Basmalah (bismillāh ar-raḥmān ar-raḥīm) memiliki kedudukan penting dalam tradisi keilmuan Islam. Dalam kajian fikih madzhab Syafi‘i, basmalah tidak dipahami secara tunggal sebagai amalan sunnah, melainkan memiliki variasi hukum yang bergantung pada konteks perbuatan yang menyertainya.
Penjelasan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam I‘ānat ath-Thālibīn ‘alā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Mu‘īn karya Syekh Abu Bakr Syatha ad-Dimyathi (jilid 1, hlm. 27). Dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa basmalah disyariatkan pada setiap perkara penting (amrun dzū bāl) menurut syariat, selama perbuatan tersebut tidak termasuk perbuatan haram atau makruh secara zatnya, serta bukan perkara remeh atau hina (safāsif al-umūr). Ketentuan ini bertujuan menjaga kehormatan nama Allah Swt. agar tidak disandingkan dengan perbuatan tercela atau tidak bermakna.
Ragam Hukum Basmalah
Hukum membaca basmalah mencakup lima kategori.
- Basmalah wajib dibaca dalam shalat menurut madzhab Syafi‘i karena ia merupakan bagian dari surah al-Fātiḥah.
- Basmalah sunnah terbagi menjadi sunnah ‘ain, seperti pada wudhu dan mandi, serta sunnah kifayah, seperti pada makan bersama dan hubungan suami istri, di mana cukup salah satu pihak yang membacanya. Pendapat ini dinilai kuat oleh Syekh Syamsuddin ar-Ramli.
- Basmalah menjadi haram apabila dibaca ketika melakukan perbuatan haram secara zatnya, karena berarti mengaitkan nama Allah dengan maksiat. Seperti membaca basmalah ketika hendak berjudi.
- Ia dihukumi makruh apabila dibaca pada perbuatan yang makruh secara zatnya.
- Adapun pada perbuatan mubah yang tidak memiliki nilai kemuliaan khusus, basmalah berstatus mubah, yakni boleh dibaca tanpa keutamaan tertentu. Seperti membaca basmalah ketika hendak memindahkan papan catur.
Kesimpulan
Basmalah dalam fikih Syafi‘iyah bersifat kontekstual dan dinamis. Penentuan hukumnya tidak hanya bergantung pada lafaz basmalah itu sendiri, tetapi terutama pada jenis perbuatan yang mengiringinya. Hal ini menunjukkan kehati-hatian para ulama dalam menjaga adab terhadap nama Allah Swt. serta menegaskan prinsip dasar fikih bahwa hukum suatu amalan sangat dipengaruhi oleh konteks dan tujuan pelaksanaannya.
Referensi
-
Abu Bakr Syatha ad-Dimyathi, I‘ānat ath-Thālibīn ‘alā Ḥall Alfāẓ Fatḥ al-Mu‘īn, Jilid 1, hlm. 27, Dar as-Salām, Kairo, 2021.
والآن الشروع في فن الفقه الباحث عن الأحكام الشرعية، فيقال: البسملة مطلوبة في كل أمر ذي بال - أي حال - يهتم به شرعا، بحيث لا يكون محرما لذاته ولا مكروها كذلك، ولا من سفاسف الأمور - أي محقراتها - فتحرم على المحرم لذاته كالزنا، لا لعارض كالوضوء بماء مغصوب.وتكره على المكروه لذاته كالنظر لفرج زوجته، لا لعارض كأكل البصل.ولا تطلب على سفاسف الأمور، ككنس زبل، صونا لاسمه تعالى عن اقترانه بالمحقرات.
والحاصل أنها تعتريها الأحكام الخمسة: الوجوب، كما في الصلاة عندنا معاشر الشافعية - والاستحباب عينا: كما في الوضوء والغسل، وكفاية: كما في أكل الجماعة، وكما في جماع الزوجين، فتكفي تسمية أحدهما - كما قال الشمس الرملى أنه الظاهر - والتحريم في المحرم الذاتي، والكراهة في المكروه الذاتي، والإباحة في المباحات التي لا شرف فيها، كنقل متاع من مكان إلى آخر، كذا قيل.

0 komentar:
Post a Comment