Jakarta — Gelombang protes besar-besaran yang melanda Iran sejak awal Januari 2026 terus memakan korban jiwa. Berdasarkan laporan kelompok aktivis hak asasi manusia yang dikutip media internasional, sedikitnya 544 orang dilaporkan tewas dalam aksi demonstrasi yang diwarnai tindakan keras aparat keamanan. Situasi tersebut memicu meningkatnya tekanan internasional, termasuk dari Amerika Serikat yang mulai mempertimbangkan respons militer.
Aksi protes terjadi di berbagai kota besar Iran, dipicu oleh akumulasi kekecewaan publik terhadap krisis ekonomi, kebijakan domestik, serta ketidakpastian program nuklir negara tersebut. Warga turun ke jalan menyuarakan tuntutan kebebasan sipil dan perbaikan kondisi hidup.
Kesaksian Kekerasan Aparat
Mengutip laporan The Guardian, sejumlah pengunjuk rasa memberikan kesaksian mengenai tindakan represif aparat keamanan. Disebutkan adanya penggunaan kekerasan berlebihan, penangkapan massal, serta tuduhan pengambilan pengakuan paksa (forced confessions) terhadap aktivis yang ditahan.
Menurut data aktivis HAM yang dilansir Euronews, korban tewas dalam gelombang protes tersebut mencakup warga sipil, demonstran, dan sebagian anggota pasukan keamanan. Jumlah korban yang terus bertambah ini memperdalam kekhawatiran komunitas internasional atas kondisi kemanusiaan di Iran.
Kronologi Eskalasi Kerusuhan
Berdasarkan laporan AP News, protes mulai meluas pada awal Januari 2026 akibat memburuknya ekonomi dan ketidakpastian kebijakan negara. Pada Rabu hingga Jumat (7–9 Januari 2026), aparat keamanan dilaporkan mulai menggunakan peluru tajam dan gas air mata secara intensif untuk membubarkan massa di berbagai wilayah.
Memasuki Sabtu (10/1/2026), laporan kematian demonstran meningkat drastis. Eskalasi tersebut menarik perhatian dunia internasional, termasuk Amerika Serikat. Pada Senin (12/1/2026), Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran, di tengah pengumuman masa berkabung nasional oleh pemerintah Teheran.
AS Pertimbangkan Respons Militer
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyebut kemungkinan tindakan militer terarah sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstran. Trump juga mengungkap adanya komunikasi dari pihak Iran yang mengisyaratkan keinginan untuk bernegosiasi.
"Saya sedang mempertimbangkan respons yang sangat keras. Namun, pada saat yang sama, saya beritahu Anda bahwa mereka menelepon. Mereka ingin bernegosiasi," ujar Trump sebagaimana dikutip NU Online dari Reuters, Senin (12/1/2025).
Pernyataan tersebut menandai meningkatnya retorika keras Washington di tengah krisis internal Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sikap Iran: Siap Dialog, Tak Mundur dari Kedaulatan
Menanggapi tekanan dan ancaman dari luar, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa negaranya tetap membuka ruang dialog, namun tidak akan mengorbankan kedaulatan nasional.
"Kami terbuka untuk dialog. Namun, dialog tersebut harus berdasarkan martabat, saling menghormati, dan yang terpenting, kepentingan nasional kita," ujar Abbas dikutip NU Online dari video Al Jazeera.
Abbas menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan perang, tetapi siap menghadapi segala kemungkinan.
"Kami bahkan jauh lebih siap daripada di masa lalu. Sekali lagi, musuh salah perhitungan dalam langkah mereka," tambahnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran mengambil posisi ganda: membuka peluang diplomasi sekaligus menegaskan kesiapan menghadapi eskalasi konflik.
Masa Berkabung dan Penindakan Internal
Di dalam negeri, pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari sebagai respons atas jatuhnya korban jiwa. Sementara itu, Kepala Lembaga Peradilan Iran Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i menyerukan tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kerusuhan.
Mengutip Al Jazeera, Mohseni-Eje'i menyatakan bahwa serangan terhadap aparat keamanan dan fasilitas publik harus segera diproses hukum. Ia menilai kerusuhan tersebut dipicu oleh intervensi pihak luar.
"Upaya harus dilakukan sebagai bentuk pembalasan atas para martir dan korban kerusuhan baru-baru ini,” kata Mohseni-Eje'i.
Kantor berita Tasnim sebelumnya melaporkan bahwa lebih dari 100 petugas keamanan turut tewas dalam rangkaian protes yang terjadi hingga Ahad (11/1/2026).
Ketidakpastian Masa Depan Iran
Di tengah meningkatnya korban jiwa, tekanan internasional, serta ancaman eskalasi militer, masa depan Iran kini berada dalam ketidakpastian. Seruan penghentian kekerasan terus disampaikan komunitas global, namun situasi di lapangan menunjukkan bahwa krisis politik dan kemanusiaan di negara tersebut masih jauh dari selesai.
Referensi
NU Online, “544 Orang Tewas dalam Gelombang Protes Iran, Amerika Pertimbangkan Opsi Militer”
https://nu.or.id/internasional/544-orang-tewas-dalam-gelombang-protes-iran-amerika-pertimbangkan-opsi-militer-qXbzm
Tanggal akses: 13 Januari 2026

0 komentar:
Post a Comment