BANGKALAN – Nusantara memiliki deretan ulama besar, namun nama Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan menempati posisi yang sangat istimewa sebagai "Syaikh al-Jawiyyin" atau mahaguru para ulama Jawa. Lahir pada 25 Mei 1835 M di Bangkalan, Madura, beliau merupakan putra dari KH Abdul Latif dan Nyai Siti Khadijah dengan garis nasab yang tersambung hingga Sunan Gunung Jati dan Rasulullah SAW.
Haus Ilmu Sejak Usia Belia
Kecerdasan Syaikhona Kholil sudah menonjol sejak kecil di bawah bimbingan ayahnya. Beliau tercatat telah menghafal seribu bait Nadzam Alfiyah Ibnu Malik serta menguasai ilmu nahwu, sharaf, dan fikih di usia yang sangat muda.
Perjalanan intelektualnya terbagi menjadi dua fase besar:
Fase Nusantara: Beliau menimba ilmu di berbagai pesantren tradisional di Madura dan Jawa.
Fase Makkah: Di Tanah Suci, beliau mendalami ilmu agama kepada para masyayikh terkemuka. Untuk bertahan hidup di Makkah, beliau bahkan menyalin kitab Alfiyah guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pusat Peradaban Islam di Bangkalan
Sekembalinya dari Makkah pada tahun 1863 M, beliau mendirikan pesantren di Jengkebuan, Bangkalan, sebelum akhirnya pindah ke Desa Kademangan (Demangan). Di sana, beliau membangun masjid dan majelis yang menjadi magnet bagi santri dari seluruh pelosok daerah.
Pengaruhnya sangat masif; diperkirakan sekitar 500.000 santri pernah belajar kepadanya. Dari rahim pendidikannya, lahir lebih dari 3.000 tokoh kiai dan pendiri pesantren besar, termasuk para pahlawan nasional dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU).
Inspirator Kelahiran Nahdlatul Ulama
Peran Syaikhona Kholil yang paling vital dalam sejarah bangsa adalah menjadi inspirator utama berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Meski wafat setahun sebelum NU diresmikan pada 1926, restu dan pondasi pemikirannya menjadi dasar bagi KH M Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah untuk bergerak.
Sekitar tahun 1920, sebanyak 66 ulama Nusantara berkumpul di Bangkalan untuk meminta petunjuk beliau terkait dinamika keagamaan saat itu. Restu dari Syaikhona Kholil inilah yang menjadi kekuatan lahirnya NU sebagai benteng ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Nusantara.
Warisan Karya Ilmiah
Sebagai penulis produktif, Syaikhona Kholil meninggalkan beberapa kitab yang hingga kini masih dikaji di pesantren, antara lain:
Al-Matnu as-Syarif: Kitab fikih ibadah yang dicetak di Mesir.
As-Silah fi Bayan an-Nikah: Panduan hukum pernikahan.
Ratib Syaikhona Kholil: Kumpulan wirid dan doa.
Isti’dad al-Maut: Pembahasan mengenai persiapan menghadapi kematian.
Wafatnya Sang Pahlawan Nasional
Syaikhona Muhammad Kholil wafat pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M). Prosesi pemakamannya dihadiri lebih dari 500.000 orang sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi guru agung ini. Atas jasa, ilmu, dan pengaruhnya yang melintasi zaman, beliau sangat layak dihormati sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Referensi:
NU Online Jatim. (n.d.). Biografi dan Jejak Perjuangan Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional. Diakses dari
Tanggal Akses: 5 Januari 2026

0 komentar:
Post a Comment