Segala puji bagi Allah, Yang tidak dapat dicapai oleh pandangan mata, namun meliputi segala pandangan. Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui, bersemayam dalam keagungan dan kesempurnaan, Mahatinggi dalam keesaan-Nya, Mahasuci dari segala rupa dan batasan, serta Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada pembawa kabar gembira sekaligus pemberi peringatan, junjungan Nabi Muhammad bin Abdullah, yang diutus Allah dengan petunjuk dan agama yang benar untuk menampakkannya di atas seluruh agama. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan meninggalkan umatnya di atas jalan yang lurus dan terang—yang malamnya bagaikan siangnya. Shalawat dan salam pula tercurah kepada keluarga dan para sahabatnya, yang menjadi pelita di tengah kegelapan dan bintang-bintang penunjuk arah di cakrawala kehidupan.
Tulisan ini mengajak pembaca memasuki sebuah dunia yang lahir dari wahyu langit, dunia yang membimbing individu dan masyarakat menuju metode ilahi dan prinsip-prinsip ketuhanan. Di tengah zaman yang kian dihiasi oleh gemerlap materi dan peradaban yang berdiri di atas fondasi indrawi, masih terdapat—alhamdulillah—kelompok manusia yang memelihara fitrah lurusnya. Mereka mencintai kebaikan, berjuang menempuh jalan yang lapang menuju kemanusiaan sejati, dan membangun kehidupan yang bertumpu pada kejernihan ruh, kesucian hati, kemurnian niat, serta keikhlasan kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
Dunia Ruhani dan Jejak Para Sufi
Dunia ideal ini berakar pada wahyu dan dijelmakan dalam kehidupan oleh para sufi yang telah menapaki jalan tersebut. Mereka menjadi pelita bagi generasi setelahnya—bukan hanya melalui ucapan, tetapi melalui kehidupan yang dijalani. Jalan mereka sederhana namun agung; mudah diucapkan tetapi berat diamalkan. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pewaris para nabi dalam ilmu, perilaku, dan maqām-maqām spiritual.
Di antara figur agung tersebut berdirilah seorang kutub besar, pengenal Allah, teladan dalam pencarian kebenaran, mahkota para arif, juru bicara kaum sufi lintas generasi: Tajuddin Abu al-Fadl Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin ‘Aṭā’illah as-Sakandari. Melalui dirinya, Allah memberikan manfaat luas bagi kaum Muslimin—dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
Ibn ‘Aṭā’illah tumbuh dan menempuh pendidikan awal di Iskandariyah (Alexandria). Ia bermazhab Maliki, dan dikenal menguasai pula mazhab Syafi‘i. Sejarah hidupnya terjalin erat dengan dinamika intelektual dan perkembangan tasawuf di Mesir pada abad keenam dan ketujuh Hijriah. Ia lahir pada tahun 658 H (1260 M) dan wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun 709 H (1309 M). Keistimewaannya terletak pada kemampuannya memadukan ilmu lahir dan ilmu batin tanpa menegasikan salah satunya.
Dari Penolakan Menuju Penyaksian
Menariknya, Ibn ‘Aṭā’illah pada awal perjalanannya justru mengingkari jalan kaum sufi. Namun, ketika takdir mempertemukannya dengan seorang kutub rabbani, Abu al-‘Abbas al-Mursi, pandangannya berubah secara mendalam. Ia mempercayai jalan mereka, mengakui ilmu mereka, dan akhirnya menjadi murid kesayangan sang guru.
Dalam Laṭā’if al-Minan, Ibn ‘Aṭā’illah mengisahkan pergulatan batinnya sendiri—tentang penolakan, perdebatan, hingga momen keterpesonaan yang meluluhkan hatinya. Ia mendengar penjelasan Abu al-‘Abbas tentang tiga lapis agama: Islam, iman, dan ihsan; atau syariat, hakikat, dan tahqiq. Dari sana, tabir keraguan tersingkap, dan ia menyadari bahwa ilmu sejati bersumber dari limpahan ilahi dan bimbingan rabbani.
Pertemuan itu menjadi titik balik. Ia pulang ke rumah dengan perasaan yang tak dapat diungkapkan, memandang langit dan ciptaan Allah dengan kesadaran baru, hingga kembali mendatangi sang guru. Ketika ia berkata, “Demi Allah, aku mencintaimu,” sang guru menjawab, “Semoga Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintaiku.”
Jalan Suluk dan Struktur Hakikat
Dari bimbingan itulah, Ibn ‘Aṭā’illah memahami bahwa setiap keadaan manusia memiliki tuntutan hakikatnya sendiri: syukur dalam nikmat, sabar dalam cobaan, istighfar dalam kemaksiatan, dan penyaksian anugerah dalam ketaatan. Jalan sufi bukan pelarian dari dunia, melainkan perjalanan kesadaran yang bertahap dan terstruktur—yang oleh para arif disebut darajāt al-sulūk.
Tiga maqām utama ditegaskan:
-
Islam: ketaatan lahir dan pelaksanaan syariat
-
Iman: pengenalan hakikat dan kesadaran akan kewajiban kepada Rabb
-
Ihsan: penyaksian Allah dengan hati
Kesadaran inilah yang membentuk kehidupan, pemikiran, dan karya-karya Ibn ‘Aṭā’illah.
Al-Ḥikam dan Keindahan Ungkapan
Setelah wafatnya Abu al-‘Abbas al-Mursi, kepemimpinan tarekat Syadziliyah berpindah kepadanya. Ia mengajar di Al-Azhar, menafsirkan Al-Qur’an dengan pendekatan sufistik, dan membimbing murid-muridnya dengan kelembutan bahasa dan kedalaman makna.
Gaya Ibn ‘Aṭā’illah dikenal jernih, lembut, dan penuh daya tarik. Hal ini tampak jelas dalam karya terkenalnya al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah, di mana ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengguncang kesadaran, seperti:
“Bagaimana mungkin sesuatu menghijab-Nya, padahal Dia yang menampakkan segala sesuatu?”
“Bagaimana mungkin sesuatu menghijab-Nya, padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada segala sesuatu?”
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan retorika kosong, melainkan undangan untuk menanggalkan tabir ego dan keterikatan.
Warisan dan Pilar al-Ḥikam
Ibn ‘Aṭā’illah wafat di Kairo dan dimakamkan di Qarafah Kecil. Ia meninggalkan karya-karya penting, di antaranya:
-
At-Tanwīr fī Isqāṭ at-Tadbīr
-
Miftāḥ al-Falāḥ wa Miṣbāḥ al-Arwāḥ
-
Tāj al-‘Arūs al-Ḥāwī li Tahdhīb an-Nufūs
-
Al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah
Kitab al-Ḥikam berdiri di atas empat pilar utama:
-
Ilmu pengingat dan nasihat
-
Pemurnian amal dan perbaikan keadaan
-
Penguatan keadaan dan maqām spiritual
-
Pengetahuan dan ilmu-ilmu ketuhanan
Melalui syarah mendalam yang ditulis oleh Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajībah al-Ḥasani, mutiara-mutiara hikmah ini disingkap lapis demi lapis, hingga tampak kilau ruhaniahnya.
Penutup: Hikmah yang Terus Menyala
Iqāẓ al-Himam fī Syarḥ al-Ḥikam bukan sekadar penjelasan teks, melainkan undangan untuk menyelam ke samudra makrifat. Ia adalah persembahan tasawuf kepada generasi yang merindukan kejernihan hati, keseimbangan hidup, dan pengenalan yang bermakna kepada Allah.
Di tengah zaman yang riuh, karya ini mengingatkan bahwa jalan menuju Allah selalu terbuka—bagi siapa pun yang membersihkan niat, merendahkan hati, dan bersedia berjalan.

0 komentar:
Post a Comment