Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim selama ini dikenal luas sebagai salah satu Walisongo tertua dan tokoh awal penyebaran Islam di Jawa. Makamnya di Gresik hingga kini tidak pernah sepi dari peziarah. Namun, temuan-temuan ilmiah mutakhir menunjukkan bahwa peran Malik Ibrahim jauh melampaui gambaran populer sebagai pendakwah atau pedagang Muslim.
Berdasarkan kajian epigrafi pada batu nisan, perbandingan arkeologis, serta catatan sejarah Dinasti Ming, Malik Ibrahim tampil sebagai figur penguasa Islam berotoritas, penjaga jalur rempah strategis, sekaligus tokoh kunci dalam pembentukan tatanan politik dan keagamaan Islam awal di Jawa.
Bukan Pedagang, Melainkan Penguasa Berdaulat
Narasi lama kerap menggambarkan Malik Ibrahim sebagai pedagang yang menyebarkan Islam lewat jalur niaga. Namun, pembacaan ulang terhadap epitaf batu nisannya justru menegaskan hal sebaliknya. Pada batu nisan tersebut, Malik Ibrahim menyandang gelar “Malik”, yang dalam tradisi Islam merujuk pada pemimpin, gubernur, atau raja.
Gelar ini berbeda secara tegas dari gelar-gelar pedagang abad ke-14 dan ke-15 dari Cambay, Gujarat, seperti malik al-tujjar (raja pedagang) atau mufakhr al-tujjar (kebanggaan pedagang). Malik Ibrahim justru disebut dengan istilah yang melekat pada struktur kekuasaan Islam: amir, bangsawan, kebanggaan para elit, serta pendukung sultan dan wazir. Hal ini mengindikasikan bahwa ia adalah penguasa Islam berwenang pertama di Tanah Jawa, bukan pedagang perantau.
Nama “Ibrahim” sendiri berkaitan erat dengan figur Nabi Ibrahim sebagai pembawa tauhid dan penentang penyembahan berhala. Ayat-ayat Al-Qur’an yang terukir pada nisannya menegaskan pesan monoteisme, menunjukkan bahwa Malik Ibrahim adalah pendakwah tauhid sejak awal, bukan seorang mualaf yang baru mengenal Islam.
Dalam tradisi lokal Jawa, ia juga dikenal sebagai Ki Saka Pati Bantala. Kajian linguistik menafsirkan gelar ini sebagai “sesepuh yang menjadi pilar para penguasa dunia,” sepadan dengan gelar Arab “umdatus salatin”—pilar para sultan. Gelar ini menegaskan posisi politik dan spiritualnya yang sangat tinggi.
Jejak Batu Nisan Cambay: Ikatan Pasai–Gresik
Bukti penting lain terletak pada batu nisan marmer putih tipe Cambay milik Malik Ibrahim. Batu nisan ini memiliki kesamaan tipologis yang kuat dengan nisan-nisan di Samudra Pasai, Aceh. Penelitian menunjukkan sedikitnya terdapat 14 nisan Cambay di Pasai dan 3 di Gresik yang membentuk satu kesatuan budaya dan sejarah.
Awalnya, para ahli menduga nisan tersebut diimpor utuh dari Gujarat. Namun riset terbaru menunjukkan kemungkinan bahwa kreativitas seni nisannya justru berkembang di Pasai, dikerjakan oleh seniman Kambayat yang bermigrasi, dengan bahan baku marmer yang diimpor. Fakta bahwa beberapa nisan di Gresik tidak selesai sepenuhnya menguatkan dugaan bahwa penyelesaian akhir bergantung pada Pasai.
Pola sebaran ini menegaskan hubungan politik, keagamaan, dan ekonomi yang sangat erat antara Pasai dan Gresik—dua simpul utama Islam awal Nusantara.
Sultan Pasai dan Catatan Dinasti Ming
Temuan paling signifikan dari penelitian mutakhir adalah identifikasi Malik Ibrahim dengan Sultan Zainal Abidin dari Pasai, ayah dari Malikah Nahrasyiyah. Kedua tokoh ini memiliki batu nisan Cambay yang identik secara ornamen dan struktur, satu-satunya di Nusantara yang menyandang gelar malik/malikah secara berurutan dalam satu garis waktu.
Keduanya juga memuat frasa langka “as-sa‘id as-syahid” (berbahagia dan syahid). Batu nisan Malikah Nahrasyiyah secara eksplisit menyebut ayahnya sebagai Sultan Zainal Abidin. Karena makam sang ayah tidak ditemukan di Pasai dan pengerjaan nisannya terkait erat dengan Pasai–Gresik, peneliti menyimpulkan bahwa Malik Ibrahim adalah Sultan Zainal Abidin yang dimaksud.
Lebih jauh, Malik Ibrahim juga diidentifikasi dengan tokoh Shi Jin Qing dalam catatan Dinasti Ming. Dalam sumber Tiongkok, Shi Jin Qing adalah figur yang diberi mandat untuk mengamankan jalur rempah dari Sumatra ke Gresik, dengan legitimasi dari tiga kekuatan besar: Pasai, kerajaan di Jawa, dan Dinasti Ming. Ia bukan syahbandar biasa, melainkan panglima tertinggi jalur rempah.
Warisan: Nyai Ageng Pinatih dan Pelabuhan Gresik
Malik Ibrahim dikenal sebagai sosok yang sangat peduli kepada kaum dhu‘afa. Karakter ini diwariskan kepada keturunannya. Penelitian mengaitkan Malikah Nahrasyiyah dan Nyai Ageng Pinatih sebagai putri-putri Malik Ibrahim (Shi Jin Qing).
Setelah wafatnya Malik Ibrahim pada 1425, pengamanan jalur rempah dilanjutkan oleh putrinya di Sumatra, sementara Nyai Ageng Pinatih bermigrasi ke Jawa dan menjadi syahbandar Gresik. Ia dikenal pula sebagai Nyai Ageng Samboja atau Sayyidah Fatimah, yang nisannya berada di dekat makam Malik Ibrahim.
Nyai Ageng Pinatih memainkan peran krusial dalam Islamisasi Jawa Timur. Sunan Giri, salah satu Walisongo terkemuka, merupakan anak angkatnya dan memperoleh pendidikan Islam intensif darinya. Pembangunan Pelabuhan Gresik pada 1425 merupakan proyek strategis bersama Pasai, kerajaan di Jawa, dan Dinasti Ming. Dalam satu abad, pelabuhan ini berkembang menjadi pusat Islam dan perdagangan terbesar di Jawa, sekaligus simpul utama jalur rempah selatan.
Penutup: Mengubah Cara Pandang Sejarah
Dengan seluruh bukti epigrafi dan historis tersebut, jelas bahwa Malik Ibrahim bukan sekadar pendakwah atau pedagang. Ia adalah penguasa Islam berdaulat, penjaga jalur rempah internasional, pilar para sultan, dan peletak dasar tauhid di Jawa. Perannya membentuk lanskap politik, ekonomi, dan keagamaan Islam Nusantara jauh lebih besar dari narasi populer yang selama ini beredar.
Referensi
NU Online. (2025). Sunan Gresik: Maulana Malik Ibrahim, Penguasa Jalur Rempah Tanah Jawa. Diakses 10 Desember 2025 dari:
https://www.nu.or.id/tokoh/sunan-gresik-maulana-malik-ibrahim-penguasa-jalur-rempah-tanah-jawa-4iWHU

0 komentar:
Post a Comment