Bekas Budak Seks ISIS Ini Raih Nobel Perdamaian

Oslo - Aktivist hak asasi manusia Yazidi Nadia Murad Basee Taha (25) mendapatkan Nobel Perdamaian 2018 pada Jumat, (5/10). Nadia mengaku bangga dan terhormat menerima penghargaan bergengsi tersebut.

“Saya berbagi penghargaan ini dengan para Yazidi, penduduk Irak, Kurdi, seluruh minoritas, dan semua korban kekerasan seksual di seluruh dunia,” kata Nadia dalam pidatonya saat menerima penghargaan tersebut, dikutip laman Reuters.

Nadia mengaku bersyukur, bisa menarik perhatian internasional terhadap penderitaan Yazidi. Sebuah etnis minoritas di Irak yang ditindas dan dijajah kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sejak 2014 silam. 

“Seperti banyak kelompok minoritas, Yazidi telah menanggung beban penganiayaan historis,” tambahnya.

Ia menyerukan agar segala bentuk kekerasan seksual dihentikan. Baginya, tidak ada toleransi atas kekerasan seksual terhadap perempuan. Para pengungsi juga harus dibantu agar bisa kembali ke rumahnya masing-masing atau ditempatkan di tempat lain yang aman.

“Kita tidak hanya memimpikan masa depan yang lebih baik untuk perempuan, anak-anak, dan kelompok minoritas yang dipersekusi. Kita harus bekerja secara konsisten untuk mewujudkan itu, mengutamakan kemanusiaan bukan perang,” paparnya. 

Selain Yazidi, seorang pakar ginekologi asal Kongo Denis Mukwege juga menerima Nobel Perdamaian 2018. 

Bekas budak seks ISIS

Nadia Murad ditangkap ISIS pada 2014 silam. Pada saat itu, ISIS mulai menginvasi wilayah Yazidi di Irak. Laki-laki dewasa Yazidi dibunuh, anak-anaknya dididik menjadi tentara ISIS, dan perempuannya dibawa dan dijadikan budak seks. 

Nadia dan perempuan Yazidi lainnya dibawa ke Mosul, ibu kota ISIS. Di sana, Nadia dan perempuan lainnya yang berhasil ditangkap ISIS diperlakukan seperti ‘binatang.’ Mereka disiksa, diperkosa, bahkan dijual ke sesama anggota ISIS sebagai seorang budak. 

Tidak hanya itu, Nadia yang seorang Yazidi –kelompok minoritas di Irak yang menganut agama kuno- dipaksa untuk berpindah agama. Nadia juga dipaksa menikah dengan salah seorang anggota ISIS, selain menerima banyak perlakuan buruk. 

Setiap harinya, Nadia mengalami penyiksaan. Hingga tiba suatu hari, Nadia tidak kuat menanggung penderitaan yang ada. Akhirnya, ia melarikan diri dari kelompok ISIS. Diberitakan, ia berhasil kabur karena mendapatkan bantuan dari keluarga Muslim di Mosul. 

Nadia terus berlari menjauh dari Mosul. Hingga akhirnya ia berhasil tiba di wilayah Kurdi dan bergabung dengan para pengungsi lainnya. Singkat cerita, atas bantuan sebuah organisasi Nadia berhasil menemui saudarinya di Jerman dan tinggal di sana. Sejak saat itu, Nadia mendedikasikan dirinya menjadi seorang aktivis anti-kekerasan seksual terhadap perempuan. (Red: Muchlishon)
Sumber: NU Online

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »