Berdasarkan surat edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), masa libur sekolah bagi peserta didik jenjang SD hingga SMA atau sederajat ditetapkan mulai 22 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Rentang waktu ini memberi ruang sekitar dua pekan bagi anak-anak untuk beristirahat dari rutinitas belajar formal.
Bagi orang tua, libur panjang ini bukan sekadar waktu jeda, melainkan momentum strategis untuk membangun kualitas pendidikan non-akademik di rumah. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi keluarga di era digital adalah mendidik anak agar bijak dalam menggunakan gadget.
Bermain sebagai Kebutuhan Psikologis Anak
Dalam perspektif pendidikan Islam klasik, bermain bukanlah aktivitas yang harus dimusuhi. Imam al-Ghazali secara tegas menyatakan bahwa anak perlu diberi kesempatan bermain setelah menjalani proses belajar, agar pikirannya kembali segar dan jiwanya tidak tertekan.
Ia mengingatkan bahwa memaksa anak terus belajar tanpa ruang bermain justru dapat mematikan semangat, merusak kecerdasan, dan membuat anak mencari pelarian dari dunia pendidikan. Dengan kata lain, bermain adalah kebutuhan psikologis, bukan pemborosan waktu, selama dilakukan secara proporsional.
Dalam konteks kekinian, bentuk bermain anak sering kali beririsan dengan gadget dan perangkat digital. Karena itu, penggunaan gawai saat liburan dapat menjadi sarana relaksasi yang wajar—selama diarahkan dengan benar.
Batasan Penting: Tidak Berlebihan dan Tetap Bermakna
Meski memberi ruang bermain, Imam al-Ghazali menegaskan satu syarat utama: permainan harus baik dan tidak berlebihan. Prinsip ini relevan untuk penggunaan gadget. Artinya, gadget boleh digunakan, tetapi tidak sampai menguras energi, waktu, dan perhatian anak secara berlebihan.
Libur sekolah seharusnya menjadi waktu untuk:
menyegarkan pikiran,
memperkuat relasi keluarga,
menanamkan nilai,
bukan menjadikan anak terjebak dalam konsumsi layar tanpa kendali.
Dua Nilai Utama dalam Bijak Menggunakan Gadget
Setidaknya ada dua nilai penting yang perlu ditanamkan orang tua kepada anak selama masa libur sekolah.
Pertama, menjadikan gadget sebagai “teman baik”.
Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya. Dalam dunia digital, “teman” tidak hanya berarti manusia, tetapi juga akun media sosial, gim, dan konten yang dikonsumsi.
Karena itu, anak perlu diarahkan untuk:
mengikuti akun yang mendidik,
memilih gim yang mengasah logika dan kreativitas,
menjauhi konten yang merusak akhlak dan pola pikir.
Pesan ini sejalan dengan peringatan Imam al-Ghazali bahwa inti pendidikan anak adalah menjaga mereka dari pergaulan yang buruk, termasuk pergaulan digital.
Kedua, tidak berlebihan dalam penggunaan gadget.
Islam mengajarkan keseimbangan dan pengendalian diri. Aktivitas yang dilakukan secara berlebihan—meski mubah—dapat berubah menjadi mudarat karena menyia-nyiakan waktu dan melemahkan tanggung jawab.
Karena itu, anak perlu dibimbing untuk mengatur durasi penggunaan gadget. Tujuan bermain adalah menyegarkan pikiran, bukan merusaknya atau menumpulkan fokus belajar dan ibadah.
Sebagai penguat, sejumlah panduan kesehatan anak merekomendasikan:
anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak terpapar gadget,
anak usia 2–5 tahun dibatasi waktu layar,
gadget tidak digunakan menjelang waktu tidur.
Keteladanan Orang Tua sebagai Kunci
Dalam mendidik anak agar bijak menggunakan gadget, keteladanan orang tua menjadi faktor paling menentukan. KH Ahmad Ghazali Lanbulan menegaskan bahwa nasihat tanpa contoh nyata tidak akan efektif. Anak lebih mudah meniru perilaku orang tua daripada mendengar larangan.
Jika orang tua ingin anaknya disiplin dalam menggunakan gadget, maka langkah pertama adalah bersikap disiplin terhadap gadget sendiri. Pendidikan paling kuat adalah pendidikan melalui contoh yang konsisten.
Penutup
Memberi waktu bermain kepada anak saat libur sekolah, termasuk melalui gadget, merupakan hal yang wajar dan bahkan dianjurkan. Namun, yang jauh lebih penting adalah menanamkan nilai kebijaksanaan, keseimbangan, dan pengendalian diri.
Dengan pendampingan yang tepat, gadget dapat menjadi sarana relaksasi dan pembelajaran. Tanpa nilai dan teladan, ia justru berpotensi merusak mental dan emosional anak. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat menentukan.
Referensi
NU Online. Mendidik Anak Bijak Menggunakan Gadget Saat Liburan.
Tersedia di: https://islam.nu.or.id/hikmah/mendidik-anak-bijak-menggunakan-gadget-saat-liburan-kQev1
Diakses pada: 24 Desember 2025.

0 komentar:
Post a Comment