Hiburan gambar hidup atau film bukanlah fenomena baru di Indonesia. Sejak awal abad ke-20, masyarakat Hindia Belanda sudah mengenal bioskop sebagai bagian dari arus modernitas. Meski awalnya dinikmati kalangan tertentu, sebagian penduduk bumiputra juga mulai menjadikannya ruang hiburan—bahkan mungkin gaya hidup baru.
Bioskop pertama di Indonesia sangat sederhana. Gedungnya masih bersifat bongkar pasang, film yang diputar adalah film bisu impor dari Eropa dan Amerika Serikat, dengan bintang-bintang seperti Charlie Chaplin, Buster Keaton, dan Emil Jannings.
Cikal-bakal bioskop di Indonesia dirintis seorang pengusaha Belanda bernama Talbot yang menggelar pertunjukan film bisu di Tanah Abang, Batavia, pada 29 Desember 1900. Saat itu, tempat pemutaran film hanyalah rumah bedeng berdinding anyaman bambu beratap seng. Setelah selesai pemutaran, peralatan dibongkar dan dipindahkan ke lokasi lain.
Peristiwa ini terjadi 26 tahun sebelum para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama di Surabaya pada 31 Januari 1926. Pada masa itu, KH Hasyim Asy'ari baru kembali dari Makkah dan berusia 29 tahun, sementara KH Wahab Chasbullah masih berusia 12 tahun.
Tahun 1926 juga menandai produksi film pertama Hindia Belanda berjudul Loetoeng Kasaroeng, yang didanai Bupati Bandung Wiranatakusumah V. Dunia film dan dunia pesantren tampak seperti dua ruang yang jauh berbeda. Namun, sejarah kemudian menunjukkan keduanya pernah beririsan.
NU dan Bioskop pada 1930-an
Memasuki dekade 1930-an, NU tengah berada dalam fase konsolidasi organisasi. Cabang-cabang NU berkembang di berbagai daerah, tetapi belum memiliki aset gedung sendiri. Untuk menyelenggarakan kegiatan, NU kerap memanfaatkan fasilitas umum—mulai dari sekolah, hotel, rumah simpatisan, hingga bioskop.
Tercatat, Cabang NU Serang pernah mengadakan acara di gedung bioskop Banten Park pada 1935. Kegiatan tersebut diberitakan koran Pemandangan (No. 282, 18 Maret 1935) dengan judul “Nachdatoel ‘Oelama Serang”. Acara dipimpin KH Entol Muhammad Jasin dari Menes dan dihadiri KH Wahab Chasbullah serta sejumlah tokoh dari berbagai organisasi, termasuk Muhammadiyah.
Tak hanya itu, Ranting NU Sukamandi, Subang (saat itu masuk Cabang Purwakarta) juga menyelenggarakan rapat terbuka di Victoria-bioscoop Sukamandi pada Mei 1935. Acara dihadiri sekitar 400 orang, termasuk perwakilan pemerintah dan pers.
Menariknya, kegiatan tersebut tetap diawali pembacaan Al-Qur’an dan diisi pidato tentang sejarah, asas, dan tujuan NU. Dengan kata lain, meski bertempat di bioskop—yang oleh sebagian kalangan mungkin dianggap ruang hiburan duniawi—substansi acaranya tetap religius dan organisatoris.
Strategi Adaptif di Tengah Pengawasan Kolonial
Pada masa Hindia Belanda, perkumpulan bumiputra diawasi ketat oleh PID (Politieke Inlichtingen Dienst). Ruang berkumpul dan berserikat pun tidak selalu leluasa. Dalam konteks itu, penggunaan bioskop sebagai tempat kegiatan bisa dipahami sebagai strategi adaptif.
Tujuh muktamar awal NU (1926–1932) bahkan tidak digelar di pesantren atau masjid, melainkan di hotel. Setelah keputusan diambil, barulah diumumkan dalam pertemuan massal di masjid besar yang dihadiri ribuan jamaah.
Fakta ini menunjukkan bahwa sejak awal, NU tidak memposisikan diri semata sebagai organisasi pesantren, melainkan juga organisasi sosial-keagamaan yang mampu memanfaatkan ruang-ruang publik modern.
Dari Bioskop ke Lesbumi
Menariknya, beberapa dekade kemudian pada 1960-an, KH Wahab Chasbullah memberi ruang bagi tokoh-tokoh perfilman seperti Djamaluddin Malik dan Usmar Ismail untuk mendirikan Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) sebagai sayap kebudayaan NU.
Langkah ini menegaskan bahwa relasi NU dengan dunia seni dan film bukanlah hal yang tiba-tiba, melainkan memiliki jejak historis panjang sejak era kolonial.
Penutup
Sejarah kegiatan NU di bioskop pada 1930-an memperlihatkan bahwa organisasi ini sejak awal memiliki kemampuan beradaptasi dengan ruang modern tanpa kehilangan identitas keislamannya. Masjid dan pesantren tetap menjadi pusat spiritual, tetapi ruang publik seperti bioskop pun dapat menjadi arena dakwah dan konsolidasi.
Kisah ini memperkaya pemahaman bahwa modernitas dan tradisi tidak selalu berhadap-hadapan. Dalam sejarah NU, keduanya justru pernah berjalan beriringan.
Referensi
NU Online.
“Acara NU pada Masa Kolonial: Tak Hanya di Masjid atau Pesantren, tapi Juga di Bioskop.”
Alamat: https://nu.or.id/fragmen/acara-nu-pada-masa-kolonial-tak-hanya-di-masjid-atau-pesantren-tapi-juga-di-bioskop-7EoNt
📅 Tanggal akses: 15 Februari 2026

0 komentar:
Post a Comment