REMBANG – Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, memberikan peringatan penting bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan. Mengulas kitab legendaris Al-Hikam karya Ibnu Athaillah, Gus Mus menekankan bahwa kejebakan terbesar seorang hamba adalah merasa cukup dengan amalnya tanpa menyertakan keikhlasan.
Menurut Gus Mus, para sufi memandang bahwa amal manusia jarang sekali benar-benar bersih dari hal-hal yang dapat mengurangi nilainya, seperti penyakit hati.
Bahaya "Mengandalkan" Amal
Gus Mus menyoroti fenomena di mana seseorang merasa pasti masuk surga karena telah rajin menjalankan shalat sunnah, puasa rutin, dan ibadah lainnya. Sikap merasa "pasti selamat" ini disebut sebagai bentuk mengandalkan amal.
“Itu namanya mengandalkan amal. Ia merasa pasti masuk surga,” ujar Mustasyar PBNU tersebut dalam tayangan YouTube NU Online.
Beliau mengingatkan bahwa surga bukanlah "upah" dari transaksi amal kita, melainkan murni karena karunia (fadhal) Allah Ta’ala. Seseorang masuk surga jika Allah menghendakinya, bukan semata karena tumpukan pahala yang dihitung secara matematis oleh manusia.
Riya dan Tanda Amal yang Tidak Ikhlas
Mengutip ayat Wailul lil mushallin (celakalah orang-orang yang salat), Gus Mus menegaskan bahwa kecelakaan tersebut diperuntukkan bagi mereka yang yurā’ūn—orang-orang yang berbuat riya.
Tanda Tidak Ikhlas: Adanya kepentingan, pamrih, atau harapan tertentu di balik ibadah.
Tanda Mengandalkan Amal: Berkurangnya harapan kepada rahmat Allah saat melakukan kesalahan. Orang tipe ini merasa sia-sia saat tergelincir dosa, seolah amalnya tidak lagi berguna.
Ikhlas: Beribadah karena Status Hamba
Sebaliknya, Gus Mus menjelaskan bahwa orang yang ikhlas akan tetap beramal dalam kondisi apa pun. Ia tidak terjebak dalam hitung-hitungan pahala, melainkan didorong oleh kesadaran murni bahwa dirinya adalah hamba.
“Pokoknya tetap beramal. Apa pun yang terjadi, ia tetap beribadah karena memang kewajiban seorang hamba adalah menyembah Allah. Shalat ya shalat saja,” pesan Gus Mus.
Kesadaran sebagai hamba inilah yang membuat seseorang tetap tenang meski melakukan kesalahan, karena ia tahu bahwa yang ia harapkan adalah rahmat dan ampunan Allah, bukan kekuatan amalnya sendiri.
Referensi:
NU Online. (2026). Gus Mus Ingatkan Bahaya Mengandalkan Amal Tanpa Ikhlas. Diakses dari
Tanggal Akses: 22 Februari 2026

0 komentar:
Post a Comment