح له الفطر - مطلقا - وعبارتها: قال السبكي بحثا: ولا يباح الفطر، لمن لا يرجو زمنا يقضي فيه لإدامته السفر أبدا، وفيه نظر ظاهر، فالأوجه خلافه.اه.

Sa'id bin Muhammad Ba'aly, Busyro al-Karim, Beirut: Dar al-Minhaj, hal. 560.
نعم؛ إن نذر المسافر إتمام صومه .. لم يجز له الفطر، وكذا مديم السفر؛ لأنه يؤدي إلى إسقاط الوجوب بالكلية، ومسافر غلب على ظنه أنه لا يعيش إلى أن يقضيه -كذي مرض مخوف- وهو قادر على الصوم قاله (م ر)، ونظر في الأولى في "التحفة"، و"الإيعاب"، و"الإمداد" في كليهما.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »