Di antara karya-karya besar dalam khazanah tasawuf Islam, al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah menempati posisi yang istimewa. Ia bukan sekadar kumpulan aforisme spiritual, melainkan cermin batin yang mengajak pembacanya menengok kembali relasi terdalam antara hamba dan Tuhannya. Kalimat-kalimatnya singkat, namun padat makna; tenang dalam susunan, tetapi mengguncang kesadaran.
Kitab Iqāẓ al-Himam fī Syarḥ al-Ḥikam hadir sebagai upaya membangunkan kesadaran itu. Disusun oleh Ahmad bin ‘Ajībah al-Ḥasani, seorang ulama sufi besar dari Maroko, karya ini merupakan syarah mendalam atas al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah karya Ibn ‘Aṭā’illah al-Sakandari. Selama berabad-abad, Iqāẓ al-Himam menjadi salah satu rujukan penting dalam tradisi tasawuf Islam, khususnya dalam lingkaran Syadziliyah, karena keberhasilannya menjembatani hikmah singkat dengan penjelasan ruhani yang luas dan aplikatif.
Hikmah yang Tidak Pernah Usang
Al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah bukanlah kitab tasawuf yang mengajarkan teknik atau ritual semata. Ia adalah panduan kesadaran—tentang bagaimana manusia memandang amalnya, mengenali dirinya, dan memahami kehadiran Allah dalam perjalanan hidup. Hikmah-hikmah Ibn ‘Aṭā’illah tidak menawarkan kepastian instan, melainkan mengajak pembaca berdialog dengan batinnya sendiri.
Dalam Iqāẓ al-Himam, Ibn ‘Ajībah memperluas dialog tersebut. Ia tidak hanya menjelaskan maksud lafaz dan struktur hikmah, tetapi juga mengaitkannya dengan maqāmāt dan aḥwāl para salik, pengalaman para arif, serta ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi. Dengan demikian, teks ini tidak berhenti pada perenungan intelektual, tetapi mengarahkan pembaca pada proses suluk yang hidup dan nyata.
Ibn ‘Aṭā’illah: Dari Kritik ke Kedalaman
Ibn ‘Aṭā’illah al-Sakandari hidup pada masa Dinasti Mamluk di Mesir (658–709 H / 1260–1309 M), sebuah periode yang sarat dinamika intelektual dan spiritual. Dalam catatan sejarah, ia dikenal sebagai sosok yang berhasil memadukan syariat dan hakikat tanpa menegasikan salah satunya. Menariknya, sejumlah sumber—termasuk Lisān al-Mīzān karya Ibn Hajar al-‘Asqalani—mencatat bahwa Ibn ‘Aṭā’illah pada awalnya bersikap kritis terhadap praktik tasawuf.
Transformasi spiritualnya terjadi setelah bertemu dan berguru kepada Abu al-‘Abbas al-Mursi, murid utama Abu al-Hasan asy-Syadzili. Kisah ini, yang juga diabadikan dalam Laṭā’if al-Minan, mengingatkan bahwa pencarian kebenaran sering kali bermula dari kegelisahan yang jujur. Tasawuf, dalam kerangka ini, bukan pelarian dari akal, melainkan pendalaman makna setelah akal mencapai batasnya.
Ibn ‘Ajībah dan Kebangkitan Makna Praktis
Berabad-abad kemudian, Ibn ‘Ajībah (w. 1224 H / 1809 M) menghadirkan Iqāẓ al-Himam sebagai kelanjutan dialog spiritual tersebut. Sebagai seorang sufi Syadziliyah-Darqawiyah, ia menegaskan bahwa tujuan penulisan syarah ini adalah membangkitkan semangat para pencari jalan menuju Allah.
Pendekatan Ibn ‘Ajībah tidak berhenti pada penjelasan teoritis. Ia menghadirkan dimensi praksis tasawuf—tentang bagaimana hikmah bekerja dalam kehidupan nyata, bagaimana seorang salik menapaki maqām demi maqām, serta bagaimana menjaga keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Inilah yang menjadikan Iqāẓ al-Himam tetap relevan lintas zaman, termasuk bagi pembaca modern yang hidup di tengah kompleksitas dunia kontemporer.
Bahasa Tasawuf dan Tantangan Pemaknaan
Bahasa yang digunakan dalam Iqāẓ al-Himam adalah bahasa Arab klasik yang kaya metafora dan sarat istilah teknis tasawuf. Istilah seperti fanā’, baqā’, maqām, dan ḥāl tidak sekadar menunjuk konsep, tetapi pengalaman batin yang mendalam. Dalam tradisi tasawuf, istilah-istilah ini tidak dapat dipahami secara tunggal atau dangkal.
William Chittick, dalam The Sufi Path of Knowledge, menegaskan bahwa istilah-istilah inti tasawuf adalah bagian dari bangunan metafisika yang hanya dapat dipahami secara utuh melalui konteks spiritualnya. Karena itu, memahami Iqāẓ al-Himam menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan kesiapan untuk merenung—bukan sekadar membaca cepat.
Struktur Hikmah dan Jalan Kesadaran
Al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah terdiri dari 264 hikmah singkat yang masing-masing merupakan kristalisasi pengalaman spiritual Ibn ‘Aṭā’illah. Dalam Iqāẓ al-Himam, hikmah-hikmah ini dijelaskan melalui empat pilar utama: pengingat dan nasihat, penyucian amal dan perbaikan keadaan, pengenalan maqām dan aḥwāl, serta peneguhan tauhid.
Struktur ini menunjukkan bahwa tasawuf bukanlah jalan yang kabur atau tanpa arah. Ia memiliki kerangka, tahapan, dan tujuan yang jelas: mendekatkan diri kepada Allah dengan hati yang bersih dan kesadaran yang jernih.
Tasawuf dan Syariat: Jalan yang Tak Terpisah
Dalam tradisi Syadziliyah, tasawuf tidak pernah dipisahkan dari syariat. Abu al-Hasan asy-Syadzili menegaskan pentingnya hidup di tengah masyarakat tanpa melepaskan kedalaman spiritual. Prinsip ini diwarisi oleh Ibn ‘Aṭā’illah dan tercermin kuat dalam hikmah-hikmahnya.
Salah satu ungkapan yang sering dikutip berbunyi:
“Bagaimana hati dapat bersinar sementara gambaran dunia tercetak pada cerminannya?”
Ungkapan ini bukan ajakan menjauhi dunia, melainkan seruan untuk membebaskan hati dari keterikatan yang membelenggu. Dunia tetap dijalani, tetapi tidak dijadikan tujuan akhir.
Relevansi di Zaman Modern
Di tengah kehidupan modern yang didominasi materialisme, kecepatan, dan kebisingan informasi, Iqāẓ al-Himam menawarkan jeda. Hikmah-hikmahnya mengajak manusia kembali ke pusat dirinya, mengisi hati dengan kehadiran Allah, dan menata ulang orientasi hidup.
Tasawuf, dalam konteks ini, bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan batin yang mendesak. Sebagaimana ditegaskan Sachiko Murata dan William Chittick dalam The Vision of Islam, tasawuf adalah “nafas dari Islam”—dimensi batin yang memberi ruh pada amal lahiriah.
Penutup: Jalan Pulang yang Terbuka
Iqāẓ al-Himam bukanlah teks yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari tradisi panjang tasawuf Islam yang berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta diwariskan melalui rantai ulama dan arif billah lintas generasi. Karya ini mengingatkan bahwa tujuan ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan kedekatan dengan Allah.
Di tengah gemuruh budaya konsumtif, teks ini mengajak kembali pada esensi hidup: mengenal Allah, menyucikan hati, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih hakiki. Sebagaimana ungkapan Jalaluddin Rumi, “Di luar benar dan salah, ada sebuah ladang; aku akan menemuimu di sana.” Ladang itu adalah ruang kesadaran—dan Iqāẓ al-Himam menawarkan jalan untuk memasukinya.

0 komentar:
Post a Comment