Jakarta — Pemerintah bersama otoritas moneter menyampaikan optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia pada tahun 2026. Sejumlah indikator makro menunjukkan fondasi pertumbuhan yang dinilai semakin kuat, bahkan berpeluang melampaui target pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai tanda-tanda membaiknya kondisi ekonomi pada 2026 telah terlihat sejak akhir 2025. Salah satu indikator utama adalah terjaganya konsumsi masyarakat, tercermin dari Mandiri Spending Index (MSI) November 2025 yang mencapai 312,8, meningkat dibandingkan Oktober 2025 sebesar 297,4.
Selain konsumsi, realisasi investasi juga terus menunjukkan tren positif. Hingga September 2025, investasi yang masuk ke Indonesia telah mencapai Rp1.434 triliun dan diproyeksikan terus meningkat seiring peran Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai motor penggerak baru investasi nasional. Pemerintah pun telah menggelontorkan belanja negara sebesar Rp1.109 triliun hingga akhir November 2025 untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat.
"Jadi indikator-indikator risiko pertumbuhan 2026 sudah terserap tahun ini," kata Airlangga dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Jakarta.
Dengan berbagai indikator tersebut, Airlangga memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,4 persen sesuai asumsi makro APBN 2026.
"Headwind yang berat sudah kita lewati. Karena itu outlook 2026 lebih optimistis, dan kita berharap pertumbuhan di atas 5,4 persen. Tidak ada risiko yang seberat perang Ukraina, Gaza, Covid-19, maupun perang tarif, semuanya sudah dilampaui Indonesia," ujarnya.
Optimisme serupa disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang bahkan memandang percepatan pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen sebagai target yang realistis.
"Tahun 2026 harusnya pertumbuhan 6% seperti yang saya bilang sebelum-sebelumnya tidak terlalu sulit untuk dicapai," kata Purbaya dalam media briefing di Kementerian Keuangan.
Ia menjelaskan, strategi utama pemerintah mencakup percepatan belanja negara di awal tahun serta penguatan sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.
"Terus kami sinkronisasi kebijakan moneter lebih baik. Dengan moneter ya, bukan saya intervensi ya. Kita komunikasi lebih baik dengan pak gubernur dari bank sentral," ujarnya.
Pemerintah juga mulai mengintensifkan forum debottlenecking untuk mengurai berbagai hambatan di lapangan usaha.
"Debottlenecking mulai disidangkan baru satu kali kan. Tapi saya di situ sudah bisa melihat deh, kita kira problem yang dihadapi pebisnisnya apa sih. Nanti ke depan akan semakin sering tuh sidangnya seminggu sekali kan," jelas Purbaya.
Kebijakan tersebut, menurutnya, mulai menarik perhatian investor asing.
"Sudah banyak dari luar negeri, Singapura dan negara-negara lain. Yang pengusahanya punya investasi disini, beberapa sudah masuk kali. Saya yakin kalau itu dijalankan dengan konsisten, iklim investasi akan bergerak semakin baik. Saya mau bilang, drastis perubahan harusnya semakin baik," paparnya.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,7 persen dan meningkat menjadi 5,1–5,9 persen pada 2027.
"Dengan sinergi yang baik, ekonomi RI pada 2026 dan 2027 lebih baik," ujar Perry dalam PTBI 2025.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia akan terus menerapkan kebijakan makroprudensial yang longgar untuk mendorong pertumbuhan kredit. Kredit perbankan diperkirakan tumbuh 8–12 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 9–13 persen pada 2027. BI juga telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin sejak awal tahun.
"Koordinasi KSSK akan membantu mengatasi special rate di perbankan," jelas Perry.
Selain itu, BI mengoptimalkan pengembangan sistem pembayaran digital sesuai Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030, termasuk perluasan penggunaan QRIS lintas negara dan pengembangan rupiah digital.
"Kemudian eksperimen penerbitan digital rupiah sebagai alat bayar satu satunya yang sah," tutur Perry.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal yang ekspansif, reformasi struktural, serta dukungan moneter yang akomodatif, pemerintah dan bank sentral sepakat bahwa ekonomi Indonesia memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan pada 2026.
Sumber: CNBC Indonesia
https://www.cnbcindonesia.com/news/20260102095050-4-699074/ini-ramalan-purbaya-airlangga-bos-bi-soal-ekonomi-ri-di-2026

0 komentar:
Post a Comment