Mukadimah Menuju Hikmah Ibn ‘Aṭā’illah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah Yang tidak dapat dicapai oleh pandangan mata, namun meliputi seluruh pandangan. Dia Maha Lembut lagi Maha Mengetahui; Mahatinggi dalam keesaan-Nya; Mahasuci dari segala rupa, batas, dan arah; serta Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad bin ‘Abdullah ﷺ, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, yang diutus Allah dengan petunjuk dan agama yang benar untuk menampakkannya di atas seluruh agama. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan meninggalkan umatnya di atas jalan yang lurus dan terang—yang malamnya bagaikan siangnya. Shalawat dan salam juga tercurah kepada keluarga dan para sahabatnya, yang menjadi pelita di tengah kegelapan dan bintang-bintang penunjuk arah di cakrawala kehidupan.
Setelah itu—sebelum segala sesuatu, bersamanya, dan sesudahnya—ilmu tasawuf menempati kedudukan yang tinggi dan agung. Ia adalah ilmu yang paling mulia dalam martabat, paling unggul dalam kebesaran, dan paling bercahaya dalam pengaruhnya. Ia laksana matahari dan bulan purnama, sebab darinya terpancar cahaya-cahaya hakikat, dan kepadanya kembali rahasia-rahasia pengenalan kepada Allah.
Tasawuf bukan cabang ilmu yang berdiri di pinggir syariat. Ia adalah inti syariat itu sendiri, ruh dari seluruh amal, dan sumber kehidupan bagi ibadah. Dari sanalah metode thariqah disusun, dan darinya pula jalan menuju hakikat dibuka. Tidak mengherankan bila para arif menyatakan bahwa tanpa tasawuf, syariat akan kering dari makna, dan amal kehilangan cahaya.
Di tengah zaman yang dihiasi oleh kemegahan materi dan peradaban yang dibangun di atas metode indrawi, masih terdapat—dengan karunia Allah—kelompok manusia yang memelihara fitrah lurusnya. Mereka mencintai kebaikan, menempuh jalan kemanusiaan sejati, dan berusaha membangun kehidupan yang bertumpu pada kejernihan ruh, kesucian hati, kemurnian niat, serta keikhlasan kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
Kelompok inilah yang mengenal dunia ruhani sebagai dunia yang bersumber dari wahyu langit. Dunia ini tidak menafikan kehidupan lahiriah, tetapi mengarahkannya. Ia menuntun individu dan masyarakat untuk menata hidup berdasarkan metode ilahi dan prinsip-prinsip ketuhanan. Dari dunia inilah lahir para sufi, yang menjelma menjadi pelita bagi generasi setelahnya—bukan hanya melalui ucapan, tetapi melalui kehidupan yang dijalani.
Para sufi menapaki jalan yang agung namun sederhana. Mereka tidak mengklaim sesuatu yang luar biasa, tetapi berusaha menjadi pewaris para nabi dalam ilmu, akhlak, dan maqām-maqām spiritual. Jalan ini mudah diucapkan, tetapi berat diamalkan; dekat dalam lafaz, namun jauh dalam realisasi. Meski demikian, merekalah yang menghadirkan pendidikan ilahi dalam bentuk nyata dan menjelmakan petunjuk Rasul ﷺ dalam laku kehidupan.
Di antara tokoh-tokoh besar dalam barisan ini berdiri seorang imam agung, pengenal Allah, dan mahkota para arif: Tajuddin Abu al-Faḍl Ahmad bin Muhammad bin ‘Abd al-Karim bin ‘Aṭā’illah as-Sakandari—semoga Allah meridhainya. Melalui dirinya, Allah melimpahkan manfaat kepada kaum Muslimin, dan menjadikan ilmunya sebagai cahaya yang terus menyala lintas generasi.
Kedudukan tasawuf yang tinggi inilah yang melahirkan karya-karya agung dalam khazanah Islam. Di antara karya tersebut, al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah menempati posisi yang istimewa. Hikmah-hikmahnya bukan sekadar rangkaian kata bijak, melainkan pancaran rahasia ilahi dan limpahan makna rabbani yang mengalir dari hati seorang arif billah.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa al-Ḥikam hampir menyerupai wahyu dalam ketajaman makna dan kedalaman isyarat—bukan karena kesetaraan kedudukan, tetapi karena kejernihan sumber dan kesucian maksud. Setiap hikmahnya membuka tabir kesadaran, menyingkap penyakit jiwa, dan menuntun hati menuju pengenalan yang lebih jujur kepada Allah.
Oleh karena itu, memahami tasawuf bukan sekadar memahami istilah atau konsep. Ia adalah upaya menata hati, meluruskan niat, dan menempatkan syariat pada ruhnya yang sejati. Inilah pintu masuk menuju hikmah-hikmah Ibn ‘Aṭā’illah—pintu yang hanya dapat dilalui oleh hati yang bersedia tunduk, jujur, dan mencari.

0 komentar:
Post a Comment