18 January 2026

Inilah Penjelasan Peristiwa Isra Miraj Ditinjau dari Perspektif Fisika



Jakarta – Umat Islam memperingati Isra Miraj, peristiwa agung perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW yang terjadi dalam satu malam. Perjalanan ini diyakini sebagai momen Rasulullah SAW berjumpa para nabi serta menerima perintah salat lima waktu. Selain dimaknai secara keimanan, peristiwa Isra Miraj juga coba dijelaskan melalui pendekatan ilmu fisika.

Secara terminologis, Isra dimaknai sebagai perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Baitul Maqdis atau Masjid Al Aqsa. Adapun Miraj adalah peristiwa diangkatnya Rasulullah SAW oleh Allah SWT dari Masjid Al Aqsa menembus langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha. Pada titik inilah perintah salat lima waktu diterima sebagai kewajiban bagi umat Islam.

Dalam keyakinan umat Islam, kendaraan yang digunakan Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan tersebut adalah Buraq, yang secara bahasa berarti kilat. Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi PBNU, Ishaq Zubaedi Raqib, dalam tulisannya di detikHikmah menjelaskan bahwa Buraq merupakan makhluk Tuhan berupa cahaya, sehingga memiliki kemampuan bergerak sangat cepat, bahkan disepadankan dengan kecepatan cahaya.

Dalam catatan budaya Islam, Buraq sering digambarkan sebagai kuda berkepala manusia. Gambaran tersebut banyak ditemukan dalam manuskrip dan lukisan dari Persia serta Asia Tengah sejak abad ke-15, sebagaimana dilansir dari Asia Research News pada Jumat (16/1/2026).

Upaya penjelasan ilmiah mengenai Buraq dan Isra Miraj dilakukan oleh Hismatul Istiqomah dari Universitas Negeri Malang dan Muhammad Ihsan Sholeh dari Universitas Negeri Jember. Penelitian mereka dipublikasikan dalam Academic Journal of Islamic Studies (AJIS) Institut Agama Islam Negeri Curup, Volume 5 Nomor 1 Tahun 2020, dengan judul The Concept of Buraq in the Events of Isra Mi'raj: Literature and Physics Perspective.

Dalam kajian tersebut, Buraq dijelaskan dari sudut pandang fisika sebagai cahaya berkecepatan sangat tinggi. Pendekatan yang digunakan mengacu pada Fisika Kuantum, khususnya teori anihilasi, yaitu reaksi antara materi dan antimateri yang menghasilkan energi sangat besar.

Menurut penelitian itu, tubuh Nabi Muhammad SAW sebagai materi dianalogikan mengalami interaksi dengan antimateri yang diasosiasikan dengan Malaikat Jibril. Interaksi tersebut membentuk energi baru yang disebut sebagai Buraq. Dalam konteks fisika modern, energi ini disepadankan dengan sinar gamma yang memiliki daya dan kecepatan luar biasa.

Peneliti juga mengaitkan fenomena ini dengan konsep kesetaraan massa dan energi yang dirumuskan oleh Albert Einstein, bahwa materi dapat berubah menjadi energi dan sebaliknya. Dengan pendekatan ini, peristiwa Isra dipahami sebagai transformasi materi menjadi energi cahaya.

Setiap benda di alam semesta tersusun atas partikel submikroskopis berupa atom yang terdiri dari proton, neutron, dan elektron, serta memiliki pasangan antimateri. Perspektif tersebut menegaskan bahwa Buraq bukanlah entitas terpisah yang mengantarkan Nabi Muhammad SAW, melainkan bagian dari proses transformasi dirinya sendiri.

Lebih lanjut, teori anihilasi juga memungkinkan terjadinya proses kebalikan yang disebut materialisasi. Energi yang sangat besar dapat kembali membentuk materi. Berdasarkan konsep ini, setelah peristiwa Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW mengalami proses materialisasi kembali sehingga dapat hadir secara fisik, berinteraksi, dan menjalani kehidupan bersama umatnya seperti sediakala.

Pendekatan fisika ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan makna spiritual Isra Miraj, melainkan sebagai upaya ilmiah untuk memahami peristiwa luar biasa tersebut dari sudut pandang ilmu pengetahuan modern.


Referensi

DetikInet.
“Inilah Penjelasan Peristiwa Isra Miraj Secara Fisika.”
Detik.com.

Tanggal akses: 18 Januari 2026

Inilah Penjelasan Peristiwa Isra Miraj Ditinjau dari Perspektif Fisika Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment