Pertanyaan
Apakah setiap mukmin itu muslim dan sebaliknya?
Jawaban
Secara syar'i setiap mukmin itu muslim, demikian pula sebaliknya, tetapi kalau dilihat mafhumnya lafal (menurut bahasa) memang tidak sama.
Dasar Pengambilan Hukum
Dalil al-Falihin Syarh Riyadh ash-Shalihin, Dar al-Kitab al-'Arabi, I/268-271:
(أَخْبِرْنِيْ عَنِ اْلإِسْلاَمِ) هُوَ وَاْلإِيْمَانُ لِاعْتِبَارِ التَّلاَزُمِ بَيْنِ مَفْهُوْمِهِمَا شَرْعًا. فَلاَ يُعْتَبَرُ فِي الْخَارِجِ إِيْمَانًا شَرْعًا بِلاَ إِسْلاَمٍ وَلاَ عَكْسُهُ، مُتَّحِدَانِ مَاصَدَقًا فِي الشَّرْعِ مُخْتَلِفَانِ مَفْهُوْمًا. فَكُلُّ مُؤْمِنٍ شَرْعًا مُسْلِمٌ، كَذَلِكَ وَكُلُّ مُسْلِمٍ مُؤْمِنٌ. فَمَادَلَّ عَلَيْهِ حَدِيْثُ جِبْرِيْلَ مِنِ اخْتِلاَفِهِمَا هُوَ بِاعْتِبَارِ الْمَفْهُوْمِ. إِذْ مَفْهُوْمُ اْلإِسْلاَمِ اْلإِنْقِيَادُ بِاْلأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ الشَّرْعِيَّةِ، وَاْلإِيْمَانِ الشَّرْعِيِّ التَّصْدِيْقُ بِالْقَوَاعِدِ الشَّرْعِيَّةِ، عَلَى أَنَّهُ قَدْ يَتَّسِعُ الشَّرْعُ فِيْهِمَا. فَيُسْتَعْمَلُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا فِي مَكَانِ الْآخَرِ، كَإِطْلَاقِ اْلإِيْمَانِ عَلَى اْلأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ فِي حَدِيْثِ: اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ ...
(تَنْبِيْهٌ) اْلإِسْلاَمُ لَهُ فِي الشَّرْعِ إِطْلَاقَاتٌ يُطْلَقُ عَلَى اْلأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ كَمَا فِي هَذَا الْحَدِيْثِ، وَعَلَى اِلسْتِسْلَامِ وَاِلاْنْقِيَادِ. وَالتَّلَازُمُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اْلإِيْمَانِ اِعْتِبَارًا لِمَا صَدَقَ شَرْعًا إِنَّمَا هُوَ بِاعْتِبَارِ الْمَعْنَى اْلأَوَّلِ، وَأَمَّا بِاعْتِبَارِ الْمَعْنَى الثَّانِي، فَاْلإِيْمَانُ يَنْفَكُّ عَنْهُ، إِذْ قَدْ يُوْجَدُ التَّصْدِيْقُ وَاِلسْتِسْلَامُ الْبَاطِنِيُّ بِدُوْنِ اْلأَعْمَالِ الْمَشْرُوْعَةِ. أَمَّا اْلإِسْلاَمُ بِمَعْنَى اْلأَعْمَالِ الْمَشْرُوْعَةِ فَلاَ يُمْكِنُ أَنْ يَنْفَكَّ عَنْهُ اْلإِيْمَانُ لِاشْتِرَاطِهِ لِصِحَّتِهَا، وَهِيَ لَا تُشْتَرَطُ لِصِحَّتِهِ خِلَافًا لِلْمُعْتَزِلَةِ.
(Beritahukan kepada kami tentang Islam), maksudnya iman dan Islam, karena memandang talazum antara pemahaman keduanya secara syara', sehingga dalam kenyataannya tidak ada iman yang dianggap secara syara' tanpa Islam dan tidak juga sebaliknya. Menurut syara' esensi keduanya sama, namun berbeda mafhumnya, sehingga secara syara' setiap mukmin adalah muslim begitu pula sebaliknya. Maka apa yang ditunjukkan oleh hadist Jibril tentang perbedaan antara keduanya adalah melihat mafhumnya, karena pemahaman Islam secara syar'i adalah tunduk dengan amal-amal lahiriyah syar'iyah, sedangkan pemahaman iman secara syar'i ialah membenarkan kaidah-kaidah syari'ah dalam hati, di mana terkadang syara' mempermudah penggunaan kedua kata tersebut. Maka masing-masing digunakan untuk menunjukkan makna selainnya, seperti penggunaan kata iman untuk menunjukkan makna amal-amal lahiriyah dalam lahiriah hadits: "Iman itu lebih dari 70 bab, yang paling ringan adalah menyingkirkan duri dari jalan ..."
(Peringatan) Islam dalam syara' mempunyai dua penggunaan, yaitu digunakan untuk menunjukkan perbuatan lahiriah sebagaimana dalam hadits ini, dan digunakan untuk menunjukkan makna penyerahan diri dan mematuhi. Talazum di antara Islam dan iman karena memandang makna syara'nya, karena mempertimbangkan makna pertamanya. Sedangkan bila mempertimbangkan makna keduanya, maka iman bisa terlepas darinya, karena terkadang ditemukan pembenaran dan penyerahan diri dalam batin tanpa bukti melakukan amal-amal yang disyariatkan. Adapun Islam dengan makna amal-amal yang disyariatkan, maka iman tidak mungkin bisa terlepas darinya, karena merupakan syarat keabsahannya, sedangkan amal-amal lahiriah tidak disyaratkan untuk keabsahan iman, berbeda dengan Mu'tazilah.
Referensi:
PWNU Jawa Timur. (2010). NU Menjawab Problematika Umat: Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur Jilid 1 (1979-2009). Surabaya: LTN NU Jawa Timur. Pembahasan No. 9: "Antara Mukmin dan Muslim" (Keputusan Bahtsul Masail di PP. Salafiyah Sukorejo Situbondo, 2-3 April 1980 M).

0 komentar:
Post a Comment