WASHINGTON DC – Hanya berselang sehari setelah kebijakan tarifnya dijegal oleh Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat, Presiden Donald Trump kembali melakukan manuver mengejutkan. Pada Sabtu (21/2/2026), Trump mengumumkan kenaikan bea masuk global menjadi 15%, sebuah langkah yang diprediksi akan mengguncang stabilitas perdagangan internasional.
Melalui platform Truth Social, Trump menyebut putusan MA yang membatalkan kewenangannya sebagai keputusan yang "sangat anti-Amerika". Ia menegaskan akan menggunakan celah hukum lain untuk menaikkan tarif hingga batas maksimal yang diuji secara hukum.
"Pemerintah akan menaikkan tarif impor hingga batas maksimal yang diizinkan dan telah diuji secara hukum, yaitu 15%," tegas Trump.
Serangan Balik ke Lembaga Peradilan
Trump tidak hanya merespons dengan kebijakan, tetapi juga melontarkan kritik pedas kepada para hakim konservatif yang tidak mendukungnya. Ia menuding adanya "ketidakloyalan" dan menyebut mayoritas hakim telah dipengaruhi oleh kepentingan asing.
Sebaliknya, ia memuji tiga hakim (Thomas, Alito, dan Kavanaugh) yang tetap mendukung kewenangan presiden dalam menetapkan tarif. Hakim Kavanaugh sendiri mengakui bahwa proses hukum terkait pengembalian dana tarif yang sudah terlanjur dibayar korporasi bisa menjadi sebuah "kekacauan" yang berlangsung bertahun-tahun.
Dampak bagi Mitra Dagang dan Indonesia
Meskipun bersifat sementara (berlaku selama 150 hari), kenaikan tarif ini membawa ketidakpastian baru. Berdasarkan fakta lapangan, berikut adalah beberapa poin krusial:
Pengecualian Sektor: Sektor farmasi dan barang di bawah perjanjian USMCA (Meksiko-Kanada) tetap mendapatkan pengecualian.
Nasib Perjanjian Bilateral: Gedung Putih menyatakan bahwa mitra dagang yang sudah memiliki perjanjian terpisah (seperti Indonesia) tetap akan terkena dampak tarif global baru ini dalam skema tertentu.
Tarif Sektoral: Tarif khusus untuk baja, aluminium, dan komoditas tertentu tidak terpengaruh oleh putusan MA ini.
Reaksi Dunia: Eropa Mulai Bergerak
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, langsung bereaksi dengan menyatakan akan segera berkonsultasi dengan sekutu Eropa. Ia bertekad merumuskan "posisi Eropa yang sangat jelas" sebelum melakukan kunjungan ke Washington pada awal Maret mendatang.
Di dalam negeri AS, kritik juga datang dari Gubernur Pennsylvania, Josh Shapiro, yang mendesak Trump untuk menghentikan "tarif yang kacau" karena dinilai merugikan petani dan pemilik usaha kecil.
Referensi:
CNBC Indonesia. (2026, 22 Februari). Trump Ngamuk Naikkan Lagi Tarif Impor Jadi 15%, Perang Dagang Memanas. Diakses dari
Tanggal Akses: 22 Februari 2026

0 komentar:
Post a Comment