13 February 2026

Apa Itu Tasawuf? Definisi Para Imam dan Makna Perbedaannya

 


Tasawuf bukanlah istilah yang mudah didefinisikan dengan satu kalimat. Ia adalah pengalaman hidup, jalan kesadaran, dan laku batin yang terjelma dalam beragam ungkapan. Karena itu, para imam sufi memberikan definisi yang beragam—bukan karena perbedaan tujuan, melainkan karena keluasan makna dan kedalaman hakikat yang ingin mereka sampaikan.

Di antara definisi yang paling masyhur adalah pernyataan Imam Junayd al-Baghdadi. Ia berkata, “Tasawuf adalah bahwa Hakikat mematikanmu dari dirimu dan menghidupkanmu dengan-Nya.” Ungkapan ini menegaskan bahwa inti tasawuf bukanlah penambahan sesuatu pada diri manusia, melainkan penghapusan ego dan pengalihan pusat kesadaran dari diri kepada Allah. Hidup sejati, menurut Junayd, dimulai ketika manusia tidak lagi berdiri dengan dirinya sendiri, tetapi berdiri karena Allah.

Definisi lain menyebutkan bahwa tasawuf adalah berada bersama Allah tanpa keterikatan. Ini menunjukkan pelepasan hati dari segala selain-Nya—bukan dalam arti meninggalkan dunia secara lahiriah, tetapi membebaskan batin dari ketergantungan. Hati menjadi lapang karena tidak lagi terbelenggu oleh sebab-sebab, pujian, atau celaan.

Sebagian imam mendefinisikan tasawuf sebagai memasuki setiap akhlak yang luhur dan keluar dari setiap akhlak yang rendah. Dalam pengertian ini, tasawuf adalah pendidikan akhlak yang menyeluruh. Ia tidak berhenti pada pengetahuan tentang baik dan buruk, tetapi menuntut perubahan karakter secara nyata. Akhlak mulia bukan sekadar cita-cita, melainkan buah dari penyucian jiwa yang berkesinambungan.

Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf adalah akhlak-akhlak mulia yang muncul pada zaman mulia bersama kaum yang mulia. Definisi ini mengaitkan tasawuf dengan kesinambungan tradisi kenabian. Akhlak tasawuf tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari warisan spiritual yang dijaga oleh generasi demi generasi, sejak para nabi hingga para wali.

Sebagian ungkapan menyatakan bahwa tasawuf adalah engkau tidak memiliki sesuatu dan tidak dimiliki oleh sesuatu. Ini adalah penegasan kebebasan batin. Kepemilikan lahiriah tidak dinafikan, tetapi keterikatan batin diputus. Seorang salik boleh memiliki, namun tidak dikuasai; boleh menggunakan, namun tidak diperbudak.

Tasawuf juga didefinisikan sebagai pelepasan nafsu bersama Allah sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Definisi ini menunjukkan bahwa tasawuf bukanlah penindasan diri, melainkan penyerahan kehendak. Nafsu tidak dimatikan secara paksa, tetapi diarahkan hingga selaras dengan kehendak Ilahi.

Sebagian ulama menyusun tasawuf di atas tiga sifat: keterikatan dengan kefakiran dan kebutuhan kepada Allah, verifikasi anugerah dan pengutamaan manusia, serta pelepasan dari pengaturan dan pilihan diri. Tiga sifat ini menggambarkan keseimbangan antara kesadaran akan ketergantungan kepada Allah, kepedulian kepada sesama, dan kebebasan dari ego.

Ada pula definisi yang menyatakan bahwa tasawuf adalah pengambilan hakikat-hakikat dan keputusasaan dari apa yang ada di tangan makhluk. Ini adalah seruan untuk menggantungkan harapan hanya kepada Allah, dan memutus ketergantungan batin dari makhluk, meskipun hubungan lahiriah tetap berjalan.

Sebagian imam menyebut tasawuf sebagai dzikir dengan kebersamaan, ekstase dengan pendengaran, dan amal dengan kepatuhan. Definisi ini menegaskan bahwa tasawuf mencakup dimensi zikir, rasa, dan amal—tiga unsur yang saling menguatkan dan tidak dapat dipisahkan.

Definisi lain menyatakan bahwa tasawuf adalah kesetiaan di pintu Sang Kekasih meskipun terusir. Ungkapan ini melukiskan keteguhan cinta dan kesabaran dalam ujian. Seorang salik tidak meninggalkan jalan hanya karena sulit, sebab yang dicari bukan kemudahan, melainkan keridhaan.

Tasawuf juga disebut sebagai kejernihan kedekatan setelah kekeruhan jarak, dan sebagai duduk bersama Allah tanpa keluh kesah. Kedua ungkapan ini menekankan ketenangan batin dan penerimaan, buah dari pengenalan yang mendalam kepada Allah.

Sebagian definisi menyebut tasawuf sebagai perlindungan dari melihat alam semesta. Maksudnya bukan meniadakan realitas ciptaan, tetapi memandangnya sebagai tanda, bukan tujuan. Alam tidak lagi menghalangi, melainkan menunjuk.

Para imam juga membedakan antara sufi yang jujur dan sufi yang dusta. Tanda seorang sufi yang jujur adalah bahwa ia menjadi fakir setelah kaya, hina setelah mulia, dan tersembunyi setelah dikenal. Sedangkan tanda sufi yang dusta adalah sebaliknya. Ukuran kejujuran dalam tasawuf terletak pada pelepasan, bukan pencapaian.

Hasan al-Bashri berkata bahwa sufi adalah satu dalam zat: tidak menerima siapa pun dan tidak ditolak oleh siapa pun. Ia laksana bumi: menerima segala yang dilemparkan kepadanya, namun yang keluar darinya hanyalah kebaikan. Pernyataan ini menegaskan kelapangan jiwa dan kematangan akhlak.

Syibli menyatakan bahwa sufi adalah yang terputus dari makhluk dan tersambung dengan Hakikat, sebagaimana firman Allah, “Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.” Ia juga berkata bahwa sufi adalah yang tidak ditopang oleh bumi dan tidak dinaungi oleh langit, maksudnya tidak dibatasi oleh alam semesta, karena orientasinya telah melampaui batas-batas tersebut.

Syaikh Zarruq—semoga Allah meridhainya—menyebut bahwa tasawuf telah didefinisikan dengan hampir seribu cara. Semua definisi itu, menurutnya, kembali kepada satu makna: kejujuran dalam menghadap Allah Yang Maha Tinggi. Perbedaan ungkapan hanya menunjukkan keluasan pemahaman dan keragaman pengalaman.

Ia menegaskan bahwa perbedaan dalam hakikat adalah satu, meskipun ungkapannya banyak. Jika hakikat kembali kepada asalnya, maka setiap ungkapan tentangnya bergantung pada apa yang dipahami dan dialami oleh pengungkapnya. Karena itu, tasawuf mencakup detail-detail halus, pertimbangan setiap orang sesuai teladannya dalam ilmu, amal, keadaan, dan rasa.

Al-Hafizh Abu Nu‘aim—semoga Allah merahmatinya—menunjukkan kebenaran mayoritas tokoh dalam Hilyah-nya dengan mengaitkan setiap individu kepada perkataan yang sesuai dengan keadaannya. Ia menegaskan bahwa tasawuf adalah kejujuran, dan setiap orang memiliki bagian kejujurannya masing-masing dalam menghadap Allah. Maka, tasawuf setiap orang adalah kejujuran dirinya sendiri di hadapan-Nya.

Syaikh Zarruq juga menegaskan bahwa prinsip kejujuran kepada Allah disyaratkan dengan keadaan yang diridhai-Nya. Tidak sah sesuatu tanpa syaratnya. Allah tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya; maka iman wajib diwujudkan. Dan Allah memerintahkan untuk bersyukur; maka bersyukur menjadi kewajiban.

Karena itu, tidak ada tasawuf tanpa fikih, sebagaimana tidak ada fikih tanpa tasawuf. Amal tidak sah tanpa kejujuran, dan kejujuran tidak sempurna tanpa amal. Keduanya saling terkait sebagaimana ruh dengan jasad—tidak ada keberadaan bagi ruh tanpa jasad, dan tidak ada kesempurnaan bagi jasad tanpa ruh.

Dari sini lahir ungkapan Imam Malik—semoga Allah merahmatinya—yang masyhur: “Barang siapa bertasawuf tanpa fikih, ia telah menjadi zindik. Barang siapa berfikih tanpa tasawuf, ia telah menjadi fasik. Barang siapa menggabungkan keduanya, ia telah mewujudkan hakikat.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa hakikat bukanlah sesuatu di luar syariat, melainkan kedalaman yang lahir dari keterikatan yang utuh dengannya. Hakikat tidak berdiri sendiri, tetapi berdiri di dalam ketaatan yang jujur dan kesadaran yang hidup.

Apa Itu Tasawuf? Definisi Para Imam dan Makna Perbedaannya Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment