Perbedaan antara individu yang berhasil membangun kekayaan jangka panjang dan mereka yang stagnan di kelas menengah sering kali tidak terletak pada besarnya pendapatan, melainkan pada konsistensi keputusan finansial. Banyak orang mengejar kenaikan penghasilan, namun mengabaikan fakta bahwa pengendalian pengeluaran sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan uang.
Individu yang mampu membangun kekayaan memahami konsep opportunity cost: setiap rupiah yang dihabiskan untuk aset yang nilainya terus menyusut berarti kehilangan peluang untuk mengembangkan dana tersebut melalui investasi produktif. Berikut lima jenis pengeluaran yang umumnya dihindari oleh mereka yang memahami strategi pembentukan kekayaan.
1. Membeli Mobil Baru Secara Berkala
Mobil baru merupakan salah satu aset dengan depresiasi tercepat. Nilainya bisa turun 20–30 persen hanya dalam tahun pertama, dan menyusut hampir setengahnya dalam tiga tahun. Karena itu, pembelian mobil baru secara rutin dianggap sebagai penggerus kekayaan.
Sebaliknya, pendekatan yang lebih rasional adalah membeli mobil bekas yang masih layak pakai dan mempertahankannya dalam jangka panjang. Selisih dana yang dihemat dari keputusan ini biasanya dialihkan ke investasi yang memberikan pertumbuhan nilai.
2. Menumpuk Utang Berbunga Tinggi
Utang konsumtif berbunga tinggi—terutama kartu kredit—menjadi penghambat utama akumulasi kekayaan. Dengan bunga yang bisa melampaui 20 persen per tahun, beban ini secara matematis mengalahkan potensi imbal hasil investasi jangka panjang.
Orang yang memiliki literasi finansial baik memperlakukan utang jenis ini sebagai kondisi darurat yang harus segera diselesaikan. Utang hanya digunakan secara selektif, misalnya untuk aset produktif seperti properti atau usaha, bukan untuk membiayai gaya hidup.
3. Lotre dan Aktivitas Judi
Lotre sering disebut sebagai “pajak bagi mereka yang tidak memahami peluang statistik.” Dengan kemungkinan menang yang sangat kecil, pengeluaran ini tidak memiliki dasar rasional dalam perencanaan keuangan.
Mereka yang fokus membangun kekayaan memilih pendekatan berbasis probabilitas dan data, seperti investasi terdiversifikasi, yang secara historis memberikan imbal hasil konsisten dalam jangka panjang. Pengeluaran kecil namun rutin untuk lotre, jika dikalkulasikan puluhan tahun, dapat berubah menjadi kerugian besar akibat hilangnya potensi bunga berbunga.
4. Barang Mewah sebagai Simbol Status
Barang bermerek mahal umumnya tidak menawarkan fungsi yang sebanding dengan selisih harganya. Pembelian yang didorong citra sosial dipandang sebagai konsumsi tidak produktif.
Banyak individu dengan kekayaan signifikan justru menjalani gaya hidup sederhana. Mereka tetap membeli barang berkualitas, tetapi menolak membayar premi harga yang hanya bertumpu pada merek. Dana yang dihemat kemudian diarahkan ke aset yang menghasilkan nilai tambah.
5. Asuransi Jiwa Seumur Hidup
Asuransi jiwa seumur hidup yang menggabungkan proteksi dan investasi kerap dinilai tidak efisien. Biaya tinggi, imbal hasil rendah, serta struktur komisi membuat produk ini kalah optimal dibandingkan strategi alternatif.
Pendekatan yang lebih umum adalah menggunakan asuransi jiwa berjangka berbiaya rendah untuk perlindungan, lalu menginvestasikan selisih premi ke instrumen investasi yang lebih transparan dan berpotensi memberikan hasil lebih baik.
Penutup
Membangun kekayaan bukan semata persoalan meningkatkan pendapatan, melainkan menghindari kebocoran finansial yang tampak sepele namun berdampak besar dalam jangka panjang. Disiplin dalam memilih apa yang tidak dibeli sering kali menjadi fondasi utama kebebasan finansial.
Referensi
Kompas.com. 5 Kebiasaan Belanja yang Dihindari Orang Kaya.
Tautan: https://money.kompas.com/read/2025/12/25/124350226/5-kebiasaan-belanja-yang-dihindari-orang-kaya?page=all
Diakses pada: 25 Desember 2025.
0 komentar:
Post a Comment