05 January 2026

Napak Tilas Isyarah Pendirian NU: Menelusuri Jejak Restu Spiritual dari Bangkalan ke Tebuireng



BANGKALAN,  – Sejarah lahirnya Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) kembali dihidupkan melalui kegiatan Napak Tilas Isyarah Pendirian organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Rangkaian acara yang mempertemukan para kiai, masyaikh, dan warga Nahdliyin ini berawal dari Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil di Demangan Barat, Bangkalan, Jawa Timur, pada Ahad (4/1/2026).

Ketua Umum Ponpes Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan, RKH Muhammad Nasih Aschal, menekankan bahwa pemilihan Bangkalan sebagai titik awal bukan tanpa alasan. Lokasi ini memiliki ikatan historis yang sangat kuat dengan kelahiran NU.

“Syaikhona Muhammad Kholil adalah pemberi restu atas lahirnya jam’iyah ini melalui perintah yang beliau sampaikan kepada santrinya, Kiai As’ad Syamsul Arifin, untuk berjalan dari Bangkalan menuju Pondok Pesantren Tebuireng. Hari ini, kita ingin mengulang kembali sejarah itu,” ujar Kiai Nasih dalam sambutannya.

Lebih dari sekadar mengenang romantisme masa lalu, Kiai Nasih menegaskan bahwa napak tilas ini merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali nilai-nilai spiritual dan semangat perjuangan yang melandasi berdirinya NU.

“Hari ini kita ingin menceritakan kembali bahwa pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama tidak hanya lahir dari cerita tongkat dan tasbih, tetapi juga mengandung berbagai makna dan hikmah yang sangat dalam,” ungkap cicit Syaikhona Muhammad Kholil tersebut.

Dalam paparannya, Kiai Nasih juga meluruskan pemaknaan tongkat dan tasbih yang kerap diisyaratkan dalam pendirian NU. Menurutnya, kedua benda tersebut bukanlah sekadar simbol fisik, melainkan panduan spiritual yang lahir dari proses istikharah mendalam sang ulama.

“Istikharah ini adalah proses penyampaian pesan penting tentang kewajiban menjaga umat. Isyarah tersebut juga menjadi pesan kuat bagi seluruh Nahdliyin bahwa NU, dalam kondisi apa pun, akan senantiasa mendapatkan aliran doa dari para masyaikh dan wali Allah,” jelasnya.

Ia menambahkan, esensi dari bisyarah atau kabar gembira yang dijanjikan bukanlah kesuksesan materi, melainkan jaminan keselamatan hidup di dunia dan akhirat bagi para pengikut jalan para pendiri NU.

“Ketika kita mengikuti Syaikhona Muhammad Kholil, Kiai Hasyim Asy’ari, dan para muassis NU, insyaallah hidup kita akan menjadi sa‘īdun fid-dunyā wa sa‘īdun fil ākhirah,” tuturnya.

Acara pembukaan ditandai dengan prosesi simbolis penyerahan replika tongkat dan tasbih dari Pengasuh Ponpes Syaichona Muhammad Cholil Bangkalan, RKH Fakhruddin Aschal, kepada perwakilan Ponpes Tebuireng, Jombang, melalui perantara Ponpes Sukorejo, Situbondo. Rangkaian napak tilas ini kemudian dilepas secara resmi oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dengan doa dan harapan keberkahan.

“Bijahi Sayidina Rasulillah Muhammadin shallallahu ‘alaihi wasallam. Berkati Sayidina Syekh Kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif al-Bangkalan. Berkati jami‘ muassisi Jam‘iyati Nahdlatil Ulama,” ucap Gus Yahya menutup doa pelepasan.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkokoh perahu besar NU di masa depan, dengan kepemimpinan yang tetap berpegang teguh pada khidmah dan tuntunan ulama untuk kemaslahatan umat.

Referensi:
NU Online. (2026, 4 Januari). Napak Tilas Isyarah Pendirian NU, Menyusuri Jejak Spiritual dari Bangkalan ke Tebuireng. Diakses pada 5 Januari 2026, dari https://nu.or.id/nasional/napak-tilas-isyarah-pendirian-nu-menyusuri-jejak-spiritual-dari-bangkalan-ke-tebuireng-cMbFQ

Napak Tilas Isyarah Pendirian NU: Menelusuri Jejak Restu Spiritual dari Bangkalan ke Tebuireng Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment