Jakarta — Serangan militer Amerika Serikat ke ibu kota Venezuela, Caracas, yang diikuti penangkapan Presiden Nicolas Maduro, memicu spekulasi luas di tingkat global. Meski Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut berkaitan dengan dugaan narkoterorisme, banyak pihak menilai alasan itu tidak sepenuhnya meyakinkan.
Sejumlah analis dan pengamat menilai langkah Washington memiliki kepentingan strategis yang jauh lebih besar, yakni penguasaan sumber daya energi Venezuela, khususnya minyak dan gas bumi. Dugaan ini menguat setelah Trump secara terbuka menyinggung keterlibatan perusahaan minyak Amerika Serikat dalam pengelolaan sektor energi Venezuela.
Dalam konferensi pers dari kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, Trump menyampaikan rencana masuknya perusahaan-perusahaan minyak AS ke Venezuela.
"Kami akan membawa perusahaan minyak AS yang sangat besar untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, termasuk infrastruktur minyak," kata Trump dalam konferensi pers dari kediamannya di Mar-a-Lago, Palm Beach, Florida, dikutip dari CNBC.
"Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini," tambahnya.
Cadangan Minyak Terbesar di Dunia
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Iran. Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA), Venezuela menyimpan sekitar 303 miliar barel minyak, atau sekitar 17 persen dari total cadangan minyak global.
Jumlah tersebut menempatkan Venezuela di peringkat pertama dunia, mengungguli Arab Saudi dengan cadangan sekitar 267 miliar barel, Iran 209 miliar barel, serta Irak 145 miliar barel. Venezuela juga merupakan salah satu negara pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Peran Perusahaan Minyak AS
Saat ini, Chevron tercatat sebagai satu-satunya perusahaan minyak besar asal Amerika Serikat yang masih beroperasi di Venezuela. Berdasarkan data firma konsultan energi Kpler, Chevron mengekspor sekitar 140.000 barel per hari pada kuartal keempat 2025.
Menanggapi eskalasi konflik dan penangkapan Presiden Maduro, Chevron menyatakan fokus utama perusahaan adalah keselamatan karyawan dan keberlangsungan aset.
"tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami."
"Kami terus beroperasi sepenuhnya sesuai dengan semua undang-undang dan peraturan yang berlaku," kata perusahaan minyak besar tersebut.
Rencana Pengelolaan Sementara Venezuela
Setelah operasi militer tersebut, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih pengelolaan Venezuela untuk sementara waktu.
"mengelola negara tersebut hingga saat kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana."
Ia juga menyebut bahwa AS akan mengelola Venezuela "dengan sebuah tim," meski tidak merinci struktur maupun mandat tim tersebut.
Trump menegaskan embargo minyak terhadap Venezuela tetap diberlakukan. Namun, ia menyatakan perusahaan minyak akan menanggung biaya pemulihan infrastruktur minyak mentah Venezuela.
"Mereka (perusahaan minyak) akan diganti rugi atas apa yang mereka lakukan," kata Trump.
"Kita akan membuat minyak mengalir seperti seharusnya. Kita akan menjual jumlah besar minyak ke negara lain, banyak di antaranya sudah menggunakannya sekarang, tetapi saya kira banyak lagi yang akan datang," lanjutnya.
Produksi Minyak dan Dampak Geopolitik
Industri minyak Venezuela sebelumnya dinasionalisasi pada 1976 melalui pembentukan perusahaan negara Petróleos de Venezuela S.A. (PDVSA). Produksi minyak negara tersebut sempat mencapai puncak 3,5 juta barel per hari pada akhir 1990-an, namun mengalami penurunan drastis dalam dua dekade terakhir.
Saat ini, produksi minyak Venezuela berada di kisaran 800.000 barel per hari, jauh di bawah produksi Amerika Serikat yang mencapai sekitar 13,8 juta barel per hari pada akhir Desember 2025.
Selain AS, Rusia dan China juga tercatat memiliki kepentingan besar di sektor energi Venezuela. Pada November 2025, pemerintah Maduro menyetujui perpanjangan kerja sama usaha patungan selama 15 tahun dengan perusahaan-perusahaan terkait Rusia.
Analis minyak Kpler, Matt Smith, menyebut situasi pascaserangan berpotensi mengganggu ekspor minyak Venezuela akibat ketidakjelasan otoritas yang berkuasa di Caracas. Meski demikian, Chevron diperkirakan tetap melanjutkan ekspor sehingga sebagian dampak pasokan dapat ditekan.
"Saya penasaran dengan situasi keamanan (atau ketiadaannya) di lapangan dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi fasilitas produksi minyak, infrastruktur, dan ekspor," kata analis tersebut dalam catatan kepada kliennya pada Sabtu (3/1).
Referensi
CNN Indonesia. “Venezuela Punya Cadangan Minyak Terbesar di Dunia Kalahkan Saudi-Iran”.
Tersedia di:
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260104084929-134-1313299/venezuela-punya-cadangan-minyak-terbesar-di-dunia-kalahkan-saudi-iran
Tanggal akses: 4 Januari 2026.

0 komentar:
Post a Comment