16 February 2026

Dilema Pasukan TNI ke Gaza: Mengapa Sayap Kanan Israel Justru Merasa Terancam?

 


JAKARTA – Rencana pengiriman hingga 8.000 personel TNI sebagai bagian dari pasukan perdamaian internasional (International Stabilisation Force/ISF) ke Gaza tengah memicu perdebatan sengit di tanah air. Di tengah kekhawatiran publik akan potensi "jebakan" politik luar negeri, muncul fakta menarik dari sisi internal Israel yang justru menunjukkan ketakutan besar terhadap kehadiran Indonesia.

Anomali di Tel Aviv: TNI sebagai "Kesalahan Strategis"

Meskipun sebagian masyarakat Indonesia skeptis, kelompok sayap kanan di Israel—termasuk faksi dalam koalisi Benjamin Netanyahu—justru mati-matian menolak kehadiran TNI.

Moshe Phillips, pemimpin Americans For A Safe Israel (AFSI), secara tegas menyebut pengiriman pasukan Indonesia sebagai "strategic mistake" (kesalahan strategis) bagi Israel dan mendesak agar pasukan Indonesia "must stay home" (harus tetap di rumah). Penolakan ini muncul karena Indonesia dianggap memiliki agenda politik yang sangat kuat mendukung Palestina.

Mengapa Kehadiran TNI Menjadi Mimpi Buruk Israel?

Analisis strategis menunjukkan bahwa keberadaan 8.000 tentara Indonesia di lapangan adalah penghalang fisik bagi ambisi aneksasi faksi garis keras Israel:

  • Choke Point Strategis: Pasukan Indonesia direncanakan menempati barak di wilayah selatan, antara Rafah dan Khan Younis. Posisi ini secara taktis memutus rantai kontrol militer Israel (IDF) dan mencegah manuver pengusiran penduduk Gaza.

  • Penjaga Kedaulatan: Kehadiran fisik TNI menjadi penanda batas wilayah yang secara de facto mengakui bahwa Gaza adalah milik rakyat Palestina, bukan tanah tak bertuan (terra nullius) yang bisa dicaplok.

  • Saksi Mata Internasional: Dengan adanya TNI, faksi kanan Israel tidak bisa lagi melakukan operasi "pembersihan" atau pemukiman kembali tanpa adanya pengawasan internasional yang independen.

Peta Politik di Board of Peace

Situasi semakin krusial setelah Israel dikabarkan resmi bergabung ke dalam Board of Peace pada 11 Februari 2026. Bergabungnya Israel berarti mereka kini memiliki suara dalam menentukan masa depan rekonstruksi Gaza.

Jika Indonesia memilih mundur karena alasan idealisme atau ketakutan, kita justru membiarkan kursi penyeimbang itu kosong. Di dalam dewan tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk membentuk "kaukus penyeimbang" bersama negara-negara seperti Pakistan, Uzbekistan, dan Kazakhstan guna memveto agenda aneksasi yang mungkin diselundupkan oleh faksi Zionis kanan.

Kesimpulan: Persimpangan Sejarah

Mundur dari panggung Gaza saat ini justru bisa menjadi "hadiah" bagi faksi sayap kanan Israel yang ingin mengisolasi wilayah tersebut. Langkah menempatkan boots on the ground (pasukan di lapangan) memang memiliki risiko tinggi, namun ini adalah pengakuan atas legitimasi moral dan kekuatan militer Indonesia di dunia Islam.

Jangan sampai sejarah mencatat bahwa Indonesia gagal melindungi Palestina di momen paling kritis hanya karena keraguan kita sendiri.


Referensi: Fahmi, K. (2026). Pasukan Perdamaian Indonesia Masuk Gaza: Mimpi Buruk Israel?. Diakses dari https://indonesiadefense.com/pasukan-perdamaian-indonesia-masuk-gaza-mimpi-buruk-israel/

Tanggal Akses: 16 Februari 2026

Dilema Pasukan TNI ke Gaza: Mengapa Sayap Kanan Israel Justru Merasa Terancam? Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment