Sunan Gresik adalah pembuka gerbang Walisongo di Nusantara. Keberhasilan beliau memulai langkah peradaban Islam di bumi Nusantara bukanlah kerja tangan kosong, apalagi spekulasi romantik, melainkan ditopang oleh faktor-faktor pokok yang sangat rasional secara sejarah:
1. Islam sedang kuat secara global, terutama setelah kebangkitan dan ekspansi Kesultanan Utsmaniyah, termasuk penaklukan Konstantinopel sebagai ibu kota Romawi Timur.
2. Kemandirian material dan karakter entrepreneur, baik pada level pribadi wali maupun pada ekosistem dakwah yang mereka bangun.
Ketika Walisongo—yang secara nilai dan manhaj adalah embrio Nahdlatul Ulama—berhasil meramu dan menganyam dua faktor pokok ini, muncul pertanyaan yang sah dan perlu diajukan hari ini:
mengapa NU sebagai institusi modern justru tampak kehilangan kompas awalnya?
*NU dan Ketidaksiapan Menjemput Perubahan Politik*
Sejarah menunjukkan bahwa Walisongo tidak hanya berdakwah, tetapi juga menyiapkan transisi tatanegara. Ketika Majapahit runtuh akibat konflik internal—terutama Perang Saudara Paregreg—Walisongo sudah siap. Mereka tidak panik, tidak reaktif, dan tidak tercerai-berai. Sebaliknya, mereka satu suara mendukung Raden Patah, hingga lahirlah Kesultanan Demak sebagai tatanan politik baru yang sah secara genealogis dan kultural.
Bandingkan dengan kondisi NU hari ini. Bila tiba-tiba terjadi gejolak politik besar, terlebih pada skala global, NU tampak belum siap untuk menyambung tatanan baru. Salah satu sebab utamanya adalah sikap sebagian warga NU yang menganggap politik sebagai sesuatu yang tabu dan menjijikkan. Akibatnya, kader NU yang masuk politik berjalan sendiri-sendiri, tidak dalam satu desain besar, dan sering kali justru membingungkan umat.
Padahal yang menjijikkan itu bukan politiknya, melainkan ketika Islam dijadikan simbol untuk memuaskan nafsu pribadi atau golongan. Bukankah Sunan Gresik berdakwah dengan kepala tegak justru ketika konstelasi politik global sedang berpihak pada Islam? Dan bukankah Walisongo berpolitik secara sadar, terarah, dan kolektif saat menjemput runtuhnya Majapahit?
*Hilangnya Karakter Entrepreneur NU*
Pergeseran kompas berikutnya adalah hilangnya karakter entrepreneur di tubuh NU. Sejarah berbicara jelas:
Sunan Gresik—wali pertama—adalah figur yang terhubung erat dengan jalur rempah, komoditas strategis dunia pada masanya. Nilai rempah ketika itu setara dengan emas, batubara, dan nikel di zaman sekarang.
Lebih jauh, hampir semua pusat domisili Walisongo memiliki alun-alun, yang pada masa itu bukan sekadar ruang simbolik, tetapi pusat perputaran ekonomi. Ini menegaskan bahwa dakwah Walisongo berjalan seiring dengan penguasaan ekonomi, bukan berseberangan dengannya.
Maka, ketika NU di era kini diberi mandat mengelola sumber daya strategis seperti tambang, lalu justru memunculkan kegaduhan dan bencana internal, masalahnya bukan pada tambangnya. Masalahnya adalah ketidakbiasaan bergelut di wilayah muamalah. Nak ngajine wes, tapi prakteke seng langka.
Ditambah lagi dengan mentalitas sebagian warga NU yang masih memandang pengusaha sebagai wong seng kedonyan, seakan-akan bisnis adalah wilayah kotor yang bertentangan dengan kesalehan.
*Penutup: Kompas Kita ke Mana?*
Jika politik dianggap menjijikkan, dan usaha dianggap kedonyan, lalu kompas kita siapa?
Padahal Walisongo—embrio NU—berpolitik dengan adab dan berusaha dengan etika. Mereka ulama, negarawan, dan entrepreneur sekaligus.
Kalau Walisongo hidup hari ini, mungkin mereka justru bingung:
kok warisannya dipersempit sendiri oleh pewarisnya? 😅😁

0 komentar:
Post a Comment