03 January 2026

JATMAN Bedah Akar Klaim Spiritualitas Palsu dalam Praktik Tarekat



Jakarta — Idarah Aliyah Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) menggelar Diskusi Tasawuf dan Tarekat Bulanan di Plaza PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Jumat (2/1/2026) malam. Diskusi yang memasuki pertemuan kelima ini mengangkat tema Merespons Fenomena Kontroversi Kelompok Spiritualitas Palsu, Bagaimana Penanganannya?

Agenda tersebut menghadirkan Koordinator Lajnah Mubahatsah Masa’ilis Shufiyyah Idarah Aliyah JATMAN, KH Rohimuddin Al-Bantani, sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, ia mengulas sejumlah faktor mendasar yang menjadi penyebab munculnya klaim palsu dalam praktik tasawuf dan tarekat.

Menurut KH Rohimuddin, salah satu akar utama klaim spiritualitas palsu adalah tingginya keinginan seseorang tanpa disertai kesungguhan dalam menempuh laku spiritual secara benar. Ketika keinginan tidak tercapai, sebagian orang justru memilih jalan pintas dengan mengaku-ngaku memiliki maqam atau pengalaman spiritual tertentu.

"Biasanya orang mengaku-ngaku itu karena malas. Keinginan nggak tercapai maka alternatifnya ya mengaku-ngaku," kata Kiai Rohimuddin sembari memegang makalah berisi pembahasan tema diskusi.

Ia juga menyoroti kecintaan terhadap kemewahan dan dorongan popularitas sebagai faktor lain yang mendorong munculnya klaim palsu. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tasawuf dan tarekat tidak bertujuan menafikan dunia, melainkan menempatkan aspek duniawi secara proporsional dan seimbang.

Akar berikutnya adalah kecenderungan menampilkan diri secara sosial dengan simbol-simbol kewalian. Menurutnya, simbol tersebut kerap dimanfaatkan untuk menarik pengikut sebanyak-banyaknya atau demi kepentingan pribadi, bukan untuk mengajak manusia beribadah dan mengabdi kepada Allah Swt.

"Lemahnya pengetahuan syariat juga menjadi akar dari klaim palsu ini. Dia mengira itu waridat (anugerah Allah) padahal tahayyulat (khayalan)," jelas Mursyid Thariqah Al-Qadiriyah itu.

Selain itu, KH Rohimuddin menekankan pentingnya pemahaman yang utuh tentang hakikat tasawuf. Mereka yang gemar mengaku-ngaku, menurutnya, sering kali tidak memahami istilah, konsep, dan batasan tasawuf secara benar.

Ia juga menegaskan peran vital sanad dalam dunia tarekat, khususnya sanad asrar (kerahasiaan spiritual).

"Berikutnya yakni terputusnya sanad. Sanad yang paling penting dalam tasawuf itu asrar (terahasia). Ketika (sanad) itu terputus maka akan timbul mengaku-ngaku. Ini mesti ditegaskan betul-betul kepada para salikin," tandasnya.

Pandangan senada disampaikan Sekretaris Umum Idarah Aliyah JATMAN, KH Ali M Abdillah. Ia menilai bahwa fenomena klaim palsu dalam tasawuf bukan hal baru, melainkan sudah terjadi sejak masa lampau dan terus berulang hingga hari ini.

"Fakta di lapangan berbagai bentuk pengakuan-pengakuan tadi dengan beragam modelnya ini, justru menyebabkan citra tasawuf dan tarekat semakin runtuh. Sebab tindakan mereka tidak sesuai dengan ilmu-ilmu dalam tasawuf dan prinsip-prisip tarekat," katanya.

Diskusi ini menjadi bagian dari upaya JATMAN untuk memperkuat literasi tasawuf yang autentik, sekaligus meluruskan pemahaman masyarakat agar tidak terjebak pada praktik spiritualitas yang menyimpang dari ajaran syariat dan prinsip tarekat mu’tabarah.


Referensi

NU Online. JATMAN Bedah Akar Klaim Spiritualitas Palsu dalam Tarekat.
Diakses dari: https://nu.or.id/nasional/jatman-bedah-akar-klaim-spiritualitas-palsu-dalam-tarekat-mSwki

JATMAN Bedah Akar Klaim Spiritualitas Palsu dalam Praktik Tarekat Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment