Di antara persoalan yang sering ditanyakan ketika Ramadhan adalah: bolehkah orang yang berpuasa mencicipi makanan saat memasak? Apakah hal tersebut membatalkan puasa? Ataukah hanya makruh?
Dalam mazhab Syafi’i, pembahasan ini dijelaskan secara rinci oleh para ulama, di antaranya dalam kitab Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani.
Beliau menulis:
ومكروهات الصوم ثلاثة عشر................... وذوق الطعام أو غيره خوف الوصول إلى حلقه أو خوف تعاطيه لغلبة شهوة ............. نعم لو ذاق الطعام لغرض إصلاحه لمتعاطيه لم يكره للحاجة وإن كان عنده مفطر غيره لأنه قد لايعرف إصلاحه مثل الصائم كما أفاده الشبراملسي (نهاية الزين:178-179)
Artinya:
“Hal-hal yang dimakruhkan dalam puasa itu ada tiga belas… Di antaranya mencicipi makanan atau lainnya, karena khawatir sampai ke tenggorokan, atau karena khawatir terdorong untuk memakannya akibat kuatnya syahwat (keinginan).
Ya, jika ia mencicipi makanan dengan tujuan untuk memperbaikinya (misalnya mengecek rasa) bagi orang yang memasaknya, maka tidak dimakruhkan karena adanya kebutuhan, meskipun disandingnya ada orang lain yang tidak berpuasa. Karena orang lain tersebut belum tentu mengetahui cara memperbaiki (rasa) sebagaimana orang yang berpuasa. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Asy-Syubramalisi”. (Nihâyah az-Zain, Hal. 178-179).
Kesimpulan
Mencicipi makanan saat puasa tidak membatalkan selama tidak tertelan.
Hukumnya makruh jika tanpa kebutuhan dan berpotensi sampai ke tenggorokan.
Hukumnya tidak makruh jika ada kebutuhan seperti memperbaiki masakan.
Tetap wajib berhati-hati agar tidak tertelan.
Fikih puasa menunjukkan bahwa syariat Islam menggabungkan prinsip kehati-hatian dan kemudahan secara seimbang. Wallahu a’lam bisshawab.
Referensi
An-Nawawi al-Bantani, Muhammad. Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in. Beirut: Dar al-Fikr, hlm. 178-179.

0 komentar:
Post a Comment