“Dan Gedung PTT yang jadi kebanggaan penduduk kota Blora yang kecil itu kini tinggal beton-beton tiangnya yang bersusun-tindih seperti bantal dan guling….”
Begitulah Pramoedya Ananta Toer mengenang kampung halamannya dalam roman Bukan Pasar Malam. Novel tersebut mengisahkan kepulangan Pram ke Blora untuk menjenguk sang ayah, M. Toer, yang terbaring sakit TBC. Di balik hubungan ayah-anak yang tak selalu harmonis, terdapat warisan nilai perjuangan, intelektualitas, dan kegigihan yang membentuk watak Pram sebagai sastrawan besar Indonesia.
M. Toer: Guru, Aktivis, dan Jejak NU di Blora
Ayah Pram, M. Toer (atau Mastoer), adalah seorang guru yang dikenal antifeodal dan aktif dalam pergerakan. Ia mengajar di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Rembang, lalu terlibat dalam pengelolaan Institute Boedi Oetomo (IBO) Rembang pada awal 1920-an. Aktivismenya tak berhenti pada pendidikan formal.
Menurut Soesilo Toer—adik Pram—yang dikutip dalam sejumlah kajian, Mastoer pernah aktif dalam Nahdlatul Ulama (NU) di Blora pada masa awal berdirinya organisasi tersebut. Bahkan, ada klaim bahwa ia turut terlibat dalam perintisan NU Blora sebelum kemudian beralih menjadi aktivis PNI pada 1933.
Secara historis, NU sendiri didirikan pada 31 Januari 1926 oleh para kiai, termasuk KH Hasyim Asy'ari di Surabaya. Dalam perkembangan berikutnya, cabang-cabang NU mulai dibentuk di berbagai daerah.
NU Blora: Data Arsip dan Dinamika Awal
Beberapa sumber menyebut NU Cabang Blora berdiri pada 1927. Namun, sumber resmi seperti Swara Nahdlatoel Oelama (SNO) menunjukkan bahwa inisiasi pembentukan cabang-cabang NU dilakukan secara sistematis pada 1928.
Dalam SNO Tahun II (1347 H/1929), disebutkan adanya musyawarah pendirian Cabang NU di Jepun (Blora). Struktur awalnya antara lain:
Jajaran Syuriyah:
Kiai Maksum (Rais)
Kiai Muhammad Tamyiz (Wakil Rais)
Kiai Ahmad Sholih (Katib)
Kiai Muntaha
Jajaran Tanfidziyah:
Haji Sholih (Ketua)
As’adi (Sekretaris)
Martapandi (Bendahara)
Dalam struktur tersebut, nama M. Toer tidak tercantum. Namun, ketiadaan nama dalam daftar resmi bukan berarti ia tidak terlibat dalam aktivitas sosial-keagamaan yang sejalan dengan gerakan NU.
Pendidikan sebagai Titik Temu
Baik M. Toer maupun NU Blora memiliki cita-cita yang sama: memajukan pendidikan umat. Kehadiran Mastoer di Blora bertujuan menghidupkan kembali sekolah Boedi Oetomo. Sementara itu, NU Blora merintis Madrasah Tarbiyatul Athfal di Jetis pada 1929.
Dalam laporan SNO Tahun II (Syaban 1347 H), disebutkan bahwa madrasah tersebut didirikan oleh sejumlah tokoh lokal, di antaranya KH Abdul Hadi dan KH Muhammad Idris. Madrasah ini menjadi bukti nyata semangat jam’iyah NU dalam mengembangkan pendidikan Islam di tingkat lokal.
Semangat ini selaras dengan nilai yang diwariskan M. Toer kepada anak-anaknya. Dalam Bukan Pasar Malam, Pram merekam pesan sang ayah bahwa bahkan di masa perang, sekolah harus tetap dibuka. Pendidikan, bagi Mastoer, adalah jalan pembebasan.
Sejarah, Ingatan, dan Jejak yang Terbuka
Keterlibatan M. Toer dalam NU Blora memang belum sepenuhnya terverifikasi secara dokumenter. Namun, konteks sosial, latar belakang kesantrian keluarga, dan semangat pergerakan yang ia jalani membuka kemungkinan adanya irisan antara aktivisme pendidikan dan pergerakan keagamaan di Blora pada 1920-an.
Sejarah lokal seperti ini memperlihatkan bahwa perjalanan tokoh besar seperti Pramoedya Ananta Toer tidak bisa dilepaskan dari denyut sosial-keagamaan kampung halamannya. Blora bukan sekadar latar tempat, tetapi ruang ideologis tempat nilai pendidikan, perjuangan, dan keislaman bertemu.
Referensi
NU Online.
“Pramoedya Ananta Toer, Ayahnya, dan NU Blora.”
Alamat: https://nu.or.id/fragmen/pramoedya-ananta-toer-ayahnya-dan-nu-blora-Cc6hY
📅 Tanggal akses: 15 Februari 2026

0 komentar:
Post a Comment