06 January 2026

Hukum Bersuci dan Berwudu dengan Air Mineral

 


Air merupakan sarana utama dalam bersuci (ṭahārah) menurut syariat Islam. Dalam kajian fikih, para ulama membahas secara rinci klasifikasi air yang sah digunakan untuk menghilangkan hadats maupun najis. Salah satu persoalan yang sering ditanyakan di era modern adalah hukum bersuci dan berwudu menggunakan air mineral, baik air kemasan maupun air yang secara umum dikenal mengandung mineral tertentu.

Secara fikih, air mineral hukumnya sah digunakan untuk bersuci dan berwudu, karena ia termasuk kategori air mutlak (الماء المطلق). Air mutlak adalah air yang tetap berada pada sifat asal penciptaannya, tidak berubah nama dan hakikatnya, serta masih layak disebut “air” secara mutlak tanpa pembatas yang mengubah makna.

Para ulama menjelaskan bahwa air mutlak mencakup air hujan, air sungai, air laut, air sumur, dan seluruh air yang masih berada pada kondisi asal penciptaannya. Penambahan keterangan seperti “laut”, “sumur”, “sungai”, atau “mineral” tidak mengeluarkan air tersebut dari status air mutlak, karena tambahan tersebut hanya berfungsi sebagai penjelas asal atau sumber air, bukan sebagai pembatas yang mengubah hakikatnya.

Hal ini ditegaskan dalam Ḥāsyiyah al-Bājūrī ‘alā Syarḥ Ibn Qāsim, bahwa air mutlak adalah air yang ketika disebutkan secara lepas tetap kembali kepada sifat asalnya. Air yang berubah karena bercampur dengan sesuatu yang mengubah nama air secara esensial, seperti air kopi, air susu, atau air mawar, barulah keluar dari kategori air mutlak dan tidak sah digunakan untuk bersuci.

Imam al-Bājūrī menjelaskan bahwa pembatas (qayyid) pada air terbagi menjadi dua:

  1. Qayyid lāzim (pembatas yang tidak mengikat), seperti “air laut” atau “air sungai”. Pembatas ini tidak menghalangi sahnya bersuci, karena air tersebut tetap dapat disebut air secara mutlak.

  2. Qayyid ghair lāzim (pembatas yang mengikat), seperti “air mawar”. Pembatas ini menghalangi karena tanpa penyebutan pembatas tersebut, air itu tidak lagi dikenal sebagai air.

Dalam Anwār al-Burūq fī Anwā‘ al-Furūq, al-Qarāfī menegaskan bahwa selama air tetap berada pada sifat asal penciptaannya, maka penambahan keterangan tempat atau sumber tidak mempengaruhi status kemutlakannya. Oleh karena itu, air yang disebut sebagai air laut, air sumur, air sungai, maupun air mineral, semuanya tetap sah digunakan untuk bersuci, selama tidak berubah sifat, rasa, warna, atau baunya dengan perubahan yang menghilangkan hakikat air.

Dengan demikian, air mineral—baik air kemasan maupun air alami yang mengandung mineral—tetap sah digunakan untuk membersihkan najis, berwudu, dan mandi wajib, selama tidak tercampur zat lain yang mengubah hakikatnya sebagai air mutlak. Pandangan ini sejalan dengan kaidah fikih dan penjelasan para ulama mazhab Syafi‘i yang menjadi rujukan utama dalam tradisi keilmuan pesantren.


Referensi

  1. al-Bājūrī, Ibrāhīm.
    Ḥāsyiyah al-Bājūrī ‘alā Syarḥ Ibn Qāsim, Juz 1, hlm. 40.
    Dār Ibn ‘Āṣim.

  2. al-Qarāfī.
    Anwār al-Burūq fī Anwā‘ al-Furūq, Juz 2.
    Dār al-Fikr.

  1. Tim Kodifikasi Purna Siswa Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien.
    Kopiah Hitam: Kajian Fiqih ala Santri.
    Kediri: Lirboyo Press, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur,
    XXIII + 403 halaman, Cetakan IV, Desember 2019, hlm. 2.


حاشية الباجوري على شرح ابن قاسم

الجزء الأول – صـ 40 – دار ابن عاصم

(قوله: الماء المطلق) هو ما بقي على أصل خلقته عند الإطلاق، كالماء المنسوب إلى أهل القرى والبلدان، فيخرج المتغير بنجس أو بطاهر تغيّرًا يخرجه عن إطلاق اسم الماء مطلقًا، خلافًا لمن لم يعتبر ذلك.

وقوله: مطلقًا احترازًا عن المقيد، فإن قيل: ما قيد لازم؟ أو غير لازم؟

فاللازم كقولك: ماء البحر، وماء البئر، وماء النهر، فهذا لا يمنع؛ لأنه لا حاجة إلى القيد، وإنما يذكر للتوضيح عند الإطلاق.

وغير اللازم كقولك: ماء الورد، فإنه يمنع؛ لأن القيد لازم في تعريفه.

وإذا اختلف القيدان، فإن كان القيد يغيّر الاسم منع، وإلا فلا، لأن المقصود عند الإطلاق ذكر الماء الذي يبقى على أصله، فيكون مستندًا إليه.

 أنوار البروق في أنواع الفروق

الجزء الثاني – دار الفكر

اعلم أن إطلاق اسم الماء على كل ما بقي على أصل خلقته ولم يتغير تغيرًا يخرجه عن إطلاق الاسم، سواء قيل فيه: ماء بحر أو ماء بئر أو ماء نهر، فإن هذه الإضافات لا تخرجه عن كونه ماءً مطلقًا، وإنما هي لبيان محله أو مصدره.

فالماء يبقى مطلقًا ما لم يحمل القيد معنى يخرجه عن حقيقة الاسم، لأن تلك الإضافات ليست لازمة، بل المقصود بها التوضيح فقط.

Hukum Bersuci dan Berwudu dengan Air Mineral Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment