Jakarta — Menjelang penutupan tahun 2025, perekonomian Indonesia menunjukkan daya tahan yang relatif kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Sejumlah indikator utama memperlihatkan bahwa proses pemulihan ekonomi berjalan bertahap, meskipun masih dihadapkan pada tantangan struktural, terutama terkait daya beli, kualitas lapangan kerja, dan ketimpangan wilayah.
Berdasarkan rangkuman indikator makroekonomi, terdapat lima sinyal utama yang menggambarkan kondisi ekonomi nasional menjelang akhir tahun.
1. Pertumbuhan Ekonomi Bertahan di Kisaran 5%
Sepanjang 2025, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami fluktuasi. Pada awal tahun, pertumbuhan sempat melemah seiring tekanan daya beli masyarakat dan kebijakan efisiensi belanja pemerintah pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada kuartal I-2025, ekonomi tumbuh 4,87% (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Pemerintah merespons kondisi tersebut dengan menyalurkan paket stimulus ekonomi guna menjaga konsumsi rumah tangga.
Memasuki kuartal II-2025, pertumbuhan kembali menguat menjadi 5,12% (yoy) dan 4,04% (qtq), melampaui ekspektasi pasar dan kembali menempatkan ekonomi Indonesia di atas level psikologis 5%.
Pada kuartal III-2025, pertumbuhan sedikit melandai namun tetap solid di level 5,04% (yoy) dan 1,43% (qtq). Konsumsi masyarakat tetap menjadi penopang utama, sementara surplus neraca perdagangan turut menjaga stabilitas ekonomi. Pemerintah kembali menggelontorkan stimulus senilai Rp10,8 triliun, yang kemudian diperkuat dengan skema lanjutan 8+4+5, termasuk tambahan BLT Kesejahteraan Rakyat dan perluasan program magang lulusan perguruan tinggi sejak Oktober 2025.
2. Inflasi Kembali ke Jalur Normal
Indeks Harga Konsumen (IHK) pada awal 2025 berada di level sangat rendah. Inflasi Januari tercatat 0,76% (yoy) dan bahkan sempat masuk zona deflasi pada Februari sebesar -0,09% (yoy).
Tekanan harga mulai muncul kembali sejak Maret, dengan inflasi meningkat menjadi 1,03% (yoy). Pada kuartal II-2025, inflasi tahunan bergerak lebih konsisten di kisaran 1,6–1,9%, menandai awal normalisasi harga.
Memasuki semester II-2025, inflasi semakin menguat. Inflasi tahunan naik menjadi 2,37% pada Juli, meningkat hingga 2,86% pada Oktober, sebelum sedikit melandai menjadi 2,72% (yoy) pada November. Secara keseluruhan, inflasi 2025 tetap terjaga dalam target pemerintah 2,5% ±1%, mencerminkan stabilitas harga yang relatif terkendali.
3. Neraca Perdagangan Tetap Surplus
Kinerja neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 masih menunjukkan ketahanan. Pada Oktober 2025, neraca perdagangan kembali mencatat surplus sebesar US$2,4 miliar, memperpanjang rekor surplus menjadi 66 bulan berturut-turut.
Surplus tersebut ditopang oleh ekspor senilai US$24,24 miliar, yang masih lebih tinggi dibandingkan impor sebesar US$21,84 miliar. Meski tekanan impor mulai meningkat, kinerja sektor eksternal tetap menjadi penopang penting stabilitas ekonomi nasional.
4. Pasar Tenaga Kerja Membaik Secara Terbatas
Dari sisi ketenagakerjaan, perbaikan masih berlangsung secara gradual. Data BPS per Agustus 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) berada di 4,85%, setara dengan 7,46 juta orang dari total angkatan kerja sekitar 154 juta orang.
Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah pengangguran turun tipis sekitar 4.000 orang. Namun, tantangan tetap besar seiring bertambahnya penduduk usia kerja sekitar 2,8 juta orang dalam setahun terakhir.
Sebanyak 146,54 juta orang tercatat bekerja, naik sekitar 1,90 juta orang dibandingkan Agustus 2024. Meski demikian, kualitas pekerjaan masih menjadi catatan, karena sebagian besar pekerja masih berada pada kategori paruh waktu dan setengah menganggur.
5. Kemiskinan Turun, Ketimpangan Wilayah Masih Terlihat
BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 mencapai 23,85 juta orang, turun tipis dan menjadi level terendah dalam dua dekade terakhir.
Namun, tren ini tidak merata antarwilayah. Di perkotaan, persentase penduduk miskin justru naik dari 6,66% menjadi 6,73%, dipicu meningkatnya setengah pengangguran dan tekanan harga pangan seperti cabai rawit, minyak goreng, dan bawang putih.
Sebaliknya, kondisi di perdesaan menunjukkan perbaikan. Persentase penduduk miskin di desa turun menjadi 11,03%, seiring membaiknya nilai tukar petani yang turut memperkuat daya beli masyarakat perdesaan.
Penutup
Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia menjelang akhir 2025 menunjukkan ketahanan yang cukup baik, dengan pertumbuhan tetap terjaga, inflasi terkendali, dan sektor eksternal yang solid. Meski demikian, tekanan daya beli, kualitas lapangan kerja, serta kesenjangan wilayah masih menjadi pekerjaan rumah utama yang perlu diantisipasi dalam memasuki tahun 2026.
Referensi
CNBC Indonesia – CNBC Indonesia Research.
Jelang Akhir Tahun, Ini 5 Sinyal Penting dari Ekonomi Indonesia.
Tersedia di: https://www.cnbcindonesia.com/research/20251223110943-128-696610/jelang-akhir-tahun-ini-5-sinyal-penting-dari-ekonomi-indonesia
Diakses pada: 23 Desember 2025.

0 komentar:
Post a Comment