02 January 2026

Hubungan Manusia dan Alam dalam Perspektif KH Tolchah Hasan

 


Bencana alam kembali melanda berbagai wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Dampaknya tidak hanya berupa kerugian materi, tetapi juga hilangnya ribuan nyawa dan terusiknya kehidupan ratusan ribu warga. Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh dan Sumatra, misalnya, menyisakan luka mendalam: rumah hanyut, permukiman tertimbun lumpur, serta ekosistem yang rusak parah.

Selama ini, peristiwa tersebut kerap dipahami sebagai bencana alam semata. Padahal, jika ditelaah lebih mendalam, banyak bencana ekologis tidak berdiri sendiri. Aktivitas manusia yang tidak seimbang terhadap alam—atas nama pembangunan, eksploitasi sumber daya, dan pertumbuhan ekonomi—sering kali menjadi pemicu utama. Alam yang dikorbankan secara berlebihan pada akhirnya “membalas” melalui bencana yang menimpa manusia itu sendiri.

Dalam perspektif Islam, alam bukanlah objek bebas nilai yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Alam diciptakan dalam keseimbangan (mīzān) yang menuntut tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kerusakan lingkungan sejatinya mencerminkan krisis etika manusia dalam memahami posisinya di hadapan alam dan Tuhan.

Al-Qur’an secara tegas menegaskan bahwa kerusakan di bumi adalah akibat perbuatan manusia sendiri. Allah Swt. berfirman:

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
(Q.S. Ar-Rum [30]: 41)

Tiga Konsesi Manusia atas Alam

Dalam bukunya Dinamika Kehidupan Religius, Prof. K.H. Muhammad Tolchah Hasan menjelaskan bahwa Tuhan memberikan tiga konsesi utama kepada manusia dalam relasinya dengan alam semesta. Ketiga konsesi ini menjadi fondasi etika Islam dalam mengelola lingkungan.

1. Konsesi Intifā’ (Pemanfaatan Alam)

Allah Swt. menciptakan bumi beserta seluruh isinya untuk dimanfaatkan manusia. Inilah yang disebut konsesi intifā’, yakni hak manusia untuk menggunakan dan mengambil manfaat dari alam demi keberlangsungan hidupnya.

Allah Swt. berfirman:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Artinya: Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia (juga) menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu.
(Q.S. Luqman [31]: 20)

Ayat ini menunjukkan bahwa alam ditundukkan Allah bagi manusia dengan aturan tertentu. Manusia diberi akal dan ilmu agar mampu mengelola alam secara bijak, bukan merusaknya. Keteraturan kosmik—pergantian siang dan malam, peredaran benda langit—menjadi fondasi keberlangsungan hidup manusia.

2. Konsesi I‘ tibār (Perenungan dan Pengambilan Pelajaran)

Selain sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidup, alam juga berfungsi sebagai media perenungan spiritual. Inilah konsesi i‘ tibār, yakni dorongan bagi manusia untuk membaca alam sebagai ayat-ayat kauniyah yang mengantarkan pada pengenalan terhadap kebesaran Allah.

Allah Swt. berfirman:

{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ}

Artinya: Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, air hujan yang Allah turunkan dari langit lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati, dan Dia tebarkan di dalamnya berbagai jenis hewan, serta pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 164)

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghaib menegaskan bahwa fenomena-fenomena alam ini merupakan bukti rasional atas keberadaan dan kekuasaan Allah. Dengan merenungi alam, iman dan kesadaran spiritual manusia akan semakin menguat.

3. Konsesi Iḥtifāẓ (Pemeliharaan dan Pelestarian)

Pemanfaatan alam tidak berarti kebebasan tanpa batas. Konsesi ketiga adalah iḥtifāẓ, yaitu kewajiban manusia untuk menjaga dan memelihara alam. Sebagai khalifah, manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk memastikan keberlanjutan lingkungan.

Allah Swt. berfirman:

{وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا}

Artinya: Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.
(Q.S. Al-A‘raf [7]: 56)

Larangan melakukan ifsād (kerusakan) secara implisit merupakan perintah untuk menjaga dan memakmurkan bumi. Dalam kaidah ushul fikih, larangan terhadap sesuatu berarti perintah untuk melakukan kebalikannya.

Tiga Landasan Etis Pelestarian Alam

Para cendekiawan Muslim kemudian merumuskan tiga pendekatan filosofis dalam menjaga alam:

  1. Ta‘abbudiy, yakni memelihara alam sebagai bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah.

  2. Ta‘aqquliy, yaitu kesadaran rasional bahwa menjaga alam adalah demi kelangsungan hidup manusia itu sendiri.

  3. Takhalluqiy, yakni menjadikan etika lingkungan sebagai karakter dan akhlak hidup, tanpa menunggu dalil formal atau ancaman hukum.

Ketiga pendekatan ini menegaskan bahwa relasi manusia dan alam bersifat etis, spiritual, sekaligus rasional.

Penutup

Pada akhirnya, manusia dan alam sama-sama makhluk ciptaan Allah. Keduanya tidak berada dalam relasi dominasi, melainkan kemitraan dalam penghambaan kepada-Nya. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan, menjaga masa depan, dan menjaga amanah sebagai khalifah di bumi.

Wallāhu a‘lam.

Mujahid, Muhammad Zainul.
“Hubungan Manusia dan Alam Menurut KH Tolchah Hasan.”
NU Online – Islam.nu.or.id
Tautan:
https://islam.nu.or.id/syariah/hubungan-manusia-dan-alam-menurut-kh-tolchah-hasan-rM2xA
(Diakses pada: 3 Januari 2026)

Hubungan Manusia dan Alam dalam Perspektif KH Tolchah Hasan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment