15 February 2026

Kiai Ma’ruf Amin: Pola Pikir Mbah Wahab Chasbullah Relevan untuk Abad Kedua NU

 


Jakarta – Musytasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ma'ruf Amin menegaskan bahwa pola pikir yang dirintis pendiri NU, KH Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), sangat relevan untuk dijadikan rujukan dalam menapaki abad kedua Nahdlatul Ulama.

Pernyataan tersebut disampaikan Kiai Ma’ruf saat membuka acara bedah buku tentang KH Wahab Chasbullah di Gedung Kementerian Haji dan Umrah RI, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026).

"Bagaimana mengaktualkan kembali cara berpikir ini untuk kebangkitan Tanah Air, hifdzul wathan, kifayatul wathan, agar mampu meredam propaganda yang dapat merusak bangsa ini, baik dari dalam maupun luar. Itulah semangat imaratul wathan atau memakmurkan negeri,” kata Kiai Ma'ruf.

Menurutnya, pemikiran Mbah Wahab perlu dihidupkan kembali guna menjaga paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di tengah tantangan zaman. Ia menilai tantangan tersebut bukan hanya berupa tekstualisme, liberalisme, rasionalisme, atau radikalisme, tetapi juga berbagai arus pemikiran global yang dapat memengaruhi kehidupan berbangsa.

"Oleh karena itu, semangat yang dirintis Mbah Wahab harus kita rumuskan kembali sesuai tantangan yang kita hadapi di abad kedua NU,” ujarnya.

Kiai Ma’ruf juga mengapresiasi buku tentang Mbah Wahab yang ditulis Abdul Mun’im DZ. Menurutnya, buku tersebut menjadi inspirasi untuk melahirkan kembali semangat dan pemikiran seperti KH Wahab Chasbullah di era sekarang.

"Ini buku yang luar biasa dan sangat menginspirasi kita semua untuk melahirkan kembali Wahab Chasbullah abad kedua NU," katanya.

Di mata Kiai Ma’ruf, Mbah Wahab merupakan sosok visioner dan responsif terhadap dinamika sosial-politik pada masanya. Salah satu gagasan pentingnya adalah membentuk Taswirul Afkar, forum diskusi ulama untuk memperluas wawasan keislaman dan kebangsaan.

"Itu sesuatu yang luar biasa, membuat forum ulama untuk berdiskusi tentang keadaan, memperluas cakrawala pandangan terhadap berbagai pemikiran, untuk kemudian direspons. Dari diskusi itulah lahir Nahdlatul Wathan,” jelasnya.

Selain itu, Mbah Wahab juga menggagas kemandirian ekonomi melalui pendirian Nahdlatut Tujjar, sebagai wadah usaha bagi warga Nahdliyin. Menurut Kiai Ma’ruf, langkah tersebut menunjukkan bahwa perjuangan organisasi memerlukan fondasi ekonomi yang kuat.

"Ini pemikiran yang luar biasa menurut saya,” tegas Kiai Ma'ruf.

Sementara itu, putri Kiai Wahab, Nyai Hj Hizbiyah Rochim, menilai buku tersebut bukan sekadar biografi, melainkan upaya menghidupkan kembali jejak pemikiran yang tetap relevan dalam konteks kekinian.

"Buku ini merupakan upaya penting bahwa beragama harus selaras dengan mencintai Tanah Air, hubbul wathan minal iman," katanya.

Ia menambahkan bahwa generasi muda perlu memahami bagaimana Kiai Wahab mengelola perbedaan melalui dialog, sembari tetap teguh pada prinsip Aswaja.

"Beliau (Mbah Wahab) membuktikan bahwa menjadi muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis bukanlah dua hal yang bertentangan,” tandasnya.

Melalui refleksi atas pemikiran Mbah Wahab, para tokoh berharap warga NU mampu memperkuat konsolidasi, menjaga moderasi, dan terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa pada abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama.


Referensi

NU Online.
“Kiai Ma'ruf Amin: Pola Pikir Mbah Wahab Chasbullah Relevan untuk Abad Kedua NU.”
Alamat: https://nu.or.id/nasional/kiai-ma-ruf-amin-pola-pikir-mbah-wahab-chasbullah-relevan-untuk-abad-kedua-nu-nVPYT

📅 Tanggal akses: 14 Februari 2026

Kiai Ma’ruf Amin: Pola Pikir Mbah Wahab Chasbullah Relevan untuk Abad Kedua NU Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment