12 January 2026

Literasi Keuangan Sejak Dini: Strategi Keluarga Menghadapi Tekanan Ekonomi Masa Depan

 


JAKARTA – Tekanan ekonomi tidak hanya berdampak pada stabilitas dapur rumah tangga, tetapi juga berpengaruh besar pada pola asuh dan kondisi psikologis anak. Di tengah tantangan finansial, mengajarkan anak mengelola uang sejak dini menjadi bekal krusial agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan bijak dalam mengambil keputusan ekonomi.

Fondasi Ekonomi: Memahami Kelangkaan

Menurut pengamat ekonomi, Kholid Irfani, konsep dasar yang paling penting dikenalkan kepada anak adalah kelangkaan (scarcity). Dari pemahaman ini, anak akan belajar mengenai biaya peluang (opportunity cost), yaitu kesadaran bahwa memilih satu hal berarti harus mengorbankan hal lainnya.

Memahami bahwa memilih satu hal berarti mengorbankan hal lain merupakan fondasi pengambilan keputusan ekonomi yang rasional,” ujar Irfani.

Beberapa nilai penting yang tumbuh melalui literasi keuangan dini meliputi:

  • Menunda Kesenangan: Kemampuan untuk tidak menghabiskan uang secara instan demi tujuan yang lebih besar.

  • Kebutuhan vs Keinginan: Belajar memprioritaskan apa yang benar-benar diperlukan.

  • Etika Finansial: Memahami cara memperoleh penghasilan dengan cara yang baik.

Membentuk Karakter Finansial Melalui Kebiasaan

Menabung bukan sekadar menyimpan uang, tetapi juga melatih otak anak untuk beradaptasi dan mengatur diri. Secara ekonometrik, individu dengan literasi keuangan yang baik cenderung memiliki kekayaan bersih (net worth) yang lebih tinggi karena memahami konsep bunga majemuk serta lebih adaptif terhadap guncangan ekonomi.

Namun, Irfani mengingatkan tantangan inflasi yang dapat menggerus nilai riil uang di celengan. Sebagai tahap lanjut, keluarga dapat mulai mengenalkan instrumen investasi yang imbal hasilnya di atas inflasi, seperti emas, reksa dana, atau surat utang negara.

Membawa Literasi Kembali ke Rumah

Aris Munandar dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menekankan bahwa literasi finansial harus dimulai dari rumah. Ia mencontohkan filosofi rik-rik gemi dalam budaya Sunda, yang berarti hidup hemat dan cermat dalam mengelola keuangan.

Meskipun tantangan seperti keterbatasan waktu orang tua dan kondisi ekonomi sulit sering menjadi hambatan, Aris menyarankan beberapa langkah sederhana:

  1. Mengatur Uang Jajan: Melatih anak mengelola uang jajan harian, mingguan, hingga bulanan.

  2. Menyusun Daftar Kebutuhan: Mengajak anak berdiskusi mengenai prioritas pengeluaran sebelum membeli sesuatu.

  3. Skala Prioritas: Saat ekonomi sulit, ajarkan anak bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi.

Dampak Jangka Panjang

Anak-anak yang tumbuh tanpa literasi keuangan yang memadai berisiko terjebak dalam utang konsumtif, jeratan pinjaman online ilegal, hingga mengalami kecemasan finansial kronis saat dewasa. Sebaliknya, pengenalan literasi keuangan secara kreatif akan menyiapkan mereka menghadapi tantangan ekonomi global dengan lebih siap dan mandiri.


Referensi: NU Online. (2026, 12 Januari). Ajarkan Anak Mengelola Uang Sejak Dini, Cara Keluarga Hadapi Tekanan Ekonomi. Diakses dari https://nu.or.id/nasional/ajarkan-anak-mengelola-uang-sejak-dini-cara-keluarga-hadapi-tekanan-ekonomi-HnclW

Tanggal Akses: 12 Januari 2026

Literasi Keuangan Sejak Dini: Strategi Keluarga Menghadapi Tekanan Ekonomi Masa Depan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Muhammad Sirojudin

0 komentar:

Post a Comment