27 December 2025

Pesan Terakhir KHR Asnawi Kudus: Jangan Merasa Paling Pintar

 


Kudus — Seminggu setelah berakhirnya Muktamar ke-22 Nahdlatul Ulama, kabar duka menyelimuti keluarga besar NU. Salah satu ulama sepuh sekaligus pendiri NU, KHR Asnawi Kudus, wafat pada Jumat dini hari, 25 Desember 1959, dalam usia sekitar 98 tahun.

Kabar wafatnya Kiai Asnawi pertama kali dimuat oleh Harian Duta Masjarakat (DM), media resmi NU kala itu, edisi Senin, 28 Desember 1959. Dalam laporan utamanya, DM menulis bahwa Kiai Asnawi wafat akibat usia lanjut, hanya beberapa hari setelah kembali dari Jakarta usai menghadiri Muktamar ke-22 NU—muktamar terakhir yang diikutinya sepanjang hayat.

Ulama Sepuh yang Tak Pernah Absen dari Muktamar

KHR Asnawi dikenal sebagai sosok ulama yang hampir selalu hadir dalam setiap muktamar NU sejak pendiriannya pada 1926. Perjalanan panjang dari Kudus ke Jakarta sejauh lebih dari 1.200 kilometer ditempuhnya dalam usia yang sangat lanjut, menunjukkan dedikasi dan kecintaannya yang mendalam kepada jam’iyah.

Ia juga dikenal sebagai guru dari Rais Aam NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, serta tokoh sentral dalam jaringan ulama pesantren Jawa.

Ucapan Duka dari PBNU dan Tokoh Nasional

Harian DM juga memuat ucapan duka dari berbagai pihak, termasuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, pimpinan Partai NU, serta tokoh-tokoh nasional. PBNU menyampaikan penghormatan atas jasa Kiai Asnawi yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk dakwah Islam dan perjuangan umat.

Beberapa tokoh yang menyampaikan belasungkawa antara lain Ketua PBNU KH Idham Chalid, Wakil Perdana Menteri H Zainul Arifin, Sekjen PBNU KH Saifuddin Zuhri, serta sejumlah pimpinan NU lainnya.

Wafat di Saat Tahajud

Dalam tulisan reflektif berjudul “Mengenang Ulama Besar KHR Asnawi” yang dimuat pada edisi akhir tahun 1959, KH Saifuddin Zuhri mengenang detik-detik wafatnya Kiai Asnawi. Ia menuturkan bahwa sang kiai wafat pada saat hendak melaksanakan shalat tahajud, Jumat malam menjelang Subuh.

Ketika hendak berdiri untuk takbiratul ihram, tubuhnya terasa lemah. Ia duduk sejenak di tepi tempat tidur, menahan sesak di dada. Tak lama kemudian, ajal menjemput dalam keadaan sedang bersiap menghadap Allah SWT.

Kisah serupa juga dituturkan oleh salah satu cicitnya, HM Aslim Akmal, berdasarkan penuturan ibundanya, Hj Sunaifah. Ia menyebut bahwa sebelum wafat, Kiai Asnawi tetap menjalani kebiasaan mandi pada sepertiga malam terakhir dan menunaikan shalat-shalat sunnah, sebuah rutinitas yang nyaris tak pernah ia tinggalkan sepanjang hidupnya.

Pemakaman dan Penghormatan Terakhir

KHR Asnawi dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Kudus, di belakang Masjid Menara Kudus. Ribuan pelayat memadati jalan sepanjang tiga kilometer dari rumah duka menuju makam. Dalam suasana hujan rintik, talqin dibacakan oleh KH Maksum Lasem, sementara KH Bisri Musthafa menyampaikan uraian tentang jasa-jasa besar almarhum bagi NU dan umat Islam.

Wasiat Terakhir di Muktamar

Pada penutupan Muktamar ke-22 NU, Kiai Asnawi sempat menyampaikan pesan penting sebelum memimpin doa penutup. Pesan tersebut kemudian dibukukan dalam Kenang-kenangan Mu’tamar ke-XXII Partai Nahdlatul ‘Ulama (PBNU, 1960).

Inti wasiatnya sederhana namun mendalam: manusia adalah tempat salah dan lupa; dunia senantiasa berubah; jangan merasa paling pintar; dan hanya Allah yang Maha Sempurna. Pesan ini menjadi penegasan sikap tawadhu’, kebijaksanaan, dan kesiapan menghadapi perubahan—nilai-nilai yang hingga kini tetap relevan bagi warga NU.

Warisan Keteladanan

Wafatnya KHR Asnawi Kudus menandai berakhirnya satu generasi pendiri NU. Namun, jejak keteladanan, keikhlasan, dan kebijaksanaan yang ia wariskan tetap hidup dalam tradisi keulamaan NU. Ia bukan hanya saksi sejarah, tetapi juga penjaga nilai yang terus menuntun jam’iyah Nahdlatul Ulama hingga hari ini.


Referensi

NU Online. Pesan Terakhir KHR Asnawi Kudus untuk Pengurus dan Warga NU.
https://nu.or.id/fragmen/pesan-terakhir-khr-asnawi-kudus-untuk-pengurus-dan-warga-nu-jangan-merasa-pintar-sendiri-iZ11J
Diakses pada: 26 Desember 2025

Pesan Terakhir KHR Asnawi Kudus: Jangan Merasa Paling Pintar Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment